
Celin kembali kerumahnya melalui pintu laundry room. Kini ia tak bisa lagi menahan air mata yang lama menggenang di pelupuk matanya. Sungguh ia sama sekali tak bermaksud menceritakan masalah ranjang dengan pembantunya. Ia hanya butuh tempat untuk bicara. Selain ibu mertuanya, Mbak Marni juga menjadi teman bicaranya selama hamil meskipun kini ia menyesal telah salah mengambil topik pembicaraan.
Selama ia menjadi istri kedua Angga, ia tidak punya siapapun untuk jadi teman hanya sekedar untuk bicara. Teman-teman dan sahabatnya perlahan-lahan menjauhinya karena menganggap dirinya adalah perebut suami orang tanpa tahu cerita yang sebenarnya. Bahkan untuk sekedar pergi ke kampus saja ia tak punya nyali mendengar cibiran teman-temannya, ia benar-benar sudah merasa terasing dari pergaulannya.
Tak pernah terbesit sedikitpun dalam pikirannya untuk menjadi istri kedua. Tidak ada kebanggaan untuk itu, justru ia malu menjadi penengah rumah tangga seseorang yang awalnya bahagia. Jika bukan karena desakan warga dan menjaga kehormatan suami, diri, warga kampungnya sungguh ia tak mau jadi istri kedua dari seseorang yang dikaguminya sekalipun.
Sekarang ia hanya bisa pasrah menjalani apa yang di gariskan padanya. Meksipun kadang ia merasa ragu apakah akan sanggup menjalani semua dengan baik-baik saja.
Orang yang dianggapnya bisa mendukung dan dijadikan sandaran kini telah berubah, kakak madunya sekarang tidak lagi bersikap manis padanya seperti dulu. Ya, ia cukup sadar apa yang dirasakan Renata karena ia juga seseorang wanita. Tidak mudah menerima orang baru yang menjadi penengah keutuhan keluarganya.
Seperti halnya tadi ketika ia menegurnya, sungguh itu masih membekas dikepalanya sampai sekarang.
Bisakah kakak madunya itu menegur dengan baik-baik tanpa harus membentak, sungguh ia memang dangkal dalam ilmu agama jika dibandingkan dengan kakak madunya.
Kadang ia sangat ingin bertanya atau sekedar bercengkrama dengan Renata, sambil banyak sedikit ia belajar masalah agama atau yang lainnya. Ia juga selalu menunggu kapan ia akan di ajak pergi ke kajian bersama seperti yang di harapkan suaminya.
Tapi tentu saja saat ini, itu hal yang mustahil! Semenjak tahu dirinya hamil kakak madunya terkesan selalu menghindar dan menjauhinya. Kadang ia merasa seperti musuh untuk kakak madunya.
"Maaf ya Mbak, gara-gara saya Ibu jadi marah-marah sama mbak," ucap Mbak Marni membangunkan lamunan Celin.
Buru-buru ia menyeka air mata yang tak berhenti mengalir itu.
"Enggak Bi, ini semua memang saya yang salah," balas Celin.
"Diminum dulu Mbak biar tenang." Mbak Marni Menyodorkan jus jeruk pada Majikannya.
__ADS_1
Celin menengguk dengan terburu karena ia butuh air untuk mengurangi sesak di dadanya.
"Ibu sebenarnya orangnya baik Mbak, mungkin ibu lagi PMS. Akhir-akhir ini memang ibu sering emosi mungkin belum terbiasa berbagi apa yang menjadi miliknya, nanti lama-lama juga baik lagi Mbak," seru Mbak Marni.
"Ya Bi, nggak apa-apa kok," balas Celin.
"Yang banyak sabar ya Mbak. Saya, permisi dulu," seru Mbak Marni pergi meninggalkan Majikannya.
Celin mengelus perutnya, tentu saja ia harus sabar demi anaknya sekarang. Dalam pernikahan ini, ia juga selalu berusaha menuruti keinginan suaminya untuk menjaga perasaan Renata. Karena ia seorang istri sekarang. Ia juga merasakan apa yang Renata rasakan.
Ia harus bisa membuang rasa cemburunya ketika suaminya memperlakukan dengan manis dan romantis istri pertama dihadapannya.
Sikap berbeda pun langsung ditunjukan Angga ketika bersamanya dihadapan istri pertamanya. Suaminya itu selalu menunjukan sikap kaku kepadanya untuk menjaga hati istri pertamanya. Sedangkan ketika bersama Renata suaminya itu tak pernah ragu mengumbar kemesraan didepannya.
Celin cukup sadar posisinya untuk hal itu, ia hanyalah istri kedua yang di nikahi secara paksa oleh suaminya. Ia tak pantas mendapat perlakuan istimewa seperti Renata yang sudah punya tempat dihati suaminya.
Dering ponsel memecah renungannya.
"Ya, Mas," ucap Celin buru-buru mengangkat telpon dari suaminya.
"Nanti sore jadi ke dokter Yang."
"Ya Jadi," jawabannya.
"Kamu nggak apa-apa pergi sendiri dulu. Renata mau ke Samarinda, Mas mau antar dia dulu ke bandara."
__ADS_1
Ya, Celin harus mulai terbiasa dengan hal itu. Suaminya selalu mengutamakan kepentingan Renata diatas kepentingan apapun.
Jika ia mendelik lebih dalam. Manakah yang jauh lebih penting. Mengantar istri ke dokter untuk melihat kondisi bayinya usai pendarahan atau mengantar istri ke bandara? Tentu saja Celin hanya bisa membatin dalam hati tanpa berani mengutarakan.
"Yang ... Kok diam." Sambungan suara memecah lamunan Celin.
"Ya Mas, nggak apa-apa."
"Nanti Mas segera nyusul kesana. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumusalam." Celin tersenyum miris, jika suami lain yang begitu cemas ketika kehamilan istrinya bermasalah, tentu tidak dengan dirinya yang harus mengalah untuk kepentingan istri pertama suaminya.
Ia harus sadar, kondisi kehamilannya tak seperti wanita hamil pada umumnya yang mendapat perhatian lebih dari suaminya. Hanya tiga hari waktu yang ia punya untuk bersama suaminya, selebihnya sudah pasti ia jalani sendiri tanpa menganggu waktu suaminya bersama istri pertama.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung ....
Ei baru bisa up satu🙏