
Rena melihat dari jendela kamarnya Jeep Wrangler hitam masuk ke halaman rumah. Buru- buru Rena mengambil kerudung instannya, ia bersiap menyambut suaminya dengan puluhan pertanyaan yang sudah bercongkol di kepalanya.
Ia sudah berdiri di depan pintu menunggu suaminya turun dari mobil. Segera ia raih tas yang ditenteng suaminya. Ia mencium punggung tangan suaminya.
"Ayo Mas kita langsung ke kamar!" seru Rena terlihat buru-buru ingin mengajak Angga menaiki tangga.
Digandengnya lengan suaminya itu tanpa basa-basi seperti biasa. Rena terus melangkah membimbing suaminya agar segera masuk ke dalam kamar.
Angga hanya menuruti keinginan istrinya yang begitu bernaf-su mengajaknya ke lantai atas.
Segera Rena mengunci pintu kamar itu agar mangsanya tidak bisa kabur ataupun mengelak.
"Tumben sih De, buru-buru mau ke kamar?" seru Angga bermaksud bercanda. Ia pun mulai melepaskan kancing kemejanya.
"Mas! apa benar Celin hamil? Tadi ibu yang cerita ke Rena!" ucap Rena mengeluarkan rasa penasaran.
Angga langsung terdiam, dipandanginya istrinya itu dengan tatapan yang entah! bagaimana ia harus bicara dengan Renata, tanpa menyinggung wanita yang dicintainya ini?
"Mas! Aku tanya! Mas kok diam sih!" Rena mendorong lengan keras Angga.
"Baru testpack Dek, belum dipastikan ke dokter," jawab Angga.
"Kalau garisnya dua, dia memang hamil Mas!" ucap Rena.
"Ya, Alhamdulillah kalau memang seperti itu," jawab Angga santai. Rena tak melihat raut wajah yang terlampau bahagia dari suaminya karena kehamilan Celin.
Rena langsung memeluk suaminya. "Akhirnya Mas, selamat ya Mas, sebentar lagi Mas akan jadi ayah."
"Kita yang akan jadi orang tua," balas Angga.
"Ya Mas, intinya Rena juga senang akan ada suara tangisan bayi dalam keluarga kita. Mas harusnya cerita, Rena juga ikut bahagia kok," jawab Rena tulus. Ia juga ikut senang karena suaminya akan menjadi seorang ayah, meskipun bukan dari dirinya, Rena berusaha mengesampingkan pergulatan dalam batinnya.
Angga membalas memeluk erat istrinya itu, ia juga ikut merasakan perasaan Rena. Dengan tahu Celin hamil, hanya akan membuat Rena istrinya semakin merasa kurang sempurna. Angga hanya butuh waktu untuk membicarakan dengannya, walaupun pada akhirnya Rena tahu sendiri tentang Celin.
__ADS_1
.
.
.
.
.
Rena akhirnya bisa memarkirkan lagi mobilnya di depan rumah. Bagaimana tidak, seharian ia mengurus dan turun tangan sendiri untuk kepindahan masalah pembukaan toko baru di Samarinda.
Rena memang tak mau salah pilih orang untuk mengurusi masalah usaha ini, termasuk menyeleksi gerai-gerai franchise-nya yang mengunakan nama Rengga Bread yang kini mulai menjamur di wilayah Kaltim. Ia selalu ingin menjaga kualitas dan keoriginalan roti duriannya yang kini melambungkan nama tokonya.
Terdapat banyak hikmah dari kesibukannya kali ini. Ia bisa sedikit teralihkan dari maslahah rumah tangganya yang semakin hari semakin membuatnya susah untuk bernafas.
Dengan begini juga ia bisa menulikan pendengaran dari omongan keluarga dan tetangganya yang mulai menaruh belas kasih padanya karena menjadi wanita korban poligami. Apalagi jika semua orang tahu kalau kini sang madu tengaj hamil. Habislah Rena dari sasaran gunjingan Orang-orang. Sungguh pergorbannya kali ini untuk suaminya benar-benar menyayat menembus ulu hatinya.
Dimana Mas Angga? Kenapa hanya ada Leo.
Sungguh sangat kebetulan ia berpas-pas dengan Celin. Semenjak tahu kehamilan Celin, ia tak pernah bertemu ataupun bertegur sapa sekalipun dengan adik madunya itu.
"Kak Ren, baru pulang kerja?" sapanya yang dibalas senyum manis oleh Rena.
"Ya, kamu sendiri dari mana?" tanya Rena pada wanita berkurang coklat itu.
"Dari dokter Kak," jawab Celin sambil meremas buku pink di tangannya.
"Oh ya Allah, kok kamu sendirian sih! Mas Angga mana? Kamu nggak ditemani sama Mas Angga," tanya Rena.
"Tadi aku ditemani Mas Angga Kak, Mas Angga balik lagi ke kantor. Jadi aku di antar pulang sama Pak Leo," jawab wanita itu.
Tentu saja! Tidak mungkin Mas Angga membiarkan ibu dari anaknya ke dokter sendiri. Ya Allah rendamkanlah walau hanya sebentar rasa panas ini.
__ADS_1
"Gimana bayinya?" tanya Rena dengan meredam semua rasa cemburu yang tak berhenti membakar raganya.
"Alhamdulillah sehat Kak, sekarang udah masuk enam minggu kata dokter," balas Celin. Sungguh Celin ingin sekali menunjukkan foto USG yang ada di tangannya. Tapi ia ingat pesan suaminya, jangan tampakkan apapun yang bisa menyakiti hati Kakak madunya.
"Alhamdulilah kalau begitu," jawab Rena.
"Kak, aku permisi mau balik dulu, udah mau magrib."
"Iya, iya," Rena memberi jalan pada adik madunya ke rumah sebelah.
Halaman rumah keduanya memang sengaja di renovasi buat jadi satu, itu semua atas ide Renata. Ia hanya tidak ingin mempersulit penjaga rumah untuk mengawasi kedua rumahnya. Terutama juga ia bisa mengawasi suaminya apa bila lupa jalan pulang.
Di awasinya sang madu yang kini berbadan dua ini hingga lama-lama menghilang dari pandangannya. Buru-buru ia masuk ke dalam rumah, Rena butuh berendam air dingin sekarang.
.
.
.
.
.
Bersambung .......
satu dulu ya dear Ei usahakan akan up lagi nanti πππ
Jangan lupa selalu tekan Like, ketik komen kirim hadiah atau vote. Terima kasih
Loph selalu sekebon sawit,
Einazπ
__ADS_1