Surga Yang Berbeda

Surga Yang Berbeda
Berkecamuk


__ADS_3

Sayup-sayup Angga mendengar suara kumandang adzan Subuh. Ia langsung membuka matanya yang masih lengket untuk dibuka karena ia hanya tidur satu jam setelah melakukan sholat lail. Direngangkan otot tubuhnya yang kaku karena tertidur di kursi. Diliriknya Celin yang bisa tertidur dengan nyenyak.


Ia mendekat ke arah brankar Celin bermaksud membangunkannya melakukan kewajiban seorang muslim sebelum matahari datang.


"Celin," tegur Angga. Tapi Celin tidak bergeming, tentu kondisi normal seperti ini, Angga tidak bisa menyentuh Celin dengan sengaja.


Sungguh kepala seorang laki-laki ditusuk jarum dari besi itu lebih baik daripada menyentuh perempuan yang bukan mahramnya. Dalil yang selalu diingat Angga.


"Celin," tegur Angga sekali lagi, jika gadis muda itu tak bangun juga. Ia akan memanggil perawat.


"Pak Angga," serunya dengan suara serak.


"Celin, sudah waktunya sholat subuh, nanti saya akan minta perawat untuk membantu kamu berwudhu. Jika belum kuat ke kamar mandi kamu bisa tayamum," seru Angga.


"Bisa Pak, bapak tidak perlu khawatir."


"Saya pergi ke masjid dulu, sebentar lagi sudah iqomah." Celine mengangguk.


Angga pun pergi meninggalkan klinik desa untuk pergi ke masjid yang tak jauh sana.


Sungguh pemandangan yang tak biasa ketika ia memasuki masjid usai mengambil air wudhu. Jamaah sholat subuh menatapnya dengan tatapan tak suka, sepeti ingin mengusir tapi itu tak mungkin. Siapa yang akan melarang seseorang menjalankan kewajibannya.


Angga tetap menegur sapa dengan baik meskipun ia sangat tahu warga tidak nyaman dengan kehadirannya. Sholat subuh berjamaah di masjid berjalan kusyu'.


"Pak Angga," tegur seorang pria usia Angga menadahkan tangan untuk berdoa.

__ADS_1


"Pak Surya," Angga menyalami seseorang yang ia tahu adalah tokoh Agama di kampung ini. Bapak umur lima puluhan tahun itu ikut duduk bersila di hadapan Angga.


"Pak Angga maafkan warga kampung yang bersikap berbeda dengan Pak Angga karena ke jadian semalam," ucap lirih pria berumur itu.


"Saya mengerti Pak, mereka hanya terhasut dengan apa yang mereka lihat tanpa tahu kebenarannya."


"Pak Angga tahu sendiri, kampung ini masih menjunjung tinggi kesopanan, adat dan agama. Apa yang mereka lihat itulah yang mereka yakini," jelas Pak Surya.


Angga mengangguk membenarkan ucapan Pak Surya, kampung yang berada di wilayah komplek Wilson palm memang sangat menjunjung tinggi adat, norma dan Agama. Warganya juga sangat ramah, itu sebabnya selama ini jarang ada masalah antara kantor dan perkampungan. Meskipun tanah sebagian warga banyak yang diambil alih untuk di kelola Wilson Palm.


"Terlebih selama ini Pak Angga orang yang mereka kagumi karena kerendahan hati Pak Angga. Wajar mereka marah, jika orang yang mereka anggap baik ternyata berkelakuan sebaliknya. Meskipun itu belum terbukti kebenaran," sambung Pak Surya.


"Mereka hanya salah paham Pak Surya, ini fitnah! Saya justru ingin menolong Celin, tapi ...." Angga maraup wajahnya frustasi.


"Saya benar-benar binggung Pak Surya, kenapa saya diberi ujian seperti ini. Disisi lain warga sudah terhasut oleh fitnah, disisi lain lagi Celin begitu berharap pada saya karena rasa traumanya." Angga menunduk lesu, untungnya masih ada Pak Surya orang bisa di ajak bicara mendengar keluhnya bukan menghakimi.


"Pak Angga, menurut saya. Jalan satu-satunya untuk membuat semuanya tenang. Pak Angga harus menikahi gadis itu, Celin."


Angga menyisir rambutnya ke belakang dengan tangan untuk meredakan kepalanya yang rasanya ingin pecah.


Kenapa semua orang begitu menggampangkan masalah poligami! Jika mereka tahu apa ancaman di akhirat jika tak bisa berbuat adil pada salah satu istri.


Jika memang Qodarullah itu terjadi. Ia tak yakin akan sanggup membagi dengan adil antara Renata dan Celin. Ia sangat mencintai Renata istrinya saat ini. Sanggupkah ia membagi hatinya untuk istri barunya.


Bagaimana dengan Renata istri tercintanya yang mendampingi sampai saat ini? Relakah ia berbagi suami dengan wanita lain? Hati Angga sungguh berkecamuk. Membayangkan saja hati Angga sudah ngilu.

__ADS_1


"Saya tidak tahu Pak Surya. Saya harus berbicara dengan istri saya meskipun saya berhak mengambil keputusan sendiri."


"Saya mengerti Pak Angga."


"Saya hanya akan menikah lagi dengan ijin dan keridhoan dari istri saya."


"Tenang Pak Angga. Pak Angga pikirkan dengan baik. Mari kita pulang, pagi ini kita akan ke balai desa." Pak Surya berdiri, menepuk pundak Angga agar ikut berdiri bersamanya.


Keduanya pun melangkah keluar meninggalkan tempat ibadah ini.


.


.


.


.


Bersambung...


πŸ€ Terimakasih yang jantung, paru-paru, ginjal dan usus bunda masih aman untuk baca sampai part ini😘. Biasakan gerakkan jempol untuk Like ya dear, Komen juga untuk kasih Kritik, saran, ocehan atau spam juga Gpp 😁 biar kenceng upnya. Ei lebih seneng lagi kalau sekalian kasih gift, hadiah, Vote😁.


πŸ€ Lope - Lope selalu sekebon sawit 😘


Einaz

__ADS_1


__ADS_2