
Rena masih berada dibalik pintu. Ia tak mendengar lagi suara suaminya yang memanggil namanya. Ia butuh waktu untuk berpikir.
Hari ini seperti akumulasi jukir balik rumah tangganya karena poligami. Kenyataan yang baru saja diterimanya tentang suami dan madunya. Kecurangan orang-orang serakah yang memanipulasi dirinya. Dan suaminya yang salah paham padanya. Semuanya bercampur menjadi satu dalam pikiran Rena hingga membuat emosinya meledak-ledak dan tak bisa berpikir logis untuk mengontrol dirinya.
Ia tak bisa terus seperti ini! Ia tak bisa lagi membagi cintanya. Ia tak ingin kesabarannya hanyalah wujud keinginan ambisi untuk seseorang. Ia ingin semuanya kembali utuh. Ia tak mau lagi merasakan sakitnya berbagi menghinggapi dirinya.
Tapi apa itu mungkin? Benar apa kata sang madu, ia tak boleh melibatkan anak yang tidak berdosa. Ia tak mungkin mendzolimi nasib mahluk kecil yang di aliri darah suaminya.
Rena berlari menuju pintu. Ia membuka pintu dan mendapati suaminya yang tertunduk lemah di depannya.
"Mas!" seru Rena.
Angga langsung mendongak dengan spontan. Hatinya terasah lega setelah dua jam duduk pintu menunggu istrinya. Ia bangun mendekat ke arah istrinya. Ketika hendak memeluk, Rena melangkah mundur menghindari suaminya.
"Masuk!" sentak Rena.
Angga menurut dan masuk ke dalam kamar berukuran tak terlalu besar itu. Rena menutup pintu.
"Dek, semuanya benar-benar di luar bayangan Mas juga!" Angga membuka suara memulai penjelasan.
"Wanita itu dan orang tuanya yang membuat semuanya seperti ini Mas! Mereka sengaja membuat penengah di antara kita!" Rena menyeka sisa air matanya
"Jangan cemas Dek, Mas akan selesaikan masalah itu De!" ucap Angga berusaha mendekat.
"Tunggu Mas! Satu hal lagi yang membuat Rena semakin kecewa!
Tidak pernah ada rahasia di antara kita! Tapi kenapa Mas tidak pernah bicara yang sebenarnya kalau Mas dan Celin saling mengenal pernah menganggumi! Aku sudah curiga karena tidak ada kecanggungan sama sekali yang Mas tunjukan ketika bersama Celin!" Sentak Rena.
__ADS_1
"Itu hanyalah masa lalu Dek! Sekarang semuanya sudah berubah! Mas menyayangi Celin selayaknya tugas sebagai seorang suami! Tapi hati Mas tak pernah berubah hanya untuk kamu!"
"Tapi tidak akan lagi Mas! Dulu Rena selalu berpikir kita akan berdua akan menjalani rumah tangga ini hingga mautlah yang memisahkan kita. Rena selalu berharap akan seperti Khadijah dan Fatimah yang tak pernah di madu hingga tutup usianya. Tapi aku harus rela harapan itu pupus karena desakan menjaga kehormatan suamiku!" Rena mendongak agar air matanya yang mengenang tidak tumpah lagi.
"Aku merasa kesabaran dan keikhlasan yang aku lakukan selama ini mendapat balasan pahit Mas! Aku tidak pernah membenci sunnah Rasulullah tapi aku benci cara Mas menikahi Celin. itu jahat! Jahat Mas!" Rena sekarang memukul dada Angga.
Angga merengkuh Rena yang terisak ke dadanya. Ia mendekap erat sang istri setelah jarak yang dibuat oleh istrinya.
"Sakit Mas! Apa salahku hingga dicurangi semua orang!"
"Nggak ada sayang! Adek istri paling sempurna yang pernah Mas miliki!"
Rena mendongak menatap suaminya yang juga terlihat merah pada kedua matanya.
"Seandainya Mas menikahi gadis yang polos dan benar-benar ingin menjaga kehormatan kalian berdua. Rena masih bisa terima dan belajar lagi untuk selalu ikhlas! Tapi ....!" Rena tak meneruskan kalimatnya karena terlalu nyeri untuk mengingat semua.
Rena meraih dari atas meja. Ia menyerahkan pada Angga dan memberi isyarat agar sang suami membacanya. Angga dengan singgap menunduk memahami tulisan yang ada di dalam iPad itu. Ia semakin mengengam erat tangan Rena yang terasa dingin. Angga mengelengkan kepalanya cepat! Ia lurah di pangkuan Rena. Rena mendongakkan wajah tak ingin menatap suaminya yang sama kacaunya dengannya.
Hati Angga terasa hancur luluh lantah sekarang. Sesuatu yang ditakutinya ada dalam genggaman tangannya.
"Jangan Dek! Mas Mohon jangan ini!" Angga terisak dan tak berhenti mengecupi tangan Rena.
"Mas, tak bisa Rena pungkiri pernikahan kalian juga tak lepas dari izin Allah! Tapi untuk kali ini biarkan Rena memilih jalan untuk kita Mas!" ucap Rena di sela isakannya tapi berusaha untuk tegar.
"Jangan seperti ini Sayang! Mas mohon! Kita akan bisa bahagia bersama menuju surgaNya seperti impian kita! Kita akan bahagia! Jangan suruh Mas melakukan ini, mas mohon Sayang." Angga masih mencoba meyakinkan sang istri.
"Rena tak bisa memilih Mas, Rena sangat ingin egois untuk bersama Mas. Tapi bagaimana dengan makhluk kecil yang tak berdoa itu Mas! Tak pernah terbesit di pikiran Rena untuk melakukan perkara yang di benci oleh Allah. Tapi kali ini aku benar-benar nggak bisa Mas!" Rena bangkit menjauh dari suaminya.
__ADS_1
Rena menyeka air matanya dan menoleh pada Angga. "Batalkan isbath nikah poligami ini Mas, atau jatuhkan talak padaku!" ucapan Rena dengan bibir yang bergetar.
Angga langsung lemas mendengar ucapan itu langsung dari Rena.
"Kali ini Mas yang harus memilih, karena Rena tahu ada hak makhluk tak berdosa yang harus penuhi!"
Rena kembali menatap ke depan, ia tak ingin semakin banyak mengeluarkan air matanya yang terus mendesak keluar. Sungguh keputusan yang besar untuk Rena selama ia hidup, ia tak pernah berpikir akan mengucapkan hal ini sampai kapanpun. Tapi kali ini Rena tak ingin lagi rumah tangganya terbagi dengan alasan apapun. Meskipun Rena tak tahu nantinya ia akan bisa kembali menjalani rumah tangga sakinah dengan suaminya atau malah berakhir sebaliknya.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung ......
Gimana kalau ada di posisi Rena dear? Tidak ada sebenarnya wanita manapun yang ingin bercerai? Apalagi masih banyak benih cinta di Antara keduanya. Tapi di sisi lain, Ia memang marah! tapi wanita lembut seperti Rena. Apa bisa mendzolimi bayi tak berdosa di rahim madunya?
Next part apa yang terjadi?
__ADS_1
Makasih Reader terloph sekebon sawit yang masih ikuti kisah Rena, Angga dan Celin yang udah menjelang akhir-akhir ini!