Surga Yang Berbeda

Surga Yang Berbeda
Nostalgia


__ADS_3

"Mas, pagi-pagi mau kemana sih, hari sabtu lagi." Rena menurut saja ketika suaminya terus menyeret tangannya.


Angga tidak menjawab malah terus membawa istrinya itu menuruni tangga. Keduanya sudah berada di garasi rumah sekarang.


Rena hanya pasrah ketika suaminya mengenakan jaket padanya. Sesekali membetulkan letak kerudungnya yang miring.


"Tunggu! Tunggu, Rena masih marah loh Mas," seru Rena.


"Ini Mas lagi usaha biar Adek nggak marah lagi," Angga menarik resleting jaket untuk menutupi tubuh istrinya.


Angga mengambil helm dan mengenakan pada istrinya.


"Kenapa naik motor Mas, kalau menjelang siang kulit adek yang eksotis ini bisa kepanasan," oceh Rena.


Angga hanya tersenyum melihat istrinya sudah seperti biasa. "Biar banyak angin," jawabnya enteng.


"Bisa romantis sedikit nggak Pak Angga usaha buat istrinya nggak marah, belikan berlian kek, liburan ke luar negeri kek," canda Rena mengoda suaminya.


"Kalau itu Adek bisa beli sendiri, adek kan sudah jadi Bos, Mas cuma buruh," balas Angga.


"Idih ngeles ... nego lagi," seru Renata. Bolehkah ia rindu saat berdebat dengan suaminya seperti ini? Minggu-minggu yang terasa berat untuk Rena, akhirnya hari ini bisa kembali seperti Rena yang dulu, berbicara dengan suaminya tanpa ada rasa beban jika tak hanya dirinya yang sekarang ada dalam hidup suaminya.


"Cepat naik Dek, jangan cerewet!"


"Mas bilang dari awal kalau naik motor, jadi Rena enggak usah pakai rok." Lagi-lagi Rena mengomel menendang motor ber-cc besar itu.


"Akhirnya Mas bisa denger Ade ngomel setelah beberapa hari."


Rena dengan sigap naik ke boncengan belakang motor besar itu. Kepalanya menumpu di pundak Angga. Tak lupa tangannya memelingkar erat di tubuh tegap itu. Rena menyunggingkan senyum, kenapa ia merasa begitu tertekan akhir-akhir ini. Suaminya tetaplah miliknya sampai kapanpun, raga ini masih ia peluk dengan erat sampai saat ini.


"Tumben sih ngajakin kayak gini," seru Rena.

__ADS_1


"Kalau naik motor Mas bisa Adek pelukin terus kayak gini, lama kan kita enggak kayak gini," balas Angga.


"Ya, iya, berasa jadi kayak Dilan dan milea nih," canda Rena cekikikan mempererat pelukannya.


"Kalau Mas, maunya pacaran lagi kayak dulu," Angga mengelus tangan istrinya.


Mungkin dengan menikmati waktu berdua seperti ini mampu mengembalikan Renanya yang terasa berbeda beberapa hari terakhir setelah ia menikah lagi. Angga hanya ingin membuat Rena merasa bahwa semuanya tetaplah sama. Suaminya tetaplah manusia yang sama, pria yang mencintai dan akan menjaga istrinya seperti dulu meskipun ada hal baru dalam rumah tangga mereka.


Angga menghentikan motornya di dermaga kapal yang sudah di penuhi sepasang manusia yang menghabiskan waktu weekend.


"Kalau disini bisa memang bisa banyak angin Mas," seru Rena menyunggingkan senyum. Ia jadi teringat saat awal menikah ia sering menghabiskan waktu bersantai di dermaga. Rupanya suaminya mau mengajaknya nostalgia pengantin baru biar sama kayak madunya gitu.


Pikiran Rena kembali mengingat keadaan rumah tangga terbagi-bagi.


Buru-buru Rena menepis pikirkan itu, kali ini ia hanya ingin mengingat Angga suaminya seorang.


"Ingat nggak dulu pertama kali kita makan jagung bakar di sini," seru Angga menunjuk jembatan yang di penuhi pasang muda itu.


Mereka duduk menikmati semilir angin yang bertiup sambil menyaksikan panorama kapal-kapal tongkang pengangkut batubara yang lalu lalang. Weekend yang sungguh berbeda dari biasanya. Biasa ia hanya bersantai di rumah bersama suaminya melepas penat setelah melewati hari kerja.


Jagung bakar yang di pesan Rena pun sudah di antar di depan mereka.


Rena segara mengambil jagung yang masih berasap dan di penuhi lelehan mentega itu.


"Enak banget Mas, coba!" Rena menyodorkan jagung itu di depan Angga.


"Enggak! Adek aja yang makan, lihat mentega yang meleleh itu, berapa kalori yang mas bakar setelah makan."


"Curang! Mas mau Adek aja yang gendut!" Rena memajukan bibirnya tapi tetap menyantap jagung yang ada di tangannya.


"Kalau Ade gendut Mas tetap cinta kok," seru Angga sambil mengusap dengan tisu minyak yang belepotan di mulut istrinya.

__ADS_1


"Gombal, paling kalau beneran gendut tinggal belok ke rumah sebelah," sindir Rena berusaha mengungkap isi hatinya dengan candaan.


"Ya ampun De, Beberapa hari terakhir mas lihat Adek sering diam, terus gampang marah. Mas jadi merasa serba salah Dek," ucap Angga.


"Rena masih belum terbiasa dengan keadaan yang ada, tiap kali waktu senggang, Rena selalu terbayang ketika Mas bersama Celin."


"Kamu jangan terlalu memikirkan itu Dek. Sekarang keadaannya memang beda, seperti yang sudah Mas bilang, ini juga gak mudah untuk Mas, tapi akan jadi lebih mudah jika kita berdua hadapi dan lewati bersama dengan Ikhlas qodar yang di gariskan Allah ini." Angga mengengam tangan Rena.


Rena tersenyum dan mengangguk, "Boleh lanjut makan, hari ini Rena cuma mau Mas Angga suamiku yang dulu, stop kita bahas Celin."


"Iya, iya ibu Negara," Angga mengacak kepala istrinya perlahan. Akhirnya Renatanya sudah mulai kembali seperti biasanya meskipun ia tahu mungkin tidak mudah untuk Renata.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung .....


Part adem ya dear,


Jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘

__ADS_1


__ADS_2