
Rena hanya bisa menangis di bawah rekuhan ibu mertuanya. Kedua wanita itu saling memeluk memberi kekuatan satu sama lain. Semua orang tak berkutik walau hanya sekedar bersuara dini hari ini. Semua wajah tegang, sedih dan penuh harap, itu yang bisa Rena saksikan.
Rena tak pernah menyangka suaminya akan langsung pergi ke rumah Celin malam itu juga setelah pergi dari rukonya. Ia sungguh tak mengira suaminya melampiaskan amarahnya pada wanita yang sekarang berjuang melawan hidup dan mati di ruang operasi.
.
.
.
Hati wanita mana yang tak hancur ketika suaminya memutus pernikahan mereka. Celin terus terisak kencang rasanya begitu sakit! hatinya hancur terburai, ia tak sanggup bahkan hanya sekedar untuk berdiri. Tendangan sang jabang bayi dari perutnya seolah menyadarkan dirinya untuk tak hanya tinggal diam. Ia tak bisa kehilangan Angga, ia tak bisa berpisah dari suaminya. Ia tak bisa membiarkan ayah dari anaknya itu meninggalkannya. Wanita itu mulai bangkit dari pelukan sang ayah, tentu ia mendapati suaminya yang sudah tak ada di hadapannya.
"Pi, Mas Angga! Nggak Pi, Celin nggak bisa pisah dari Mas Angga. Anak ini butuh ayah dan ibu yang lengkap." Ronta wanita itu, ia berdiri cepat.
"Cel, sudahlah itu bisa diselesaikan besok!" Pak Bramantyo segera berdiri mengikuti Celin yang melangkah cepat ke luar seperti tak mengidahkah dirinya.
Celin melihat depan pagar halaman rumahnya.
"Mas Angga!" teriaknya ketika mendapati Jeep Wrangler hitam yang akan keluar dari pagar rumahnya.
"Mas Angga!" Wanita itu berlari menahan bobot perutnya yang besar.
Mobil Angga sudah menyebrang melintasi jalan. Celin tak menyerah seolah langkah lemahnya bisa menandingi laju kendaraan roda empat itu.
__ADS_1
"Mas Angga!" teriaknya. Wanita itu menyebrangi jalan tanpa memperdulikan suara klakson apalagi kendaraan yang melintas.
Hingga tepat di tengah jalan, wanita itu tak menyadari ada mobil bak terbuka melaju kencang tak bisa mengontrol laju kendaraan. Tubuh wanita hamil itu terpental beberapa meter dari tempatnya terakhir berdiri.
Pria paruh bayah di seberang jalan begitu terkejut melihat apa yang baru saja terjadi di depan matanya. Ia terlambat mengejar putrinya! Jantungnya seperti berhenti berdetak! Tubuhnya seperti kehilangan tempatnya berpijak, pria itu melihat tubuh putrinya bersimbah darah yang sudah di kerumuni banyak orang.
.
.
.
Rena kembali terisak ketika mengingat saat terakhir kali ia bersama madunya. Mereka berdua begitu akrab menghabiskan waktu bersama mendengar kajian dari ustadz. Bahkan Rena sudah tidak merasa lagi ada kecanggungan berjalan bersama dengan wanita yang lebih muda darinya itu.
Rena memang begitu marah pada madunya saat itu. Rasa sakit mengetahui kenyataan, membuat dirinya tak bisa mengontrol diri untuk melayangkan tuduhan pada wanita itu. Celin yang labil dan mungkin lebih sensitif karena hamil jadi ikut tersulut emosinya mengeluarkan semua unek-unek yang mengganjal di hatinya. Ini masalah hati, dua hati yang merasa sakit. Rena memang mengalami pergulatan batin hebat, hingga dirinya menutupi diri dari penjelasan sang madu.
Rena mendongak melihat suaminya yang bersimpuh di depan ruang operasi. Ia bisa melihat suaminya sama hancurnya dengan dirinya. Ia pasti merasa terpukul atas apa yang terjadi dengan bayi dan ibu anaknya.
Tatapan pria itu kosong, hanya satu yang ada di pikiran Angga, ia berharap keajaiban Sang Pemilik Kehidupan dari balik pintu operasi.
Hampir dua jam menunggu dengan penuh harap. Suara lengkingan tangis bayi terdengar dari luar ruang operasi meskipun tidak terlalu nyaring seperti suara bayi pada umumnya.
Hal itu sempat memecah ketegangan wajah panik di depan pintu operasi. Tapi tak ada yang berani menyimpulkan apapun hingga satu dokter keluar dari ruang operasi. Wanita itu seperti memberi angin segar untuk beberapa wajah penuh kesedihan itu.
__ADS_1
"Keluarga Ibu Celin," seru wanita berpakaian Oka hijau.
Angga dan Pak Bramantyo langsung berdiri dengan cepat mendekati wanita itu. Keduanya sempat saling pandang, tapi untuk meributkan suatu hal di saat kondisi seperti sekarang rasanya tak mungkin keduanya lakukan.
"Tim sudah mengeluarkan bayi perempuannya agar bisa menolong nyawa ibunya. Tapi untuk saat ini bayinya harus segera di bawah ke ruang NICU untuk mendapat penanganan karena lahir prematur. Kemungkinan besar dengan kondisi seperti ini ada beberapa fungsi organnya belum sempurna!"
"Alhamdulillah," sahut kelegaan wajah penuh harap itu.
"Tetap berdoa bapak ibu! Kondisi ibunya masih sangat kritis. Tim akan berusaha sebaik mungkin untuk menyelamatkan sang ibu!" ucap wanita itu kemudian menutup pintu.
Angga yang kembali lemah menyadarkan tubuhnya ke tembok. Pria itu rasanya ingin mengutuki dirinya sendiri. Andai ia bisa menggantikan posisi Celin di dalam sana berjuang melawan hidup atau mati. Tangis pria itu pecah, kenapa bukan dirinya! Kenapa harus ibu dari anaknya yang menanggung akibat kemarahannya.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung .....
Sori baru bisa up 🙏🙏🙏 Ei potong dulu ya