Surga Yang Berbeda

Surga Yang Berbeda
Di hakimi


__ADS_3

Warga akhirnya melihat dengan jelas siapa wanita yang bersama Angga. Mereka cukup mengenal wanita berdarah campuran itu adalah salah satu anak dari tokoh masyarakat di kampung mereka. Hal itu malah semakin menyulutkan amarah warga kampung.


Sebagian mulia bergunjing ada yang tidak percaya dengan perbuatan Angga, ada yang semakin gencar memperpanas suasana dengan melebih-lebihkan berita yang sudah berkembang.


Mereka bertiga berjalan menuju balai desa dengan di sambut tatapan mematikan dari warga yang berkumpul. Angga merasakan suasana yang berbeda dengan sebelumnya ketika bertemu warga perkampungan di perkebunan. Dulu ketika masih tinggal di perkebunan bersama Renata warga selalu menyambutnya dengan hangat.


Mencoba mengabaikan situasi dan masih bersikap santun, Angga mencoba menundukkan badan ketika melewati kerumunan warga.


"Kasian anaknya Pak Bram," seru salah satu warga.


"Ternyata sok alim! padahal kelakuannya bejat!" samar Angga dan Celin mendengar selentingan omong pedas dari warga.


"Kasian istrinya, ia malah main serong di kampung kita!" oceh warga lagi. Angga tetap bersikap tenang mencoba meredam emosinya.


"Pak Angga, silahkan duduk!" sambutan Pak Kades dan bapak- bapak salah satu tokoh masyarakat.


Celine dan Angga duduk dihadapan Pak Kades dan beberapa tokoh masyarakat. Pak kades berhasil menenangkan warga yang berargumen semakin menjadi-jadi tentang kabar yang mereka terima mentah-mentah itu.


"Celin, coba ceritakan bagaimana bisa Pak Angga ada di kamar kamu saat malam itu," tegas salah satu tokoh masyarakat.


Wanita berwajah pucat itu menoleh ke arah Angga. Angga bisa melihat raut wajah ketakutan pada wanita bermata hazel itu. Angga mengangguk kepala memberi instruksi dan meyakinkan Celin agar mengatakan sesuatu yang menimpanya tanpa ragu.


"Sa-ya di pindahkan dari mes karyawan ke Mes dekat rumah direktur IC, saat selesai mandi tiba-tiba kamar menjadi gelap. Saat itu juga ada seseorang laki-laki di dalam kamar itu mencoba untuk ...." Celin menutup wajahnya menetes air mata mengingat kejadian mengerikan yang menimpanya.

__ADS_1


"Apa kamu benar-benar tidak tahu ciri-ciri orangnya Celin," tanya salah satu tokoh masyarakat.


Celin mengeleng, "Ruangan itu sangat gelap. Setelah mendengar ketukan pintu dari Pak Angga laki-laki itu kabur lewat jendela dan Pak Angga berhasil masuk ke kamar Saya yang terkunci. Saya sangat takut, tidak bisa berpikir apa-apa. Tapi saya merasa tenang ada Pak Angga bersama saya waktu itu, setelah itu saya tidak ingat lagi apa yang terjadi sampai saya bangun dan sudah berada di klinik desa bersama Pak Angga."


"Mungkin Angga mencari kesempatan saat itu! Dasar tak bermoral merusak anak gadis tetuah kita!" teriak warga heboh.


"Nikahkan saja mereka! Angga harus bertanggung jawab!" teriak warga.


"Betul!"


"Betul!"


"Tenang! semua tenang! Bukan kah Celin sudah jelaskan ada seseorang yang mencoba melecehkan dia, justru Pak Angga datang menolong Celin setelah itu Celin tidak sadarkan diri!"


"Warga yang kebetulan mengambil gambar dan video yang beredar saat ini adalah jauh dari fakta. Saya panik melihat Celin yang lemah dan pingsan. Saya tidak menemukan apapun untuk menutupi Celin. Saya terpaksa mengenakan baju yang saya pakai untuk Celin agar kita segera keluar dan dia mendapat pertolongan." Angga mencoba membeberkan fakta kejadian sebenernya meskipun warga sudah teracuni oleh fitnah itu.


"Lagipula untuk apa malam-malam datang ke kamar perempuan jika tidak ada maksud terselubung. Kesaksian gadis itu hanya palsu untuk menutupi aib mereka!" Salah satu warga kembali berkoar hingga menyulutkan kembali emosi warga lain.


"Semua tidak benar! Kejadian tidak seperti yang beredar, Pak Angga yang menolong saya!" teriak Celin.


Alih-alih teriakkannya di dengar, justru Celin malah semakin mendapatkan banyak hujatan karena di anggap bersekongkol dengan Angga untuk membela diri.


"Kamu harus bertanggung jawab! Jangan sampai kampung kita kena azab karena perbuatan kalian! Jangan cuma mau lahan nenek moyang kita saja! Jaga juga akhlak kalian!"

__ADS_1


"Betul!" teriak warga saling bersautan.


"Tenang! Tenang!" Pak Kades rasanya juga semakin binggung bagaimana cara menenangkan warga.


"Pak Angga akan menikahi Celin! Saya pastikan itu! Kalian sudah puas!" Suara lantang seorang pria yang berhasil membuat warga terhipnotis diam.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung .....

__ADS_1


Sori Ei baru up lagi setelah sekian purnama .... 😘😘😘 Semoga Ei bisa nambah up lagi....


__ADS_2