
Rena mengunakan handuk kecil untuk mengeringkan tubuh bocah laki-laki umur tiga tahun itu. Selama tinggal di rumah kakak iparnya, Rena mengajukan diri jadi babysister dadakan untuk cucu kakak iparnya. Setelah tubuh bocah itu kering, ia membalurinnya dengan minyak telon, bedak dan parfum bayi.
"Udah ganteng anak Ibu." Rena membetulkan kerah kaos balita mungil itu. "Sayang dulu Ibunya," Rena menepuk pipinya dengan jari. Balita itu langsung mencium pipi kanan wanita yang usai memandikannya itu.
Meskipun tubuh Rena lelah karena sejak tadi menghabiskan waktu seharian bersama Arzen. Main lari-lari, jadi kuda-kudaan, kadang ia juga jadi monster yang di pukuli Ultraman kecil. Ia sama sekali tak keberatan justru malah merasa senang, ia menemukan suasana baru untuk sejenak.
Layar ponselnya bergetar menandakan telepon masuk. Ia segera meraih ponsel, menjawab panggilan video dari suaminya.
Rena memangku balita mungil itu untuk ikut berbicara dengan pria yang ada layar ponselnya.
"Halo Paman, Arzen ganteng kan udah mandi sama Ibu tadi," seru Rena menirukan suara anak kecil sambil menggerakkan tangan keponakannya.
"Gantengnya Cucu Paman. Ibunya juga cantik! Mau ikut antar ibu ya."
"Kita mau ke mall dulu, Arzen mau makan ayam goreng." Seru Rena lagi menirukan suara anak kecil sambil memeluk balita tiga tahun itu.
Pria layar ponsel hanya tersenyum melihat keakraban istrinya dan balita laki-laki itu.
"Mami, Daddy!" balita itu meloncat ketika orang tuanya memanggilnya. Rena pun melepaskan pelukannya membiarkan balita mungil itu melepaskan rindu dengan daddy dan maminya yang baru datang.
Rena masih setia menatap layar ponsel sejak sepuluh menit lalu. Pria dari balik layar ponsel terus menanyakan kegiatannya dari A sampai Z selama seharian di rumah kakaknya.
"Malam ini jadi pulang kan Dek," tanyanya lagi.
"Ya, tapi masih kangen sama Arzen, bisa nambah sehari lagi nggak Pak Angga," goda Rena.
__ADS_1
Rena langsung disuguhi wajah cemberut suaminya. "Nanti, Mas jemput!" titahnya lagi.
"Iya, iya .... Kalau begitu Rena mau siap-siap dulu Mas."
"Ya udah, assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumusalam," jawab Rena.
Rena pun bergegas menuju kamarnya untuk bersiap, tapi langkahnya terhenti ketika melihat sahabatnya berserta suami dan Arzen bercanda bersama. Sungguh keluarga yang sempurna! Kapankah ia bisa merasakan hal yang sama seperti sahabatnya? Hatinya kembali dihinggapi rasa nyeri.
Suaminya memang tak pernah menuntut perihal anak padanya selama empat tahun pernikahan. Tapi dari lubuk hati Rena yang paling dalam, sungguh ia merasa belum sempurna menjadi istri jika tak bisa memberikan hal itu.
Keadaan yang sekarang sudah berbeda, sebentar lagi suaminya juga akan merasakan hal yang sama dengan keluarga Arzen. Tapi bukan dengan dirinya tapi dengan adik madunya. Lantas bagaimana dengan dirinya setelah anak itu lahir?
Apakah ucapan buruk sepupu suaminya akan terjadi?
Rena mengelengkan kepalanya tak sanggup membayangkan jika itu terjadi!
"Ren," tegur Davin suami sahabatnya pada Rena yang mematung.
"Ya Bang," Rena langsung terbangun dari lamunan menghampiri keluarga Arzen ikut bergabung duduk di sofa.
"Makasih Ya, udah jaga Arzen seharian. Jadi Mami sama Daddynya bisa keluar," seru pria tampan itu.
"Nggak gratis ya Bang. Bayaran untuk anak Pak Adiguna perjamnya sejuta loh," canda Rena.
__ADS_1
"Gampang kita kasih tiga kali lipat! Minta Bu Bos kita," canda Davin menyenggol lengan istrinya.
"Ini pada ribut, buruan siap-siap Bu Ren, katanya mau ngajak Arzen ngemall dulu sebelum ke bandara," oceh Abel.
"Kalian mau ke mall? Abang antar, sekalian mau ketemu sama anak teman Papa mumpung masih disini."
"Mau ketemu siapa lagi sih Bang?" sela Abel galak.
"Cowok Sayang, anak teman Papa," balas Davin membujuk istrinya.
Rena hanya geleng-geleng, memaklumi sahabatnya yang selalu curiga dengan suaminya itu.
"Aku siap - siap kalau begitu." Rena beranjak pergi
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung .....