Surga Yang Berbeda

Surga Yang Berbeda
Hadiah Seseorang


__ADS_3

Angga menenangkan kepalanya di sandaran tempat tidur. Ia sungguh lelah! Lelah dengan keadaan yang ada! Kepala rasanya ingin pecah setiap memikirkan masalah yang sama setiap waktu.


Ia tak jauh beda dengan memakan buah simalakama, selalu mengobral sikap manis pada istrinya meskipun tak ingin, lalu menyiapkan penjelasan yang tepat untuk istrinya yang lain.


Suara handle pintu mulai terbuka, nampak Rena dengan wajah kesal mendatangi suaminya.


Angga tentu tahu kenapa istrinya seperti itu, pria itu langsung merengkuh tubuh istrinya dalam pelukannya.


"Maaf," satu kata yang selalu ia dengungkannya semenjak beristri dua.


"Udahlah Mas, Rena tahu Mas nggak tega lihat ibu dari anak Mas nangis." Rena mencoba memahami karena itulah yang ia lihat. Sikap Celin menurut Rena terlalu lebay, sedangkan suaminya memang sejak dulu bersikap seperti itu. Suaminya paling tak tega melihat orang dekatnya menangis.


"Terima kasih Dek, Mas hanya nggak mau anak kita kenapa-kenapa karena Celin yang mudah terguncang hatinya hanya Karena hal kecil."


"Tapi menurut Rena memang Celin terlalu lebay sih Mas."


"Kenapa juga Ade suruh dia masuk kesini? Mas cukup berdua dengan Adek pasti bisa cepat sembuh."


Rena mendongak bangkit dari pelukan suaminya. "Dia kan tamu kita Mas, apalagi itu istrinya Mas juga. Rena kan nggak mau di bilang madu yang jahat tak memberi ijin istri yang hamil menemui suami sendiri," ucap Rena mendengus melipat tangannya ke depan.


Angga mengacak kepala istrinya. "Masyaallah. Ya maaf-maaf. Istri Mas memang the best. Mas makin cinta kalau begini," ucapnya sambil mengecup pipi istrinya.


"Kemarin yang terakhir orang lain masuk kamar kita, besok-besok Rena nggak mau lagi siapapun masuk kamar kita. Termasuk istri Mas. Apalagi lihat Mas pegang-pegangan tangan seperti tadi."


"Iya iya, Mas janji ibu Negara," canda Angga.


Celin masih memegang paket berwarna ungu ditangannya. Ia memutar-mutar kotak itu, gadis itu jadi penasaran dengan isinya. Tapi sudahlah ia tak boleh sibuk dengan urusan kakak madunya.


"Mbak tehnya." Mbak Marni menyerahkan secangkir teh untuk Celin.


"Makasih Bi," seru gadis itu langsung ingin meneguk isi cangkir itu.


"Bi Marni tunggu," wanita hamil itu menyerahkan kotak ungu pada asisten rumah tangganya itu. "Bisa tolong kasihkan paket ini untuk Kak Rena, kemarin Tono salah kasih."


Mbak Marni menunjukkan wajah kaget.


"Paket untuk ibu?" tanya Marni. Celin mengangguk.


"Tumben! Ibu jarang sekali kirim paket ke rumah? Bahkan nggak pernah," seru wanita matang itu.

__ADS_1


"Yang kirim paket rekan bisnisnya Mas Angga, Aku tahu orangnya. Tapi nggak tahu kenapa di tujukan sama Kak Rena. Kotaknya aja warna ungu nggak mungkin juga untuk Mas Angga," seru Wanita cantik itu.


"Lah ini kenapa temennya bapak kok kirim paketnya ke ibu?" ujar Marni. Celin mengangkat pundak.


"Mungkin hadiah dari rekan bisnis untuk para istri. Ya pasti Kak Rena yang dapat. Aku kan masih istri yang kasat mata."


"Tapi aneh saja Mbak, Setahu Marni Ibu jarang kenal teman rekan bisnis bapak. Bapak kan sangat menjaga ibu dari laki-laki yang bukan muhrimnya. Paling-paling kalau suruh pergi ke pengajian kajian-kajian itu."


"Entahlah Bi, aku nggak boleh seudzon sama Kak Rena. Nanti malah jadi berita panas yang berujung jadi fitnah."


"Kali aja ibu lagi tekanan batin Mbak, soalnya tetangga dikampung ada yang seperti itu. Karena suaminya lebih sayang sama istri muda yang lagi hamil. Istri pertamanya cari teman lain untuk sandaran."


"Bi Marni jangan berburuk sangka ih. Celin yakin kalau kak Rena orangnya baik. Kak Rena sosok istri yang pantas jadi panutan untuk wanita, termasuk aku."


"Siapa berburuk sangka Mbak Cel, orang Marni cuma cerita tetangga Marni di kampung. siapa tahu saja masalahnya sama."


"Ya Bi Marni, jangan lupa nanti Bi Marni kasih


Kak Rena." Celin mencoba mengingatkan.


Celin memikirkan perkataan Mbak Marni setelah wanita dewasa itu pergi. Sebagian perkataan ARTnya itu mungkin ada benarnya.


Ia boleh dong berspekulasi dengan kenyataan yang ada?


Tak lama, Wanita bermata hazele itu pun mengelengkan kepalanya. Ia tak ingin berprasangka buruk hanya karena paket pada wanita baik seperti Kakak madunya.


"Kemarin Tono salah antar paket Bu," ucap Mbak Marni.


Rena mengeryitkan dahinya binggung, seingatnya ia tak memesan apapun.


"Makasih Mbak Marni," Rena menerima saja kotak itu. Art itu pun berpamitan pergi setelah menjalankan tugasnya.


Rena membolak-balik kota itu untuk mengetahui nama pengirimnya.


Farhan?


Kenapa Farhan mengirim paket tanpa memberitahunya. Apa ini ada hubungannya dengan acara Reuni kita?


"De, kenapa melamun?" tanya Angga membangunkan lamunan istrinya.

__ADS_1


"Nggak apa-apa Mas," jawab Rena.


"Itu apa?" tanya Angga menunjuk kotak ungu seukuran sepatu yang dibawa Renata.


"Oh ini, paket Rena," jawab Rena.


"Oh ... temani Mas sarapan," jawab Angga karena merasa tak terlalu penting menanyakan perihal paket itu, dirinya lapar.


"Mas udah enakan mau makan di bawah?"


"Alhamdulillah, baikan. Mas juga harus selesaikan berkas - berkas dari kantor."


"Mas turun saja dulu. Rena taruh ini di kamar dulu," seru Rena menunjukkan kotak ungu itu.


Beberapa menit menghabiskan waktu sarapan dengan suaminya, Rena kembali ke kamar karena suaminya yang ingin fokus mengerjakan file dari kantor yang sempat tertunda karena tak hadir beberapa hari ke kantor.


Wanita itu segera membuka paket yang diberikan asisten Rumah tangga madunya. Ia sungguh penasaran apa isi paket pemberian Farhan yang sudah repot-repot ia kirim.


Rena mengangkat baju kemeja abu bercampur ungu dengan logo organisasi semasa kuliahnya. Rena jadi tersenyum memegangi baju itu karena mengingatkam kenangannya masa kuliah. Meskipun kala itu ia ikut organisasi untuk bertahan hidup. Tapi sungguh setelah masuk ke organisasi, Rena banyak juga mendapatkan pelajaran hidup yang bisa ia tangkap selain nasi kotakan. Rena meraih ponselnya. Belum sempat ia membalas pesan mengucapakan terima kasih. Seseorang di ujung sana sudah mengirimnya pesan.


Udah datang belum seragam kebanggaan kita dulu.


^^^Udah. Terima kasih ya. Btw dalam rangka apakah ini?^^^


Rena pun tak menunggu lama untuk mendapat balasan.


Nanti untuk acara baksos akan kita pakai, sambil nostalgia.


^^^Oh Oke^^^


Sampai ketemu lagi Ren, senang bisa ketemu kamu lagi...


Bukan Rena merasa ge-er. Nada pesan yang di kirim temanya itu kenapa terasa ganjil untuk seseorang Rena yang sudah bersuami.


^^^Sampai ketemu lagi, dengan teman yang lain juga pastinya.^^^


Bersambung .....


Makasih reader terloph masih stay dengan cerita Ei, Ei akan usahakan up tiap hari biar cerita ini cepat tamat.

__ADS_1


jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘😘😘


__ADS_2