Surga Yang Berbeda

Surga Yang Berbeda
Aib Suamimu


__ADS_3

Rena meraba-raba samping tempat tidurnya. Kenapa tidak ada lagi guling hangat yang baru saja menghangatkannya. Rena membuka mata dan benar sisi ranjang sebelahnya kosong!


Ia langsung mengambil remote dan menyalakan lampu. Kamarnya kosong, tidak ada suaminya di sofa ataupun disisi lain dalam kamarnya.


Kemana suaminya? Sudah pasti ke sebelah! kemana lagi!


Dengan kesal Rena keluar kamar dan menuruni tangga. Rena berpas-pas dengan pria yang baru saja masuk ke dalam rumah. Tentu saja Rena sangat tahu pria itu adalah suaminya.


"Darimana Mas?" tanya Rena mengaung di ruangan tamu yang sepi.


"Astagfirullahaladzim, Dek. Kamu bikin Mas jantungan." Angga mengelus dadanya.


"Mas darimana? Hobi banget sekarang keluar malam-malam tanpa bilang-bilang," ucap Rena kesal melipat kedua tangannya di atas dada.


"Mas belikan susu sama vitamin untuk Celin," seru Angga.


"Memang dia enggak bisa beli sendiri Mas, mentang-mentang sekarang dia hamil, bisa nyuruh-nyuruh Mas seenaknya. Malam-malam begini nganggu orang mau tidur," oceh Rena kesal.


"Dia nggak nyuruh Mas Dek," balas Angga dengan nada lembut.


"Terus kalau dia enggak nyuruh, ngapain Mas repot-repot keluar malam-malam!" balas Rena menaikkan nada suara satu oktaf.


Angga menghembus nafasnya kasar, gimana menjelaskan pada istrinya yang sedang dalam kondisi emosi.


"Dek, Mas takut kelupaan kalau beli nunggu besok, kata dokter, vitaminnya harus diminum sebelum tidur."


"Memang dua pembantu di rumahnya kurang ya! Sampai nggak bisa disuruh."


"De, mereka sudah kerja seharian. Kasian kalau harus merepotkan lagi malam-malam."


"Terserah Mas lah! Mau beli Vitamin atau apa sama istri Mas, aku enggak peduli! Mau tidur!" Rena berlari menaiki tangga.


Ia langsung menjatuhkan dirinya di ranjang. Memang tidak ada yang salah jika suaminya perhatikan pada istrinya yang sedang hamil! Cuma Rena kesal dengan Angga yang membela istrinya. Sungguh berbagi perhatian suami ini menyiksa dirinya.


Kenapa aku jadi uring-uringan begini.


Rena merasa gerakan di ranjangnya. Tangan besar mulai menyentuh pundaknya di sertai kecupan disana.


"Maaf," seru Angga kini melingkar tangan di perut istrinya. Rena berusaha menepis tangan suaminya. Tentu saja gagal karena tenaganya tak sebanding.


Air mata Rena pun jatuh, sungguh cemburu ini hampir menghilangkan kewarasannya.


"Tadi sore Mas lupa bilang sama Leo untuk mampir ke apotik belikan susu dan vitamin untuk Celin. Maafkan Mas, jika Adek merasa apa yang Mas lakukan ini salah." Angga semakin menenggelamkan kepalanya di lekukan leher istrinya.


"Nggak ada yang salah disini, sekarang kita tidur Rena ngatuk dan Mas jangan pergi-pergi lagi!" Rena menyeka air matanya, ia menarik tangan suaminya agar semakin erat memeluknya.

__ADS_1


.


.


.


.


.


Rena memilih taman belakang untuk mengoperasikan laptop, ia menyusun materi yang akan disampaikan untuk seminar. Ya, selain mendatangi toko baru yang ada di Samarinda, ia juga di undang Dinas koperasi dan UMKM setempat untuk menjadi salah satu narasumber seminar tips kiat sukses membangun usaha mikro. Roti durian yang menjadi andalan tokonya kini menjadi viral di wilayah Kaltim dan kaltara.


Berhubung semalam bukan jadwal gilirnya bersama Angga. Ia bisa mengerjakan materi dengan tenang. Pagi ini ia hanya tinggal menyusun untuk menjadi rangakaian materi yang mudah dimengerti.


Bukan maksud untuk menguping, tapi suara dari Laundry room rumahnya yang berdekatan dengan taman belakang sentak mengalihkan konsentrasinya.


Tentu saja itu suara adik madunya dan mbak Marni asisten rumah tangganya. Laundry room rumahnya dan madunya memang dibuat menjadi satu ruangan yang belum di sekat. Tadinya hal ini bermaksud memudahkan pembantu yang mengurusi pakaian untuk dua rumah. Rena jadi teralih melihat adik madunya yang merangkul sprei warna biru muda itu.


"Nggak apa Mbak, taruh aja biar saya yang cuci," seri Mbak Marni.


"Nggak apa-apa Bi, biar saya sendiri aja," balas Celin malu.


"Tunggu sebentar ya Mbak cantik, mau masukin ini dulu," sahut Mbak Marni menunjuk tumpukan pakaian. Celin hanya mengangguk.


"Segera periksa saja Mbak takut kenapa-kenapa?" sahut sang ART.


"Memang Bapak nggak dikasih tahu Mbak, kalau hamil harusnya pelan-pelan."


"Udah Bi, Mas Angga saja yang susah suruh ngerem, saya ngikut saja," jawab Celin santai.


Telinga dan hati Rena sungguh panas mendengar perkataan terakhir dari madunya itu. Tangannya mengepal menahan emosinya. Apa wanita itu sedang tidak waras membicarakan masalah ranjang dengan orang lain.


"Kalau sudah maunya suami, susah nolak ya mbak, tapi saya nggak nyangka Bapak yang orangnya kalem, tenang, tenyata bisa ganas juga sama istri," ucap Mbak Marni.


Tentu saja Rena tak bisa diam saja kali ini mendengar nama suaminya terus jadi bahan ghibah dua orang yang ada ruangan sebelahnya.


"Mbak Marni!"


"Ngeh Bu," jawab Mbak Marni kaget mendengar suara keras majikannya.


"Tugas Mbak Marni disini membantu mengurus rumah bukan menjadi teman ghibah majikan!"


"Ngeh Bu, Maaf!" jawab Marni menunduk takut dengan majikannya yang terlihat marah.


"Kak Ren," Celin memegang tanga Rena mencoba membela Mbak Mirna.

__ADS_1


"Dan kamu Celin! Taruh sprei kamu! Biar Mbak Marni yang cuci!"


"Tapi Kak ...."


"Taruh!" bentak Rena, tentu saja ia tahu ada noda darah akibat percintaannya di sprei itu. Meskipun madunya berusaha menutupi.


Dengan cepat Celin menaruh sprei itu didalam keranjang yang kosong.


"Ikut aku!" Rena menarik tangan Celin kasar.


Rena berhenti ketika berada di taman belakang rumahnya. Dipandangnya dengan tatapan marah sang madu yang memancing emosinya itu.


Sedangkan Celin hanya pasrah dan diam melihat kakak madunya yang terlihat begitu marah padanya dan Mbak Marni.


"Celin! Apa Mas Angga nggak pernah menasehati kamu. Bagaimana hukumnya seseorang yang menceritakan urusan ranjang dengan orang lain!"


"Kak Ren, aku sama sekali nggak bermaksud seperti itu."


"Pasang telinga kamu baik-baik, orang yang mengumbar urusan ranjang dengan orang lain. Nabi memperumpamakan setan perempuan dan setan laki-laki, setan laki-laki menjima' perempuannya dan di saksikan banyak orang! tahu kamu!"


Celin hanya menunduk sambil menahan air mata yang mulai mengenang di pelupuk matanya.


"Dan orang yang seperti itu! orang yang kedudukan paling buruk kedudukannya disisi Allah nanti di hari kiamat!" sambung Rena masih dengan suara tinggi.


"Iya kak, aku benar-benar enggak bermaksud seperti itu," balas Celin pasrah dadanya terasa sesak dengan sikap tak biasa kakak madunya.


"Jangan di ulangi lagi, secara enggak langsung kamu membuka aib suamimu sendiri!" Rena pun pergi meninggalkan adik madunya, sebelum tangannya tak bisa menahan gatal ingin menampar mulut wanita didepan itu.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung .......


Ei buat part-nya panjang ya enggak dibagi dua..

__ADS_1


jangan lupa tinggalkan jejak like, beri komentar, kirim hadiah dan vote 😘😘😘


__ADS_2