
"Makasih ya," Rena menerima kunci mobil dan ponsel yang di berikan karyawannya.
"Sama-sama Bu, ada yang bisa dibantu lagi nggak Bu?" tanya karyawan toko sopan.
"Nggak perlu, kamu boleh turun," ucap Rena. Karya toko itu pun pergi mengikuti perintah atasannya.
Mobil toko yang pecah ban di jalan tol itu lebih cepat selesai di perbaiki oleh anak buah Farhan. Sedangkan ponselnya sudah bisa digunakan kembali setelah di perbaikan di counter service.
Ia mengeringkan rambutnya yang basah usai mandi air panas melepas kepenatan tadi. Ia mulai memasang charger untuk mengisi daya ponsel. Mata Rena tertuju pada Jeep Wrangler yang masuk area tokonya.
Suaminya selalu membawa kendaraan pribadi kemana pun pergi. Tapi apa mungkin? Bukannya suaminya sedang bersama Celin?
Rena segera mencari hijab instan dan memakainya. Ia segera turun dari lantai dua untuk memastikan itu adalah suaminya.
Benar saja! Suaminya yang tampan sudah masuk ke dalam toko dengan raut wajah tegang tak seperti biasanya.
"Mas," tegur Rena dipertengahan tangga. Ia terhenti sebelum sempat menyentuh lantai bawah.
Pria yang disebut namanya itu langsung berlari menaiki tangga. Tanpa pikir panjang tubuhnya menerjang wanita yang hampir membuat Angga kehilangan separuh kewarasannya itu.
"Ya Allah Dek, kamu nggak apa-apa kan." Angga melepaskan pelukannya ia meraba tubuh istrinya dari atas sampai bawah memastikan tidak ada yang kurang dari istrinya.
Rena masih bengong tak menyangka suaminya sekarang sudah berada di hadapannya.
"Aku nggak apa-apa Mas, kita naik dulu Mas," seru Rena mengandeng lengan suaminya.
Meksipun tangganya terhalang tembok, tidak pantas rasanya berpelukan di tempat itu yang bisa terlihat karyawan toko.
__ADS_1
"Kamu buat Mas hampir gila, Dek! Hape kamu nggak aktif! Nggak ada kabar! Hujan lebat! Mas hampir gak bisa berpikir apa-apa selain bertanya-tanya dimana istriku!" Seru Angga menangkap wajah Rena meluapkan kepanikannya.
"Mas yang bilang sendiri, kalau masih hujan Rena nggak perlu pergi. Setelah Ban mobil pecah.Rena langsung balik pulang tak berani meneruskan perjalanan," ucap Rena berusaha mengusir kecemasan suaminya.
"Mas takut sekali terjadi apa-apa denganmu Dek! Jangan pernah buat Mas seperti ini lagi!"
"Maaf Mas, hape Rena juga jatuh dan mati total. Tapi sekarang sudah baik dan berfungsi normal," balas wanita itu memeluk suaminya.
Ia tak perlu menceritakan secara mendetail kejadian apa yang menimpanya. Kepanikan suaminya cukup membuat Rena merasa bersalah. Beberapa waktu lalu ia melempar tawa dengan orang lain sementara suaminya panik mengkhawatirkan keadaannya.
"Untung Mas telepon ke toko dan bilang Adek sudah ada di toko. Mas menyetir sudah seperti terbang."
Rena mendongakan kepala, "Mas selalu begitu kalau panik. Utamakan keselamatan."
"Bagaimana Mas bisa peduli sama keselamatan Mas sementara diluar Mas nggak tahu keselamatan Adek."
"Ada ibu, ada Mbak Riri. Lagipula acaranya sudah hampir selesai."
"Tapi Mas, apa dia ...."
Angga mendekatkan wajah hingga tak berjarak dengan istrinya. Rena bisa merasakan sesuatu hangat menerpa permukaan bibirnya.
"Tolong jangan bahas wanita lain saat kita bersama," bisik Angga ditelinga Rena.
Angga meluapkan kerinduannya yang mendalam dengan kembali menyatukan indera perasanya. Gejolak hangat timbul beriringan dengan rasa kecemasan yang mereda. Diangkatnya tubuh sang istri menuju tempat tidur. Di belailah dengan lembut kulit Rena, tak ingin raga ini menjauh darinya walau beberapa jam saja. Hanya Rena lah yang bisa menenangkan dirinya, hanya wanita yang sekarang ia kecup yang mampu menghangatkan hatinya.
Rena pemilik hatinya sesungguhnya. Tak butuh waktu lama keduanya hanyut dalam balutan gairah. Meskipun Rena lelah tentu saja tak bisa menolak jika suaminya itu meminta.
__ADS_1
Ia juga membutuhkan suaminya mencari ketenangan. Kedua manusia ini menikmati surga dunia di tengah hujan yang tak henti menguyur kota ini.
Angga melepaskan benih cintanya didalam rahim sang istri. Dengan selalu teriring doa agar kelak ada kehidupan yang bisa tubuh dalam rahim istri yang cintainya ini.
Rena yang sudah merasa letih usia melakukan tugasnya memilih memejamkan mata dalam dekapan hangat suaminya yang juga terkapar kelelahan.
"Jangan menyerahkan Dek. Jangan pernah tinggalkan Mas sesulit apapun jalan yang akan kita jalani. Bantu Mas menjalani takdir kita ini."
"Hmmmm ...," seru Rena tak terlalu menangkap ucapan suaminya. Matanya begitu sulit terbuka karena tubuhnya yang begitu lemah karena aktivitas melelahkannya.
Angga mengeryit dahi karena tak mendapatkan respon apapun dari wanita yang ia dekap. Ia mengangkat dagu sang istri yang ternyata sudah terlelap ke alam mimpi.
"Mas tetap milikmu dek. Dan kamu juga selalu jadi milik Mas sampai kapanpun."
.
.
.
.
.
Bersambung .........
Sori Ei baru Up 🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1
jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘😘😘😘 😘