Surga Yang Berbeda

Surga Yang Berbeda
Bersikeras


__ADS_3

Angga masih menatap istrinya itu lekat-lekat. Kini keduanya sudah berada di ruangan Angga di kantor perkebunan. Setelah masalah di balai desa selesai dengan keputusan Angga dan Celin akan di nikahkan dalam waktu dekat dengan disaksikan beberapa saksi dari tokoh masyarakat.


Renata Istrinya datang ke perkebunan dengan menggunakan mobil khusus yang di fasilitasi perusahaan. Istirnya memang datang satu mobil bersama Pak Bramantyo, dan juga tiba-tiba mengambil keputusan yang mengejutkan Angga.


"Kopi Mas," Rena menyodorkan cangkir di depan meja Angga. Ia berusaha memecahkan keheningan dan tak setegang ini ketika berdua dengan suaminya.


"Dek! Apa yang Pak Bram katakan sehingga kamu tiba-tiba menyuruh dengan sukarela Mas menikahi Celin!" sentak Angga dengan suara sedikit keras. Angga akhirnya bisa meluapkan sedikit rasa kecewanya pada Rena. Angga sangat yakin ada sesuatu yang mengerakkan hati Renata hingga mengambil keputusan sebesar ini.


"Pak Bram hanya mengatakan tidak ada yang lebih bisa menolong Mas dan Celin selain menikahkan kalian Mas, dengan begitu semuanya akan kembali tenang," sahutnya tenang.


"De, kenapa jalan pikiran kamu pendek sekali, mana Renata istri Mas yang pandai mengatur strategi. Pasti ada jalan lain Sayang." Angga berlutut di depan pangkuan istrinya.


"Mas, kali ini Mas Angga harus menikah dengan Celin." Rena berusaha menahan air matanya yang akan jatuh. Ia berusaha meyakinkan hati suaminya dengan pilihannya.


Angga kembali berdiri. "Kamu iklhas! Kamu rela berbagi suami dengan wanita lain? Kamu rela jika nanti waktu yang biasanya hanya Mas berikan untuk kamu akan terbagi. Kamu rela jika nanti cinta dan perhatian Mas bukan hanya untuk kamu tapi juga untuk istri mas yang lain!"


Rena terdiam, sejenak ia memikirkan ucapan Angga yang sempat mengoyakkan keyakinannya.


"Kamu juga mau jika nanti Celin hamil lebih dulu, Mas lebih perhatian dan lebih banyak menghabiskan waktu bersama Celin!"


"Sudah Mas!" Rena Berdiri memeluk Angga. Ia tak sanggup harus mendengar lagi perkataan suaminya.


"Apa Adek yakin Mas bisa berbuat adil tanpa condong pada salah satu di antara kalian?" kali ini Angga berucap pelan di telinga Rena sambil mengelus kepala istirnya.


Angga melepaskan pelukannya, ia mengenggam erat tangan istrinya. "Poligami gak semudah itu Sayang! Mas harus bisa berbuat adil pada kalian berdua jika tidak ingin punggung mas miring di akhirat nanti."

__ADS_1


"Rena yakin Mas bisa berbuat adil untuk itu," jawab Rena menangkap wajah suaminya.


"Adek,"


"Bukankah ada pahala yang besar juga untuk istri yang ikhlas di poligami." Rena tak ingin merubah keputusannya. Meskipun entah bagaimana nanti takdir yang menentukan jalan hidupnya.


"Masih banyak cara untuk mencari surga Sayang, kenapa kamu harus memilih seperti ini."


Rena tak bisa menjawab, ia malah merebahkan kepalanya di dada suaminya. Memeluk dengan erat karena nanti ia yakin tak akan bisa lagi memiliki raga ini sepenuhnya. Bukan tanpa alasan Rena merelakan suaminya menikah lagi, ia merasa sudah mengambil keputusan yang seharusnya.


.


.


.


.


Ia tak pernah menyangka mengalami hal yang begitu tragis hingga membuatnya harus menikah di usianya yang masih begitu muda. Sungguh ia masih ingin melanjutkan masa-masa kuliahnya hingga menjadi sarjana. Ia memang senang akan menikah dengan pria yang baik, tapi pria yang akan menikahinya adalah pria yang telah beristri.


Tak pernah sedikitpun ia membayangkan akan menjadi istri kedua untuk seseorang. Stigma orang tidak akan pernah baik untuk istri kedua. Mereka pasti menganggap tak ada bedanya istri kedua dengan pelakor? Tidak! Ia bukan wanita seperti itu, ia menikah karena ijin dari istri pertama calon suaminya. Ia juga rela menjadi istri kedua untuk wanita itu karena keadaan.


Celin memang sangat meganggumi Angga, tapi bukan berarti ia ingin menjadi istri keduanya. Ia tak ingin menikah dengan Angga dengan cara seperti ini. Tapi semua terjadi begitu cepat dan tentu waktu tidak akan bisa di putar. Mungkin inilah jalan takdirnya hampir di lecehkan seseorang dan ditolong calon suaminya. Sungguh! Bagaimana rumah tangganya kelak, ia tak bisa membayangkan bagaimana hidup berpoligami.


Ia hanya bisa berharap calon suaminya bisa memperlakukannya dengan baik mengingat pernikahan ini hanya karena kecelakaan dan kesalahpahaman.

__ADS_1


"Celin! Papi yakin Pak Angga akan bisa menjaga kamu dengan baik meskipun dia juga punya istri."


"Ya Pi, Celin akan berusaha juga memposisikan diri dengan baik di antara mereka."


"Maafkan Papi Nak, karena keadaan ini kamu harus menjadi istri kedua seseorang. Sungguh ini di luar kuasa Papi. Mungkin ini sudah jalan yang di gariskan untuk kita. Kamu yang baru saja bersama papi harus pergi lagi bersama suamimu nanti."


"Justru Celin takut dengan Pak Angga bisa menerima atau tidak pernikahan ini, dia yang menolong Celin, ia juga harus menanggung resikonya."


"Kamu tak perlu kuatir Sayang, Pak Angga sudah setuju kan akan menikahi kamu, dia pasti akan bertanggungjawab atas kamu dan juga istrinya."


Rasa bersalah tiba-tiba menyelimuti hati Celin. Sanggupkah ia berbagi dengan wanita sebaik istri calon suaminya Renata.


Sungguh tak bisa ia bayangkan masa depannya nanti. Ia berusaha berpikir positif kelak semuanya akan berjalan baik-baik saja meskipun ia tidak yakin dengan hal itu.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2