Surga Yang Berbeda

Surga Yang Berbeda
Tak Tenang


__ADS_3

"Bagaimana Pak Bram, apa yang mendasari bapak tiba-tiba ingin bertemu saya?"


"Saya ingin meminta tolong pada Pak Angga," seru pria matang itu.


"Apa yang bisa saya bantu Pak, pasti saya bantu."


"Celin baru tiba di kota ini, dia ingin melakukan penelitian untuk tugas akhirnya di perkebunan kelapa sawit, Pak Angga bisa bantu bimbing dia."


"Tentu Pak Bram dengan senang hati, saya akan jadi narasumber yang baik untuk Celine," sahut Angga.


"Maaf Us ... maksud Celin, Pak Angga. Tadinya saya mau menemui Pak Angga sendiri. Tapi Papi yang bersikeras mau merepotkan Pak Angga." Celin melirik ke arah ayahnya.


"Saya hanya percaya Pak Angga," balas Pak Bramantyo. Ia hanya tahu hanya Angga orang yang paling bisa di andalkan ketika dulu di kantor yang ada di perkebunan.


"Itu sama sekali tidak masalah. Selamat begadang Celin untuk tugas akhirnya," ucap Angga mencoba bercanda melihat ke arah Celin.


"Pasti Pak," Celin melingkarkan jarinya sambil tersenyum.


"Kebetulan besok saya akan berkunjung ke kantor yang ada di perkebunan. Kalau Pak Bram mau, kita bisa pergi bersama untuk saya perkenalkan staf yang ada disana untuk membantu Celin."


"Celin saja yang ikut pergi dengan Pak Angga, saya masih ada keperluan disini," jawab Pak Bram.


"Baiklah kalau begitu, dimanasaya bisa jemput Celin?" tanya Angga, tentu saja ia tak bisa menolak keinginan Pak Bram.


"Kita sedang menginap di kediaman kerabat kita di jalan merpati," jawab Celin.


"Besok saya akan jemput kamu disana."


Celin mengangguk, "terima kasih Pak Angga, sekali lagi maaf kita merepotkan Pak Angga."


"Sama sekali tidak enggak Cel," balas Angga.


Ketiga orang ini pun mengakhiri pertemuan setelah membicarakan maksud dari pertemuan dengan pak Bramantyo.

__ADS_1


Tak seperti malam biasanya, malam ini sebelum tidur Rena menyusun dua potong kaos dan satu kemeja untuk di masukkan kedalam tas ransel. Sedikit kesal kalau suaminya akan pergi ke pekebunan, itu artinya ia akan berjauhan selama seharian.


Setelah memastikan semua tertata Rapi, Rena mengumpulkan tas pakaian dengan perlengkapan kerja suaminya yang lain.


Rena merasakan sesuatu yang hangat menerpa bahunya. Hembusan nafas itu semakin gencar menerpa bahunya.


"Mas," keluhnya.


"Sekarang tidur, udah beres kan," seru Angga.


Rena berbalik menghadap lawan bicaranya. "Mas kenapa kali ini Ade merasa enggak tenang Mas pergi ke perkebunan."


"Enggak tenang kenapa Sayang, kamu cemburu sama Celin, dia hanya mahasiswa?" goda Angga mempererat tangannya yang melingkar di perut istrinya.


"Bukan Mas, nggak tahu kenapa kayak ada yang bikin aku nggak tenang." Tentu saja Rena sedikit cemburu karena kali ini ada orang lain yang ikut bersama suaminya ke pekebunan. Meskipun tidak pergi berdua, ada perasaan aneh yang menganggu pikiranya.


"Kamu nggak perlu cemas gitu de, ini sama seperti kunjung-kunjungan biasanya. Bedanya, Celin ikut bersama Mas karena permintaan Pak Bram. Mungkin Pak Bram kuatir kalau Celin ke perkebunan sendiri, kamu tahu sendiri kan disana di dominasi para pekerja pria."


"Ya Mas," Rena mencoba tenang kali ini.


"Doakan saja suamimu." Rena membalas menenggelamkan wajahnya di dada suaminya memeluknya erat.


"Kita bisa tidur sekarang De?" Rena mengangguk.


Rena hanya mengaduk-aduk nasi goreng yang ia buat untuk menu sarapan. Pikirannya masih tak tenang sejak bangun tidur tadi pagi.


Angga menatap istrinya yang diam tak seperti biasanya.


"Masih kepikiran Mas mau pergi?" tanya Angga memecah keheningan di meja makan.


"Maunya nggak Mas, tapi hati Rena kayak gak tenang Mas ke pekebunan pagi ini," ungkap Rena.


Angga tertawa kecil melihat istrinya. "Ade, kayaknya Ade mau datang bulan deh, biasanya Ade kalau over panik gini pasti mau kedatangan tamu, Mas hapal sekali. Untung tadi malam ambil jatahnya dobel." Hibur Angga.

__ADS_1


"Mas Angga ih, lagi serius!" Rena cemberut. Sejenak ia berpikir mungkin yang dikatakan suaminya ada benarnya, biasanya ia akan cemas berlebihan ketika mendekati mentruasi.


Tin ... tin ... tin.


Mobil jemputan Angga sudah menunggu di depan rumah. Semakin Angga akan pergi, entah kenapa perasaan Rena semakin tak tenang kali ini.


"Mas, Angga memang harus pergi ya," tanya Rena lagi menghalangi langkah Angga memegangi tangan suaminya.


"Ya Sayang, seperti bulan - bulan kemarin. Masih cemas?"


Rena mengangguk.


"Ade pergi ke toko supaya ada kegiatan dan nggak kepikiran Mas lagi, Insyaallah semuanya baik - baik saja."


"Mas, hati-hati ya," seru Rena yang seperti berat melepaskan suaminya kali ini. Di peluknya erat Angga yang hendak masuk mobil tanpa peduli dengan sopir dan tetangga kanan kiri yang lalu lalang lewat.


"Mas berangkat dulu," ucap Angga mengecup kening Rena. Ia segera masuk ke dalam Strada double cabin yang siap mengantarkannya ke kantor yang ada di perkebunan.


Rena melambaikan tangan dan mencoba untuk tetap tenang tak berpikir yang bukan-bukan tentang suaminya.


Ditempat yanb berbeda, Angga hanya butuh beberapa menit dari rumahnya menuju kediaman kerabat Pak Bramantyo. Celin yang memakai kemeja kotak-kotak sudah berada di teras tanpa perlu ia turun dari mobil. Celin gadis yang sangat tepat waktu, begitu yang ada dipikiran Angga.


Gadis yang kini mengkuncir kuda rambutnya mendekati ke mobil yang ditumpangi Angga. Angga turun dari mobil membukakan pintu penumpang belakang untuk Celin.


"Makasih Pak Angga," Celin naik di kursi kabin belakang.


"Kita bisa pergi sekarang? Papi kamu sudah tahu 'kan," ucap Angga setelah menempati kursi penumpang depan.


"Siap Bos!" seru Celin mengakrabkan diri.


"Ayo jalan," Angga menepuk punggung supirnya agar melanjutkan perjalanan.


Bersambung .....

__ADS_1


__ADS_2