
Segerombolan warga sudah ada di depan gedung kesehatan desa. Tatapan marah warga membuat Angga menjadi bingung, apa yang sebenarnya terjadi?
"Dia! Dia yang sudah berbuat zina di kampung kita!" salah satu warga dengan mengebu menunjuk ke arah Angga.
"Pak Angga! Dulu kami sangat segan pada kamu! Tapi kami kecewa karena kamu ternyata juga suka bermain serong dengan wanita lain, apalagi berani berbuat zina di kampung kita!"
"Tenang! Ada apa ini! Saya tidak mengerti!" balas Angga. Ia binggung darimana mereka mendapat hasutan asal menunduh tanpa bukti.
"Jangan pura-pura bodoh! Ada warga yang melihat kamu dan gadis muda itu telanjang keluar dari area perusahan!" Warga lain tak kalah heboh membentak Angga.
"Tunggu Pak! Ini salah paham! Ini fitnah! Saya hanya menolong Celin yang coba untuk di rengut kehormatannya!" balas Angga.
"BOHONG! Itu cuma alasan kamu kan supaya bisa menghindar dari perhakiman warga!"
"Saya berani bersumpah! Tidak terjadi apa-apa antara saya dan Celin! Kalian bisa tanyakan langsung!"
"Pak Angga kami akan blokir jalan masuk ke pekebunan dan perusahaan yang melewati kampung kami! Karena kami tidak rela jika kena sial karena perbuatan dosa kalian berdua!" warga yang suaranya paling nyaring juga ikut protes.
"Tenang, semua tenang!" seseorang pria paruh baya memakai sarung kedodoran muncul dengan dua keamanan desa dengan terburu berusaha menengahi warga.
Bapak itu langsung berdiri di samping Angga. Angga tahu, bapak itu adalah seseorang kades di perkampungan tempat perusahan tempatnya bekerja.
"Kita tidak boleh menuduh satu pihak! Kita harus punya bukti! Saya yakin penduduk desa kita tahu orang seperti apa Pak Angga dan banyak berkorban untuk desa kita!" Pak Kades berusaha membela Angga.
"Dia cuma alim di luar tapi dalam tetap seorang pezina, tukang selingkuh Pak!" teriak salah satu warga yang sejak tadi terus mengompori warga.
__ADS_1
"Betul Pak Kades! Orang seperti dia baik hanya karena inginy lahan nenek moyang kami! Dan sekarang mereka malah berbuat dosa! Kami tidak terima!"
"Ya Kita akan selesaikan masalah ini besok di balai desa bersama dengan wanita itu dan Pak Angga! Kita selesai dengan tenang disana bukan dengan keributan malam-malam seperti ini!"
"Pak kades, bagaimana kalau dia tak peduli," kata warga menunjuk Angga.
"Saya pasti akan datang jika memang untuk meluruskan kesalahpahaman ini," sela Angga.
"Sudah puas sekarang! Saya minta sekarang kalian bubar! Kita akan bahas masalah ini besok!" seru Pak Kades.
Warga yang masih kesal terpaksa membubarkan diri karena desakan Pak Kades.
Angga bernafas lega, setidaknya ada orang yang tak salah paham dengan dirinya. Pak Kades mengajak Angga untuk duduk di kursi panjang yang ada di situ.
Angga yang tadinya yakin ada seseorang yang tak mencurigainya malah kembali pesimis, Pak Kades membela dirinya mungkin karena balas Budi atas apa yang Angga dan perusahaan lakukan untuk perkampungan ini selama memimpin di kantor.
"Pak! Saya bersumpah Demi Allah Pak, saya hanya menolong Celin dari seseorang yang berusaha memperko-sanya. Bahkan saya cemas kalau pelaku akan bertindak sama jika dia belum tertangkap!"
"Pak Angga, ini foto yang membuat warga terprovokasi." Pak Kades memperlihatkan ponselnya pada Angga. Angga melihat gambar dirinya yang mengendong Celin keluar kamar dengan pakaian yang sungguh minim dan seadanya. Siapa yang tidak curiga dengan foto seperti ini.
Angga hanya bisa menghela nafas berat, cobaan apa yang menimpa dirinya ini! Ia bermaksud baik menyelamatkan seseorang malah harus jadi bahan fitnahan seseorang.
"Pak Angga, warga kampung sini sangat menghormati hukum adat mereka, mereka sangat sensitif dengan masalah seperti ini. Saran saya Pak Angga harus menikahi wanita itu untuk meredam amarah mereka!"
Angga tersentak kaget. "Pak Kades, itu tidak mungkin! Saya sudah menikah dan mempunyai istri yang sangat saya cintai. Lagipula, Celin itu gadis yang masih muda, masa depannya masih sangat panjang, saya tidak bisa menjadikan dia istri kedua saya."
__ADS_1
"Tolong pikirkan lagi Pak Angga, lagipula dalam agama kita di perbolehkan menikah lebih dari satu kali. Ini demi kebaikan bersama, nama baik perusahaan, Pak Angga dan wanita itu."
"Pak Kades, ini tidak mungkin Pak Kades!"
"Permisi, apa warga sudah bubar?" tanya dokter terlihat ketakutan memecah ketegangan Pak kades dan Angga.
"Ya Dok, mereka sudah bubar," seru Angga.
"Pasien sedang mencari Pak Angga, dia terlihat ketakutan Pak."
"Pak Angga temui dulu Pak," seru Pak Kades.
.
.
.
.
.
Bersambung ...
😍
__ADS_1