Surga Yang Berbeda

Surga Yang Berbeda
Malam kenangan


__ADS_3

Celin keluar dari kamar mandi, ia memperhatikan Angga yang masih sibuk dengan ponselnya di kursi kamar di dekat jendela. Tentu saja ia tidak berani menanyakan suaminya itu sedang menghubungi siapa?


Ia memutuskan naik terlebih dulu ke tempat tidur yang sudah di dekorasi oleh WO meskipun dengan tatanan sederhana.


Jantungnya berdetak kencang, beberapa malam ia tidur dengan perasaan ketakutan setelah kejadian itu. Kini ia merasa malah jantungnya yang tak berhenti berdebar kencang karena ada seseorang yang akan tidur di ranjang bersamanya. Untuk pertama kali hatinya berdebar kencang ketika berdekatan seorang pria.


Apa karena Angga sah menjadi suaminya? Sedangan pria-pria yang sering mendekatinya tak pernah ia hiraukan, karena dalam pikirannya mereka hanya menggodanya saja.


Bagian ranjang yang kosong disampingnya mulai bergerak, itu artinya Angga sudah ada di belakangnya. Ia masih memunggungi suami karena tak bisa meredam debaran jantungnya yang mengila.


Dep. Lampu padam.


"AH ...!" Celin berteriak reflek langsung memeluk Angga di sampingnya.


"Mas, tolong nyalakan lampunya, Aku takut orang itu masuk lagi dan ...." Ia tak bisa meneruskan kalimatnya. Ia menenggelamkan kepalanya di dada Angga. Ia masih sangat takut dengan kegelapan setelah kejadian itu.


Setelah kejadian yang hampir merenggut kehormatan itu, Celin tak pernah mematikan lampunya. Ia masih trauma dan sedang menjalani terapi traumatik bersama psikiater masalah ini.


"Ya Cel, Mas akan nyalakan lampunya," Angga meraih saklar lampu yang ada di sampingnya, lampu kembali menyala. Ia selalu memadamkan lampu ketika tidur bersama Renata.

__ADS_1


"Sudah kamu jangan takut lagi," Angga menyentuh lembutnya pipi istrinya yang basah. Istrinya juga masih erat memeluknya.


Celin membuang nafasnya lega mencoba menenangkan diri kembali.


"Setiap malam, kejadian itu selalu membayangiku. Entah sampai kapan akan seperti ini."


Angga mengelus lagi lengan Celin mencoba menenangkan istrinya.


"Sekarang ada Mas di samping kamu, jadi jangan takut lagi."


Celin mendongak melihat wajah suaminya, "Mas, bantu aku rubah kenangan buruk menjadi kenangan indah."


"Kamu sudah siap malam ini menyempurnakan pernikahan kita?" tanya Angga meskipun ia juga ragu apa bisa melakukannya dengan wanita yang masih asing untuknya.


Celin mengangguk, wajahnya langsung bersemu merah, meskipun ia sedikit takut. Mungkin dengan membuat kenangan malam pertama bersama suaminya akan menghilangkan traumanya.


Tiba-tiba terbesit dipikiran Angga saat ia menutupi tubuh Celin. Desir hangat mulai dirasakan tubuh pria berbadan tegap itu. Wanita yang ada dalam pikirannya itu adalah istrinya sekarang. Entah apa yang bisa Angga lakukan selain membendung ribuan maaf dihatinya untuk Renata karena akan menyentuh wanita selain istri tercintanya.


Angga mendadak gugup, rasanya sama seperti saat akan melakukan pertama kalinya dengan istri pertamanya. Bedanya sekarang, apa bisa ia menikmati seperti pertama kali karena ada rasa bersalah dalam hatinya untuk Renata.

__ADS_1


Dengan pelan Angga mencium kening wanita cantik itu, perlahan turun mencium hidung bangirnya, di angkatnya dagunya istrinya agar ia mudah akan mengecup bibir mungil istri keduanya itu.


Celin memejamkan matanya menikmati setiap kecupan dari suaminya, ia berharap dengan menjalankan kewajiban atas dirinya pada suaminya akan menghilangkan traumanya akan malam itu.


.


.


.


.


.


Bersambung ......


Ei sambung nanti malam, mendadak lemah hayati...


Jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘

__ADS_1


__ADS_2