Surga Yang Berbeda

Surga Yang Berbeda
Mengobati Luka


__ADS_3

Rena hanya bisa memegang dinding kaca yang menghalangi pandangannya. Wanita berhijab hitam itu hanya bisa menyaksikan bayi kecil yang ada dalam inkubator. Bayi yang memang kecil, mungkin hanya seukuran botol dengan berat 1,7 kg. Bayi itu terdengar samar menangis, terlihat menggeliat susah payah dengan segala selang yang terpasang di tubuhnya. Tak tega Rena melihat makhluk yang masih begitu kecil harus merasakan perjuangan bertahan di dunia yang sesungguhnya ini.


Jika sang ibu sudah kembali ke Rahmatullah. Kini bayi yang dipaksa keluar melihat ke dunia sebelum waktunya itu, tengah berjuang untuk hidup dengan banyak alat penunjang untuk bertahan hidup.


Rena kembali tak bisa menahan airmatanya yang sudah menggenang. Beruntung ada teman satu forum pengajiannya yang kebetulan baru saja melahirkan dan di anugerahi ASI yang melimpah. Sehingga ibu itu dengan senang hati menolong untuk menjadi pendonor ASI untuk Shafi. Karena asupan yang boleh masuk dari selang yang terpasang di tubuh bayi mungil itu hanya di perbolehkan ASI.


Ya, bayi kecil Angga dan Celin sepakat diberi nama Aresa Raiqa Shafiyah. Nama dari pemikiran Angga dan Rena di sela waktu duka kemarin malam. Nama yang memiliki arti perempuan yang selalu memaafkan dan dipenuhi naungan hati yang bersih. Shafiyah juga salah satu nama istri nabi yang berparas sangat cantik seiring dengan hatinya yang lembut dan perasa.


Meskipun Shafi di terangi sinar biru karena kadar bilirubin yang tinggi, Rena tetap bisa tahu jika wajah anak itu begitu mirip dengan ayahnya. Tapi hidung bangirnya mewarisi mendiang ibunya. Senyum muncul di tengah tangisnya. Ia berharap Shafi segera bisa keluar dari ruangan itu dan berkumpul bersama keluarganya.


"De, mau masuk?" Angga merangkul pundak Rena dari belakang. Rena mengangkat bahu karena terkejut melihat suaminya sudah ada di sampingnya.


"Ya, Rena mau masuk Mas," jawab Rena. "Mas perhatikan nggak sih, Shafi mirip banget sama Mas."


"Kan ayahnya De, mau mirip siapa lagi," seru Angga menyelipkan canda.


Keduanya melempar tawa ringan. Tawa yang hampir tak terdengar beberapa hari terakhir.


"Kita belum lihat matanya. Apa nanti seperti Mas atau cantik seperti Ibunya," balas Rena.

__ADS_1


"Nanti kita lihat kalau Shafiyah sudah bisa pulang," Angga mengelus tangan Rena. Rena merebahkan kepala di pundak suaminya.


"Makasih De, sudah dengan ikhlas merawat Syafi."


"Mas ngomong apa sih, sudah sepantasnya seorang ibu menjaga dan merawat anaknya," seru Rena.


"Rena mau masuk dulu, sekalian mau cek persediaan ASI untuk Shafiyah."


Pria itu mengangguk melepaskan tangan dari bahu istrinya.


Rena segera menuju ke ruang NICU bergantian dengan suaminya.


Angga melakukan hal yang dengan Rena di balik dinding kaca. Ia memperhatikan sang istri yang mengenggam tangan mungil putri kecilnya dari lubang inkubator. Mulutnya terlihat bergerak mengajak interaksi bayi itu seolah mengerti apa yang diucapkannya. Karena tertangkap pandangan Angga, makhluk kecil itu menggeliat memberi respon seolah nyaman dengan seseorang yang membisikkan sesuatu di telinganya itu.


Perpisahan dan pertemuan dua perkara yang dibatasi dengan sekat yang tipis. Siapa yang menyangka tawa akan seketika menjadi tangis. Rasa suka akan menjadi perih. Tinggal seorang yang hidup yang harus meneruskan asa yang yang belum tercapai.


Begitulah takdir! Tak ada yang akan tahu, apa yang akan terjadi esok. Siapa yang menyangka sekarang yang ada di sisi Syafi adalah Rena bukan Celin. Angga mendongak melihat Rena kembali. Betapa besar hati seorang Renata. Jika Celin masih hidup saat ini, ia pasti merasa bangga dan beruntung bisa bersama-sama merawat Shafy bersama istrinya yang penuh kesabaran itu.


Terima kasih Dek, sudah mengantikan posisi Celin untuk Syafi.

__ADS_1


Air mata Angga luruh, ia menangis karena begitu terharu melihat Rena yang begitu tulus menyayangi Shafiyah seperti ia lah Ibunya. Hal itu menjadi pengobat sendiri untuk rasa sakitnya.


Jika bisa menoleh ke belakang, Angga merasa dirinya yang paling patut di salahkan. Begitulah yang namanya penyesalan, pasti selalu datang terlambat. Tak ada guna menyesali apa yang telah terjadi yang menjadi garis qodar illahi.


Jalannya masih panjang ke depan. Apa yang di katakan istrinya benar, lebih baik sekarang ia menjadi kuat untuk Shafiyah. Mengobati luka, merajut asa. Menanti kembali jalan takdir apa yang akan di gariskan padanya esok.


.


.


.


.


.


.


Bersambung .....

__ADS_1


Sori Ei baru bisa up ...🙏🙏🙏


__ADS_2