
Rena langsung pulang usai menyantap kudapan dan secangkir teh manis dari rumah madunya. Ia berjalan terburu-buru dengan langkah besar meninggalkan suaminya.
"Dek, jalannya pelan-pelan." Angga juga mencoba mempercepat langkahnya menyusul Renata.
"Mas yang jalannya lama," seru Rena masih ingin merajuk dengan suaminya.
Setelah masuk ke dalam rumah, Angga langsung menarik tangan istrinya dan mendekatkan raga mereka.
"Istri Mas lagi marah nih ceritanya," Angga melingkar tangan di perut istrinya.
"Bukan marah, Rena kesel sama Mas!" Rena meronta mengepalkan tangan meninju dada suaminya.
"Sama halnya dengan Adek, semenjak Celin pindah ke sebelah, Mas belum pernah sama sekali menengok Celin? Mas cuma mau mampir sebentar, pastikan kalau Celin juga nyaman di rumah itu."
"Kenapa Mas nggak ngomong dulu sama Rena, kita kan bisa barengan!" protes Rena pasang suara ngegas.
"Dek, semuanya mengalir begitu saja, Celin minta Mas mampir sebentar untuk lihat kondisi rumah. Sekarang Celin juga tanggung jawab Mas. Mas hanya memastikan dia nyaman di rumah baru, seperti halnya kita di rumah ini." Angga mengusap punggung istrinya. Ia tahu ini hal baru yang tak mudah untuk Rena. Sungguh situasi seperti ini juga begitu berat untuk Angga.
Rena hanya bisa mencoba memenangkan diri yang di ucapkan Angga memang benar! Tidak ada yang salah suami mencemaskan istrinya. Tidak ada yang salah jika suaminya bermesraan dengan isterinya. Tapi apakah suaminya mengerti bagaimana perasaannya? Entah kenapa kali ini Rena tak bisa menahan emosinya. Rena tahu bukan hanya dirinya yang jadi prioritas suaminya tapi juga wanita yang menjadi istrinya.
Angga mengajak istrinya yang mulai tenang untuk duduk di sofa.
"Mas, Rena cemburu berat lihat langsung Mas bermesraan dengan Celin. Meskipun sekarang Celin juga istri Mas tapi Rena rasanya nggak sanggup melihat Mas bermesraan dengan wanita lain." Rena tak kuat lagi harus memendam semuanya. Ia memalingkan wajahnya membelakangi suaminya.
Angga mencoba bersikap tenang menghadapi Rena. Sungguh ini juga tidak mudah untuk Angga, bisa tetap menjaga perasaan kedua istrinya. Ia memeluk lagi tubuh istrinya dari belakang, di sandarkannya kepalanya di pundak Rena. Angga sadar cemburu istrinya tekanan naluri alami yang dirasakan seorang istri karena memiliki rasa cinta yang begitu dalam.
"Dek, Wanita semulia Aisyah saja bisa merasa cemburu pada Khadijah yang tidak pernah beliau lihat. Apalagi manusia penuh dosa seperti kita."
__ADS_1
Angga membalikan kembali tubuh istrinya untuk berhadapan dengannya. "Dek. Percayalah! Ini juga enggak mudah untuk Mas, bagaimana rasanya bisa membelah hati yang awalnya sudah tertambat untuk satu wanita." Angga masih berusaha dengan lembut mengembalikan mood isterinya.
"Mas, bayangkan jika Mas berada diposisi Rena yang sekarang," seru Rena tak tahan lagi mengeluarkan bulir air matanya.
Angga mengengam erat tangan istirnya. "Ya Dek, Mas ngerti keadaan sekarang sudah berbeda. Mas memang bukan orang yang alim dek, tapi Mas akan selalu berusaha untuk bisa berlaku baik untuk istri Mas."
"Dek, tugas seorang seorang suami bukan hanya mencari nafkah dan mengayomi istrinya. Tapi juga menjaga hati dan perasaannya. Kalau Adek marah dengan Mas seperti ini, bagaimana Mas bisa dikatakan suami yang baik." Angga menghapus buliran yang jatuh di pipi istrinya.
"Entah Mas, ternyata keadaan sekarang nggak semudah yang Rena pikir," seru Rena.
"Yang sabar Dek, Mas akan berusaha membuatnya semuanya jadi tenang. Meskipun Mas tahu itu nggak akan mudah." Angga memaksa memeluk istrinya itu.
"Mas tahu Dek, Mas masih banyak kekurangan menjalani kehidupan baru kita ini, Mas juga terus berusaha dan belajar agar kedepannya keluarga baru kita ini bisa berjalan sakinah tanpa ada rasa saling sakit dan menyakiti," ucap Angga.
"Maafkan Mas yang belum bisa sempurna. Maafkan Mas jika memang perbuatan Mas menyakiti hati kamu. Tegur saja suamimu ini jika memang berbuat salah."
"Dek, Mas udah pernah bilang sama Adek, hati dan cintanya Mas selalu tetap untuk kamu meskipun ada 9 Celin yang hadir dalam kehidupan kita."
Rena mencubit perut Angga. "Sakit Dek," pekik Angga.
"Enak aja 9 Celin, satu aja udah buat jantung Rena kembang kempis!" oceh istrinya.
"Bercanda Dek, kan cuma perumpamaan."
"Nggak lucu!"
"Alhamdulillah, istri Mas yang bawel kembali lagi," Angga mencubit kedua pipi istrinya.
__ADS_1
"Siapa bilang! Rena masih ngambek," Rena berpaling lagi membelakangi Angga.
"Kalau gitu besok Mas mau usaha biar istri Mas enggak marah lagi, sekarang kita istirahat biar pikiran kita tenang." Angga mengangkat tubuh Rena.
Apa lagi yang bisa di lakukan Rena selain percaya ucapan suaminya dan mencoba tetap ikhlas dengan keadaan yang ada.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung ......
Terima kasih dear terloph Ei yang masih nunggu kelanjutan kisah Angga dan Renata...
Maap-maap kisah ini lebih nyesek di bandingkan cerita Ei yang lain.
jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘😘
__ADS_1