Surga Yang Berbeda

Surga Yang Berbeda
Epilog


__ADS_3

Sudah tak terhitung berapa bulan waktu berjalan. Shafi berubah jadi bayi yang sangat aktif, kakinya sudah bisa mulai melangkah meskipun sesekali harus berpeganngan dengan benda di sekitarnya. Kadang Rena juga pusing harus mengikuti anaknya itu kesana – kemari mendatangi benda yang manarik perhatianya. Shafi mulai bisa berjalan dan berbicara secara bersamaan.


Meskipun Shafi lahir secara prematur tapi gadis mungil itu bisa mengikuti perkembangan anak seusianya. Tentu saja hal itu tak luput dari peran Rena yang berusaha mengoptimalkan tumbuh kembang Shafi. Wanita itu tak pernah absen berkonsultasi dengan berbagai dokter. Mulai dari dokter ahli gizi , dokter anak, terutama dokter tumbuh kembang anak.


Rena anggap ini pembelajaran kelak, jika ia bisa diberi amanah mengandung di rahimnya sendiri. Tak tanggung-tanggung Rena juga lebih banyak menyerahkan urusan toko rotinya pada Siska. Shafi adalah prioritas utamanya saat ini.


“Bun … bu,”


Seperti sekarang, Shafi sudah bisa memanggil bundanya meskipun dengan celoteh khas bayi satu tahun.


“Sini- sini bunda tangkap,” seru Rena menegadahkan tangan bersiap akan menerima bola dari anaknya.


Alih-alih melempar bola, gadis gembul itu malah terjatuh terikut dengan bola yang terlempar.


“Sayang bunda pintar kok,” Rena mengusap lutut si kecil itu yang otamatis mengeluarkan tangis keras karena terjatuh.


“Yah, yah,” Tangis anak imut itu terhenti ketika melihat pria yang berdiri di belakang bundanya.


“Anak ayah kenapa?” tanya Angga menunduk sejajar dengan Rena.


Shafi langsung berhambur memeluk ayahnya meminta gendong. Bocah imut itu langsung meringsuk digendongan sang ayah sambil mempraktekan apa yang baru saja terjadi padanya.


“Kayaknya Shafi mulai capek. Dari tadi muter-muter terus,” keluh Rena pada suamianya yang baru pulang berkerja itu.


Angga menimang Shafi dalam gendongannya. Tangannya mengusap punggung anak manis itu hingga tak terdengar lagi gerakan. Angga memang sangat mahir dalam menidurkan Shafi, Rena mengakui keahlian suaminya masalah itu. Benar saja, hanya hitungan menit Shafi sudah terlelap dalam pelukan sang ayah.


Angga dan Rena menuju kamar untuk meletakkan Shafi yang pergi ke alam mimpi itu. Diusapannya pelan kepala anak yang terlelap merangkul guling motif kuda poni.


Angga sepertinya harus memperkerjakan babysister untuk membantu menjaga Shafi. Pria itu melihat wajah istrinya yang pucat beberapa hari terakhir ketika ia pulang kerja. Rena mungkin kelelahan sendirian merawat Shafi yang mulai aktif.


“De, sakit?” tanya Angga mengenggam tangan Rena.


“Kurang enak badan saja Mas, beberapa hari terakhir badan Rena pegal semua. Rena kayaknya butuh ke massange,” ucap Rena.


“De, kalau kurang sehat itu ke dokter, bukannya malah ke salon,” balas Angga.


Wajah Rena langsung mengerucut. “Jadi Rena nggak boleh ke salon gitu untuk me time!” sembur Rena.


Angga mengeryitkan dahi. Apa ada yang salah dengan perkataannya untuk menyuruh istinya ke dokter.


"Yang nggak bolehin Adek ke salon siapa? Mas hanya suruh ke dokter kalau kurang sehat," bela Angga.


"Tahu ah, Rena mau temani Shafi tidur!" Rena langsung meninggalkan Angga mengambil tempat di sebelah Shafi.


Angga hanya menggeleng kepala binggung. Kenapa istrinya itu jadi gampang ngambek karena ucapannya yang sepele.


Angga mendekat ke arah Rena. Diciumnya pipi kanan sang istri yang sudah memejamkan itu.


"Ih, Mas! Kepala Rena mendadak pusing cium bau Mas. Sana mandi dulu!" Rena refleks membuka mata dan mendorong dada suaminya.


Angga mengeryit dahi lagi, menciumi lengannya yang masih sangat harum dengan aroma maskulin parfumnya. Ia berkerja berjam-jam di ruang ber-AC. Mana mungkin ia berkeringat yang menimbulkan bau badan. Beda lagi Ketika ia berjam-jam di ruang gym yang bisa memproduksi keringat.


Angga pun tak mau ambil pusing yang bisa memicu perdebatan dengan istrinya yang mungkin sedang PMS. Ia memilih untuk pergi ke kamar mandi membersihkan diri.


.


.


.


.

__ADS_1


Tangan kanan Angga memijat tengkuk leher istrinya di atas closet. Sementara tangan kirinya mengendong Shafi yang terbangun karena suara muntahan bundanya yang nyaring.


Rena bangkit setelah lemas mengeluarkan semua isi perutnya.


"Ini minum dulu De," Angga menyodorkan air panas yang ia ambil dari dispenser setelah keduanya kembali ke kamar.


Rena menerima gelas itu untuk mengisi kekuatan tubuhnya yang terkuras.


"Besok pagi kita ke dokter ya," seru Angga panik.


"Paling cuma masuk angin biasa, nggak perlu ada yang dicemaskan," balas Rena.


"Nggak De. Besok kita ke dokter. Adek sakit." Angga menyentuh dahi dan pipi istrinya yang terasa sedikit hangat.


"Ya, kalau Mas maksa."


Shafi berontak turun dari gendongan ayahnya. Anak kecil yang tak mengerti apa-apa itu langsung tidur di pangkuan bundanya yang lemah. Anak kecil itu mengelus perut Rena.


"Bu ... de ...de," ucap gadis itu terbata.


Rena hanya tersenyum menanggapi Shafi. Ketika itu Shafi begitu senang dengan perut buncit sepupunya yang hamil. Semenjak saat itu Shafi suka sekali mengelus perut Rena dan memanggil Dede. Rena kadang mengiyakan dan mengaminkan ucapan Shafi, biasanya doa anak kecil selalu mustajab. Semoga cepat di dengar oleh Allah.


Mengingat itu, Rena baru tersadar kalau sudah terlambat datang bulan untuk bulan ini. Memang itu hal biasa telat beberapa bulan, Rena tak ingin berharap lebih. Tapi apa salahnya ia mencoba ke dokter.


"Shafi sama ayah dulu, bunda mau bobo." Angga langsung mengendong Shafi untuk menidurkannya kembali agar tak menganggu Rena.


.


.


.


.


.


Rena sudah terlalu sering melakukan testpack. Hasilnya pun selalu sama! Apalagi sekarang, semenjak suaminya menikah lagi kala itu dan mulai hadirnya Shafi. Ia dan suami sudah jarang datang ke dokter kandungan untuk memulai lagi program kehamilan.


Rena melihat hasil benda pipih yang ada di genggamannya. Mata langsung membulat ketika mendapati dua garis merah pada alat itu. Untuk pertama kalinya setelah sekian banyak benda pipih itu ia gunakan selama hampir 6 tahun. Apa ini benar! Rena seperti mimpi! Tangan sampai gemetar memegangi benda itu. Ia segera keluar dari toilet untuk menemui dokter klinik.


"Sudah saya duga Bu," jawab dokter itu. "Saya akan langsung arahkan ke dokter kandungan untuk pemeriksaan penunjang," dokter memberikan sebuah kertas pada Rena.


"Terima kasih dokter," Rena segera keluar tak sabar ingin memberitahu kabar gembira ini kepada suaminya yang berada di luar menenangkan Shafi.


"Mas!" panggil Rena pada suaminya. Suaminya langsung mendekat bersama Shafi dalam gendongannya.


"Gimana Dek?" tanya Angga penasaran.


"Ini Mas!" Rena menunjukkan dengan semangat hasil pemeriksaan testpack.


Sejenak Angga terperangah. "Ini seirus De!"


Rena mengangguk semangat.


"Nggak bercanda?" seru Angga lagi memastikan. Rena mengelengkan kepala cepat.


"Alhamdulillah De," Angga langsung memeluk Rena tanpa memperdulikan lingkungan sekitar. Untungnya klinik ini sepi.


"Shafi akan punya adik?" Angga melepaskan pelukannya melihat wajah istrinya.


"Iya Mas," jawab Rena melihat mata suami yang berkaca-kaca seperti dirinya.

__ADS_1


Keduanya kini segera menemui dokter kandungan. Rasa bahagia semakin memenuhi hati keduanya tak kala mendengar detak jantung bayi yang kini berusia 6 Minggu.


"Akhirnya setelah penantian lama kamu datang Nak, kamu hadir di tubuh Bunda yang sangat merindukanmu," seru Angga mengelus perut Rena merasakan Kebahagiaan yang tidak bisa ungkapkan.


"Alhamdulillah Mas, Rena nggak pernah merasa sebahagia ini."


Rena sangat yakin, Allah sudah mengatur rejeki masing-masing untuk hambanya. Rena juga yakin yang Maha Kuasa sudah mengatur waktu, kapan hal ini akan datang pada dirinya. Meskipun waktunya disaat badai telah usai.


Itulah rahasia Ilahi yang tak pernah di sangka. Tanpa program semuanya terencana sesuai kehendakNya.


Rena akhirnya bisa merasakan yang namanya mual, ngidam, dan hal lain yang sering ia dengar dari kerabat maupun temannya. Enam tahun penantiannya terjawab sudah hari ini.


"Kita pulang sekarang, bunda harus banyak istirahat sesuai perintah dokter," Angga mulai menjalankan mesin mobil.


"Shafi mau punya adek," Rena memeluk gemas anak di pangkuannya.


Lengkap sudah kebahagianya kini. Pada dasarnya kesabaran seseorang akan selalu berbuah manis. Tuhan tak pernah tidur, ia akan selalu mengabulkan doa hambaNya. Hanya Giliran waktu yang selalu menjadi misteri.


Angga melirik sekilas ke wajah bahagia Rena ketika memegang kemudi. Istrinya adalah definisi sabar dan ikhlas yang terpampang nyata di depan matanya. Dua hal yang istrinya lakukan tanpa kata. Hidup dalam penyesalan mungkin menjadi hukuman yang pantas ia terima.


.


.


.


.


.


.


.


.


Terima kasih reader tercinta masih mengikuti kisah ini hingga sampai penghujung cerita. Ei tidak akan sesemangat ini tanpa ada dukungan kalian dari awal Ampe akhir.


Jika kalian masih ada pertanyaan seputar cerita ini, ketik di kolom komentar ya....


Renata Aisyahrani


Angga Abhimana Akbar


Celin Brigitte Bramantyo


Farhan Ratarajasa


Ibu Sinta


Pak Bramantyo


Marni


Sri


Leo


Pamit undur diri ....


Sekali lagi terimakasih 🙏🙏🙏 Jadi terhura Ei

__ADS_1


Loph... loph sekebon duren 😘😘😘😘


Saat ... Tenang, masih ada extrapart ..


__ADS_2