Surga Yang Berbeda

Surga Yang Berbeda
Terserah Kalian


__ADS_3

"Sekali lagi," seru Angga menyodorkan sendok ke mulut istrinya.


"Udah Mas," jawab Celin mengelak saat Angga menyodorkan suapan bubur.


"Ayah nggak mau anak ayah kelaparan di dalam karena bundanya males makan." Angga masih usaha untuk membujuk istrinya.


Celin menyunggingkan senyum, akhirnya ia pun menurut melahap habis semua makanan yang disodorkan Angga.


Angga meletakan piring kotor di atas ambalan dekat ranjang. Ia kembali mendekat ke arah istrinya. Dipeganginya perut istrinya yang mulai buncit lalu ia menurunkan kepalanya mencium perut istrinya.


Senyuman tak berhenti terukir dari bibir Celin jarang sekali suaminya melakukan hal seperti ini, mungkin bisa ia hitung dengan jari. Hal romantis yang selalu disaksikannya di drama-drama. Celin tanpa canggung lagi mengusap kepala suaminya yang masih sejajar dengan perutnya. Apakah ini hikmah dibalik jatuhnya ia dari tangga, suaminya semakin perhatian padanya. Ya, saat ini Celin hanya ingin yang terbaik untuk anaknya.


"Anak kita senang Mas, diciumi ayahnya," seru Celin ikut mengelus perutnya.


"Masa, nanti ayah sering-sering cium ya," ucap Angga mengelus lembut perut istrinya. "Kalau bundanya senang nggak dicium ayah," goda Angga mencoba untuk mengembalikan mood istri keduanya.


"Apa sih Mas," ucap Celin dan wajahnya yang pucat seketika berubah menjadi merah. Suasana kembali tenang.


Angga mengengam jari-jari putih Celin, ditatapnya dengan dalam istrinya itu.


"Cel, maaf kalau Mas belum bisa jadi suami yang baik untuk kamu. Mas tahu, mungkin nggak mudah untuk kamu dan anak kita melewati hari ketika Mas nggak ada di dekat kamu. Tapi kamu juga harus tahu, tidak mudah juga menjadi seorang Renata. Kita bertiga sama-sama diuji menjadi orang yang bisa lebih sabar."


"Ya Mas," balas Celin. Ia mendadak tak enak hati, apakah ia terlalu bersikap berlebihan pada Angga semalam. Karena hati dan tubuhnya sakit, ia memberanikan diri meluapkan isi hatinya.


"Ada juga saatnya Mas khilaf, tapi Mas selalu berusaha untuk bisa berbuat adil untuk kamu dan Renata meskipun itu masih jauh dari kata sempurna."


"Aku ngerti Mas, aku harusnya bersyukur punya suami dan kakak seperti Kak Rena."


"Terimakasih Sayang, sudah memahami keadaan kita."


"Assalamu'alaikum," suara berat yang memecah obrolan pasangan suami istri ini.


"Wa'alakumusalam," jawab keduanya kompak.


"Bapak! Kok bisa disini?" seru Angga terkejut melihat kedatangan ayahnya.


"Ibumu yang heboh dari semalaman, katanya Celin jatuh dari tangga. Ibumu dikasih tahu Marni," balas Pak Saiful.


Angga hanya mengangguk, mau bagaimana lagi jika orang tuanya terlanjur tahu keadaan Celin.


"Alhamdulillah udah baikan Pak. Sekarang, ibu mana?" tanya Celin yang malah merasa senang kedatangan mertuanya.


"Tadi katanya mau beli minum nanti nyusul." Pak Saiful memilih merebahkan tubuhnya di sofa.

__ADS_1


"Mas, ngomong-ngomong kak Rena beli sarapan dimana? kenapa lama sekali belum kembali-kembali," ucap Celin.


"Kamu ditemani Bapak sebentar sambil nunggu ibu, Mas mau susul Rena."


Celin mengangguk mengiyakan.


.


.


.


.


Rena menyeka air matanya. Matanya masih terasa pedih, hatinya terasa sesak. Wanita yang dulu selalu jadi sadarannya untuk berkeluh kesah malah seolah tak ingin lagi berpihak padanya.


"Mas Angga pasti nggak setuju Bu!"


"Kalau kamu yang minta baik-baik pasti masmu setuju."


"Nggak mau Bu, Rena nggak mau ikut ibu," rengek Rena mengelengkan kepalanya.


"Sudahlah Ren, masalah sepele begini kamu kok jadi cengeng. Ibu cuma nyuruh kamu tinggal sementara sama ibu. Apa susahnya sih Nak, ngalah untuk wanita yang sedang hamil."


"Ya kamu sekarang kan sudah dewasa Nak, kamu yang harus lebih ngerti kalau keadaan kalian sudah beda, ibu tuh cuma nggak mau Celin kenapa-kenapa lagi, biar dia tuh merasa nyaman sama kehamilannya. Orang hamil itu butuh perhatian lebih Ren."


"Ibu! Rena juga istri Mas Angga Bu, Rena juga butuh waktu bersama dan perlindungan Mas Angga meskipun sekarang Rena belum hamil!" Rena menunduk merebahkan kepala dipangkuannya. Ia menutupi wajahnya yang basah.


"Ya Allah Ren, coba omongan ibu itu dipikirkan dulu! Jangan dibantah dengan emosi begitu! Benar sekarang kamu jadi lebih pemarah! Ibu juga ngerti perasaan kamu Nak! Tapi ini demi kebaikan bersama! Jangan pikir ibu nggak tahu kamu juga marah-marahin Celin! Marni sudah cerita semua!"


Rena tak bisa menjawab lagi! Ia merasa semakin terkucilkan dengan kesalahan yang tak ia sengaja. Itupun juga demi kebaikan wanita hamil itu juga.


"Belajar Ren, belajar menata hati mulai sekarang, kalau keadaan rumah tangga kamu sudah berbeda!" Bu Sinta mengelus punggung menantunya yang masih sesegukan menutup wajahnya itu.


"Tenyata ada disini," suara berat yang membuat Rena langsung mendongakan wajah menemukan sinar terang.


"Mas!" Dengan sigap Rena memeluk Angga meminta pertolongan. Untungnya lorong untuk ruangan VIP ini sepi.


"Dek, kenapa kamu nangis," Angga mengusap air mata Rena, sedangkan tangannya yang lain memeluk punggung istrinya.


"Ibu Mas! Ibu maksa Rena untuk ikut ke Balikpapan. Rena nggak mau Mas!" Rengek Rena pada suaminya.


Dengan spontan Angga melihat tajam ke arah ibunya meminta penjelasan.

__ADS_1


Wanita paruh bayah itu mengangkat bahu sambil berpura membenarkan letak tasnya ke pundak.


"Ibu nggak maksa, Ibu cuma minta Rena temani ibu, sekalian biar bisa survei tempat untuk toko barunya. Ada yang salah?" seru Bu Sinta enggan disalahkan.


"Nggak! Ibu tadi maksa Rena untuk ikut. Supaya Rena nggak ganggu Mas sama menantu kesayangan ibu yang lagi hamil," oceh Rena semakin erat memeluk suaminya.


Bu Sinta cuma geleng-geleng, sudah empat tahun wanita itu menjadi menantunya. Tentu saja ia hapal karakter menantunya kalau sudah keras kepala dan manja pada suaminya.


"Bu, kalau Rena ikut ibu, nasib aku gimana dong Bu," seru Angga lembut seperti biasanya.


"Ya tinggal datang ke Balikpapan, cuma satu jam sudah sampai!" ujar Bu Sinta.


"Aku butuh Rena tiap saat Bu. Kalau begitu, Aku nanti yang kecapean di jalan. Bisa - bisa belum sempat tempur udah lo-yo duluan."


Rena jadi tertawa kecil dan langsung mencubit perut suaminya.


Bu Sinta langsung menjewer telinga anaknya. "Kamu tuh Ngga. Kebiasaan! Nggak sopan."


"Makanya Bu, Rena jangan dibawa pulang ya. Nanti kita berkunjung ke rumah ibu kalau sudah ada waktu senggang."


"Ya udah terserah kalian! Ibu mau ke kamar Celin dulu. Kalian jangan peluk-pelukan disini nanti ada yang lihat!" Bu Sinta berdiri melangkah cepat meninggalkan menantu dan putranya itu.


"Udah aman sekarang Dek, nanti lanjut dirumah aja peluk-pelukannya," goda Angga.


"Mas ih, mesum!" Rena menghujani lagi perut suaminya dengan cubitan.


"Ampun Dek!" Angga mencoba menghindari istrinya.


Hati Angga menjadi teduh, akhirnya hari ini bisa melihat lagi senyum lebar istrinya.


.


.


.


.


.


Bersambung ......


Makasih yang masih setia nunggu lanjutan cerita Ei yang satu ini.....

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘😘


__ADS_2