
Tidak biasanya Rena masih terjaga usai menuntaskan kebutuhan batinnya. Ia memang juga merasa lelah, tapi Ia masih senang memandangi wajah lelah suaminya yang terbaring di samping. Diusapnya peluh yang menetes di pelipisnya. Suaminya ini kenapa semakin hari semakin tampan, pantas saja karyawati di tempat suaminya kerja selalu saja memuji-muji Angga. Hal itu kadang membuatnya kesal. Bisa kah ia selalu memiliki Angga seutuhnya sampai kapanpun, meskipun sekarang, dirinya selalu merasa kurang sempurna sebagai seorang Istri.
"Mas, Andai benih ini di tanam di lahan yang 1tepat pasti nggak akan terbuang sia-sia, pasti sekarang kamu sudah bisa di panggil ayah," guman Rena di dada suaminya yang terlelap.
"De, kamu ngomong apa sih, kalau di aminkan malaikat Gimana?"
Rena langsung mendongak melihat Angga yang ternyata belum tidur.
"Mas, ternyata belum tidur?"
"Kalau Ade ngomong terus gimana Mas bisa tidur, kurang ya Sayang." Angga mempererat pelukannya pada Rena.
"Ih, Mas." Rena memukul lengan suaminya. Inilah salah satu usaha Rena untuk menyenangkan suaminya, ia selalu berusaha menyenangkan semaksimal mungkin ketika beraktivitas ranjang. Meskipun sampai detik ini belum membuahkan hasil yang diinginkan selain kepuasan batin.
Rena sudah bersiap dengan gamis maroon dan jilbab Salem panjang hingga punggung berwarna hitam. Setiap Minggu pagi ia selalu menyempatkan diri untuk datang ke acara kajian rutin mingguan di salah satu masjid di kota ini.
Rena berjalan ke ruangan sebelah kamarnya yang di peruntukan untuk beberapa alat gym yang di beli suaminya karena pengaruh kakak iparnya. Semenjak menempati posisi kerjanya sekarang Angga memang lebih punya banyak waktu luang di bandingkan ia menjadikan direktur IC di kantor yang ada di perkebunan, hari minggu saja kadang suaminya itu harus berkerja.
Waktu senggang yang ada kadang ia manfaatkan untuk berolah raga, untuk memperkuat stamina dan kesehatan fisiknya yang sekarang hanya berkerja di balik meja dalam kantor.
Rena hanya melonggo melihat suaminya yang menaik turunkan alat angkat beban gym dengan peluh yang menetes di lengannya. Otot lengan suaminya terlihat keras membentuk guratan- guratan. Terbayangkan betapa maskulinnya suami Rena sekarang.
Sungguh pemandangan pagi yang membuat pikiran Rena jadi ternodai, padahal semalam Rena sudah menuntaskan hasrat sampai beberapa kali.
__ADS_1
Cup
Satu kecupan di bibir membangunkan lamunan Rena. Ia sungguh tak menyadari suaminya sudah ada di hadapannya.
"Heh! Ngelamun ditemani setan Lo," ucap Angga.
"Mas Angga, keringatnya ih," Rena mengelap wajahnya yang terkena keringat suaminya.
"Tapi Ade suka kan," goda Angga. Rena hanya tersenyum malu, tentu suka dong, ia selalu suka aroma alami suaminya.
"Bau Mas," canda Rena menutup hidungnya.
Rena menyerahkan handuk pada suaminya. "Mas ini jam berapa? Nanti kita telat loh ke kajian ustadz Zaid."
"Ya ampun Mas sampai lupa, Ade tunggu sepuluh menit." Angga mencium pipi Rena dan berlari menuju kamarnya.
"Mas Angga!" Rena mengelap kembali pipinya yang sudah makeup karena keringat suaminya.
Rena mengaduk-aduk kopi sambil menunggu suaminya yang juga belum turun dari kamar.
"Ayo Sayang," Angga sudah Rapi dengan kokoh abu-abu dan celana Chino warna cream.
Rena segera bangkit mengandeng lengan suaminya menuju garansi.
__ADS_1
"Kita pake mobil kamu aja De." Angga menekan remote hingga mobil keluaran BMW itu berbunyi.
Rena segera masuk di kursi penumpang depan ketika Angga membukakan pintu. Angga menyusul menempati kursi kemudi dan segera menyalakan mesin untuk segera pergi.
"Ade, udah tahu tema kajiannya," Angga membuka pembicaraan di dalam mobil.
"Tadi nggak sempat baca ulang," sahut Rena.
"Tentang poligami loh," terang Angga.
"Ehm ... biasa saja sih. Sama seperti kajian-kajian yang biasanya," balas Rena santai. Meskipun ia sedikit was-was dengan tema kajian kali ini.
"Di Zaman Rasullullah, Poligami dilakukan untuk kepentingan dakwah, menaungi para janda dan mempererat hubungan kabilah."
"Hmmm ...," tanggapan Rena malas.
"Kalau menurut Ade. Gimana suami yang memiliki lebih dari satu istri?"
"Menurutku sih enggak masalah asal ...."
"Asal adil kan Sayang," sambar Angga cepat.
Rena mengeryitkan dahinya menatap Angga. "Asal itu bukan Suamiku!" jawab Rena melotot ke arah Angga.
__ADS_1
Angga terkekeh sambil mengacak kepala istrinya yang terbalut kerudung. Angga malah merasa lucu lihat Rena yang sedang cemberut.
Bersambung .....