
Semua akan indah pada waktunya, ini demi kebaikan suaminya. Ia hanya mengalah beberapa waktu. Batin Rena.
Ia yang selalu jauh dari orang tuanya sejak kecil. Ia selalu mengalah jika ibunya yang sempat berkerja sebagai TKW memilih tinggal di Dubai mengikuti keluarga suami barunya di negara itu. Ia selalu terbiasa dengan kehidupan yang selalu mengalah, berpasrah pada keadaan hingga akhirnya berjodoh dengan Angga suami yang sungguh sempurna untuknya. Pasti tidak akan sulit untuk mengalah akan hal ini. Tapi entah tidak dengan saat ini.
Mengalah untuk dipoligami ternyata tidak semudah bayangannya. Ia terus menguatkan hatinya yang mulai merasakan gelisah.
Bagaimana tidak, hatinya mendadak getir melihat suaminya yang terlihat tampan dan gagah mengenakan baju basofi putih. Ia jadi teringat saat beberapa tahu lalu suaminya pun berpenampilan yang sama, saat itu ialah mungkin wanita paling bahagia di dunia. Sebentar lagi suaminya juga akan melakukan hal yang sama dengan wanita lain yang tak pernah ia duga akan masuk dalam kehidupannya.
Rena tetap harus terlihat tegar, ia tak mau Angga merasa terbebani atas keputusannya.
"Kamu ganteng banget Mas," puji Rena pada Angga mencoba tetap tersenyum mengusap-usap baju Angga.
"Adek pakaikan pecinya," Rena meraih peci di atas meja.
Apa mungkin hanya aku wanita di dunia ini yang membantu suaminya bersiap untuk menikahi calon adik maduku.
Rena membetulkan peci suaminya yang sudah bertengger di kepala. "Duh, tambah ganteng, jadi pengen ijab qobul lagi," canda Rena menutupi kegelisahan hatinya.
__ADS_1
Angga meraih tangan istrinya, diciumnya tangan wanita yang sudah empat tahun mendampinginya itu dengan penuh kasih.
"Maafkan Mas De, karena Mas semua jadi seperti ini, sungguh Mas selalu ingin hanya kamu yang selalu jadi istri Mas."
"Sssttt ... semua bukan keinginan kita Mas, tapi sudah takdir Allah, kita harus tetap berhusnudzon atas kehendak Allah."
"Ingatkan Mas, jika nanti Mas jadi khilaf. Ingatkan Mas jika nanti Mas berbuat salah menjalankan rumah tangga baru kita. Selalu tegur Mas jika Mas berbuat sesuatu yang menyakiti hati kamu." Angga meraih tubuh istrinya dalam pelukannya.
Jika kebanyakan orang merasa bahagia akan menikah, ia malah sebaliknya. Rasa bersalah pada Renata masih menyelimuti Angga. Betapa tegarnya hati istrinya ini.
Suara ketukan pintu membuyarkan suasana kehangatan pasang ini. Rena berjalan menuju pintu menyahut panggilan dari luar.
"Sudah sebentar lagi kita keluar," balas Rena.
Pemuda itu langsung pergi meninggalkan ruangan Rena.
"Ayo Mas, Pak Bram sudah di masjid."
__ADS_1
Angga mengangguk mengenggam tangan Renata keluar ruangan.
Mereka akan bersiap menuju masjid di kota yang dipilih untuk prosesi ijab qobul. Setelah setibanya di kota keesokan harinya, Pak Bramantyo yang mengurusi pernikahan Celin dan Angga. Pak Bramantyo menepati janjinya pada warga untuk menikahkan Celin tiga hari usai kembali ke kota.
Memang tidak ada yang mewah dalam pernikahan ini, hanya prosesi akad nikah yang di laksanakan di masjid dengan dihadiri keluarga dan perangkat desa dan tokoh masyarakatnya desa.
Meskipun sempat mendapat sedikit kontra dari keluarga Angga, tapi akhirnya mereka setuju dan memahami keadaan yang terjadi. Orang tua Angga juga hadir dalam pernikahan kedua putranya ini.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung ......