
Seorang pria berkemeja abu-abu rapi turun dari mobil. Pria berpakaian hitam langsung sigap membawakan payung untuknya.
Dari jarak beberapa meter Rena sudah bisa mengenali siapa orang yang berjalan mendekat ke arahnya itu.
"Ban belakang pecah Bos," seru pria berpakaian hitam pada Farhan yang tiba di sebelah mobil Rena.
Pria berparas tampan itu mengetuk kaca pintu yang tertutup. Rena dengan sigap menurunkan kaca pintu setelah tahu siapa pria yang sudi berhenti setelah penantian panjangnya di bahu jalan.
"Kamu ada Ban serep berapa? Kedua ban belakang mobil kamu pecah," seru Farhan setengah berteriak diluar kaca mobil Rena.
"Ada paling cuma satu," seru Rena.
"Kamu mau kemana? Ikut mobil aku dulu gimana? Biar orangku yang ngurus mobil kamu!" Seru pria itu sedikit keras lagi karena bersautan dengan suara air hujan yang jatuh.
"Nggak usah, aku pinjan ponsel kamu saja nanti ngerepotin," sahut Rena.
"Enggak, Justru bahaya kalau aku ninggalkan kamu disini untuk nunggu lagi mobil derek. Kamu ikut ke mobil aku, aku antar kamu kemana pun asal jangan disini."
Rena pun akhirnya mengangguk karena tak punya pilihan lain. Ini juga penting untuk keselamatan dirinya. Rena keluar dari mobil dengan disambut payung oleh pria tegap berpakaian hitam.
Pria yang memegang payung untuknya itu mengarahkan Rena menuju Lexus hitam yang berhenti beberapa meter di depan mobilnya. Sedangkan Farhan masih terlihat sibuk berbicara dengan dua orang pria berbadan tegap berpakaian hitam itu.
Pria itu membukakan pintu penumpang belakang untuk Rena. Begini rasanya jadi Bos ya.
"Makasih Pak," seru Rena menghormati dibalas dengan anggukan.
Tak lama berselang pintu di samping Rena terbuka. Aroma parfum pria itu langsung mendominasi udara di dalam mobil ini.
Rena merasa kenapa jadi aneh, duduk satu baris bersama Farhan. Meskipun sudah berjarak beberapa centimeter.
"Mobil kamu akan di urus orang aku Ren. Kemungkinan sore udah selesai," seru pria itu membuka keheningan.
"Maaf jadi ngerepotin. Harusnya aku pinjam hape aja untuk hubungi seseorang," ucap Rena.
"Sama sekali nggak Ren, sekarang kamu mau kemana? Mau ke Balikpapan?" tanya Farhan.
Rena sedikit berpikir, hujan masih mengguyur. Kondisinya juga terlanjur basah kuyup begini. Memaksa untuk terus ke rumah mertuanya sudah sangat terlambat. Ia juga sama saja akan memancing singa tidur jika tahu siapa yang mengantar Rena. Rena sangat hafal mulut keluarga dan tetangga ibu mertuanya. Seseorang yang diam saja bisa jadi bahan gunjingan apalagi dia di antar seorang pria tampan bermobil bagus begini.
"Ren," seru Farhan menanti jawaban. Seketika Rena terbangunkan dari lamunannya.
"Bisa antar aku balik ke toko saja," ucap Rena.
"Dengan senang hati" sahut pria itu. "Pak jalan kita balik ke kota," titah Farhan pada sang sopir.
Dengan cepat mobil kembali ke jalanan aspal.
__ADS_1
Rena mengusap lengannya dingin karena bajunya yang setengah basah bercampur udara yang terkena AC mobil.
Farhan melihat dari kaca spion depan wanita disampingnya nampak kedinginan. Pria itu juga memperhatikan baju gamis yang dikenakan wanita itu basah.
"Pakai ini dulu Ren." Farhan menyerahkan jaket kulit hitam pada Rena yang selalu ia bawa di mobil.
Rena mengambil jaket kulit yang diberikan temannya itu karena merasa perlu menutupi bajunya yang basah. "Makasih, aku pinjam dulu ya."
Rena menyampirkan jaket itu menutupi tubuhnya. Aroma maskulin pria itu langsung menyeruak di permukaan kulit Rena. Jaket itu cukup membantu Rena. Kini tubuhnya lumayan lebih hangat dari sebelumnya.
Entahlah! Kejadian hari ini diluar pikirannya. Ia pikir pada saat ini, dirinya sudah berada di rumah mertuanya, duduk manis membacakan doa untuk acara tujuh bulanan madunya. Tapi siapa yang sangka, sekarang ia ada dalam satu mobil yang sama dengan seorang Farhan Ratarajasa yang elok di pandang mata itu.
"Untung aku kenali mobil yang kamu pakai kemarin Ren," ucap pria itu.
"Oh gitu, jadi kalau bukan mobil yang ada tulisan Rengga bread kamu nggak akan berhenti," sahut Rena.
Pria berkulit putih itu tertawa renyah. "Nggak gitu juga Ren, kebetulan sekali aku ketemu kamu di pinggir jalan. Coba kalau ada orang tak di kenal mau berbuat jahat sama kamu."
"Iya, iya. Aku juga nggak nyangka ban mobil aku bisa pecah."
"Kamu nerobos banjir?"
"Nggak ada pilihan lain."
"Kamu kenapa bisa sendirian?" tanya pria itu curiga.
"Oh, nggak mungkin kan suami kamu biarkan kamu menyentir kondisi hujan begini," seru pria itu.
Rena hanya tersenyum pelan. Padahal itulah faktanya suaminya sekarang bersama istrinya yang lain.
"Gimana usaha kamu lancar? Sekarang kayaknya sering bolak-balik," tanyanya lagi mencoba akrab.
"Ya Alhamdulillah masih banyak peminatnya," jawab Rena entah kenapa ia merasa tak canggung berbicara dengan pria di sampingnya ini.
"Rejeki Roti kamu bagus Ren, strategi marketingnya pasti luar biasa," ucap Farhan santai.
"Dengan sedikit trik sih," canda Rena. "Kalau kamu gimana? Gimana rasanya jadi penerus kerajaan bisnis Ratarajasa," sambung Rena menyindir.
"Ya seperti ini Ren, kamu tahu sendiri dari jaman kuliah aku suka musik. Aku pengen jadi gitaris. Sekarang ya seperti yang kamu lihat. Nggak jauh beda dengan suamimu pergi ke kantor, keluar kota dan melakukan rutinitas melelahkan dan membosankan lainnya," keluh pria itu.
"Disyukuri, berarti Allah memang memberi amanah untuk menjaga harta keluarga," seru Rena.
"Ya Bu ustazah," canda pria itu.
"Saling mengingatkan Pak Ratarajasa, agar kita selalu pandai bersyukur," balas Rena yang merasakan nyaman dengan lawan bicaranya setelah kepanikan tadi.
__ADS_1
"Ya, ya. Pasangan aja aku yang belum ada," guman pria itu.
"Cari lah, jodoh memang datang sendiri jika waktunya tapi kalau nggak ada usaha ya sama saja bohong. Tapi apa mungkin ya, seorang Farhan Ratarajasa harus cari-cari jodoh. Pasti banyak diluar sana perempuan yang mengidolakan, zaman kuliah aja dikejar-kejar apalagi yang sekarang ya," sindir Rena.
Pria itu tertawa lagi, "Aku pernah bilang kan. Itu selera Ren. Aku punya kriteria sendiri untuk orang yang akan dijadikan pendamping hidup."
"Oke, Oke. Kriteria Pak Ratarajasa pasti high class kan," balas Rena menaikkan tangannya.
"Seperti kamu aja lah!" jawabnya lantang.
Rena langsung terdiam, mencoba mencerna setiap perkataan yang keluar dari mulut teman angkatan kuliahnya itu.
"Bercanda Ren," sambung pria itu lanjut tertawa.
Rena akhirnya bisa bernafas lega. Mobil pun tiba di depan toko Roti milik Rena.
"Rengga bread, Pak Angga dimana Ren. Pasti dia nggak ada di dalam kan." Pria itu menunjuk toko Rena. "Kalau ada mana mungkin dia membiarkan istrinya menyetir melawan badai," seru pria itu seperti menyindir.
Rena hanya membalas dengan senyum tak tahu harus menjawab apa karena ia tak mau berbohong.
"Sekali lagi makasih ya," Rena bersiap turun dari mobil. "Oh ya, Aku cuci dulu jaket kamu ya, nanti aku kembalikan," Rena menunjuk jaket yang ia pakai.
"Nggak usah dikembalikan juga nggak masalah Ren."
"Jangan dong, aku kan pinjam." Rena membuka pintu mobil.
"Ren!" seru pria itu menghalangi langkah Rena. Wanita itu menoleh kembali pada Farhan.
"Kalau suatu saat kamu memang nggak kuat, lebih baik kamu menyerah! Jangan pernah memaksa hal justru akan menyakiti. Mungkin di luar sana ada kebahagiaan lain yang menunggu kamu."
Rena langsung terdiam berusaha tak menganggap serius perkataan temannya. "Sekali lagi terima kasih untuk semuanya." Rena benar-benar keluar dari mobil kali ini.
.
.
.
.
.
.
Bersambung .....
__ADS_1
part ini kenapa panjang ya😳
Jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘😘