
Sudah hampir setengah jam, tidak ada tanda dokternya memulai panggilan untuk pasien.
"Cel, aku mau ke toilet dulu," ucap Rena.
"Ya Kak," wanita mengeser pahanya memberi jalan untuk Rena yang beranjak dari duduknya.
Renata melangkah menuju toilet.
Rena mencuci tangan di wastafel seraya membetulkan bentuk kerudungnya yang miring didepan kaca.
"Bu Renata," suara yang terdengar dari samping.
Rena menoleh untuk melihat seseorang yang memanggilnya. Tentu saja ia tak asing dengan wanita paruh bayah itu.
"Bu Kades," seru Rena menyalami berlanjut memeluk penuh rasa suka cita. "Bu Kades apa kabar?" seru Rena pada wanita yang dulu pernah menjadi rekannya sebagai aktivis desa selama tinggal perkebunan.
"Baik Bu Ren, Bu Ren sendiri gimana kabarnya. Lama nggak ketemu, tambah cantik sekarang," goda Bu Kades melepaskan pelukannya untuk mencubit dagu Rena.
"Bu Kades bisa saja, Bu Kades ngapain kesini siapa yang sakit?" tanya Rena.
"Bapak Bu, biasa kontrol sebulan sekali ke dokter saraf."
Rena manggut-manggut.
"Bu Rena sendiri. Mau ke dokter siapa?"
"Saya mau ke dokter kandungan," jawab Rena.
__ADS_1
"Alhamdulillah, isi?" Bu Kades langsung memegang perut Rena.
"Bukan Bu, tapi ..." Rena tak meneruskan kalimatnya. Tapi untuk apa menyembunyikan fakta, toh Bu Kades juga pasti tahu kejadian diperkebunan itu.
"Celin?" tanya Bu Kades menduga.
Rena hanya mengangguk sambil tersenyum. Bu Kades mengelus lengan wanita berhijab army itu.
"Sabar ya Bu Ren, saya salah satu orang paling tak terima dengan tuduhan warga sama Pak Angga," ucap Bu Kades kesal mengepalkan tangannya.
"Semuanya sudah terlanjur Bu," jawab Rena.
"Akhirnya keinginan Pak Bram menikahkan anaknya dengan Pak Angga terwujud!"
"Maaf Bu Kades, maksud Bu Kades?" tanya Rena amarah yang seperti membumbung.
"Mas Angga dan Celin sudah lama saling mengenal?" tanya Rena kaget. Suaminya tak pernah bercerita tentang hal ini.
"Kelihatan dekat Bu dulu. Pak Angga sering ngajar ngaji anak-anak perkampungan, tapi si Celinnya masih belum lulus SMP," lanjut Bu Kades. "Saya kesal! Pak Bram malah memanfaatkan situasi yang ada!" seru wanita paruh bayah itu dengan emosional.
Jantung Rena seperti diremas mendengar ucapan Bu Kades.
"Jadi Bu Kades?" seru Rena gugup menahan rasa aneh yang seperti ingin termuntahkan dari hatinya.
Bu Kades mengajak Rena untuk duduk di kursi tak jauh dari toilet.
"Bu Renata, karena Bu Renata orang baik dan begitu dekat saya dulu, saya berani berkata terus terang. Malam itu warga sudah mulai tenang dengan arahan Bapak. Tapi tiba-tiba orang-orang Pak Bram menemui bapak dan memprovokasi warga agar terus menggencarkan kejadian itu. Sebenarnya mudah saja untuk Pak Bram mencari perlaku pemerkosa anaknya jika dia mau. Tapi kenyataannya, Pak Bram memanfaatkan keadaan yang ada, kerahkan semua anak buah buahnya untuk menjatuhkan Pak Angga dan anaknya."
__ADS_1
"Bu Kades, kenapa Pak Bram begitu berambisi untuk membawa putrinya untuk menghancurkan rumah tangga saya!"
"Tentu saja masalah tanah warga yang sekarang di miliki perusahaan. Ia tak akan terima begitu tanah leluhurnya dimiliki orang lain. Ia harus punya penerus yang juga ikut menguasai lahan itu!"
"Perusahaan sudah menganti dengan layak semua lahannya!" Rena geram.
"Namanya orang begitu serakah Bu, nggak akan pernah puas dengan apa yang di dapat," balas Bu Kades.
Jantung Rena bergetar hebat, Ia mengingat bagaimana pria paruh bayah itu memohon padanya agar menikahkan putrinya dengan suaminya. Apakah ancamannya hanya rekayasa saja demi keuntungan!
Amarah Rena sudah di atas ubun-ubun seperti bom waktu yang akan meledak! Ia tahu dengan siapa harus melepaskan semua sekarang juga!
"Saya permisi dulu Bu Kades!"
.
.
.
.
.
.
Bersambung .........
__ADS_1