
"Dek!" Angga dengan panik masuk ke dalam kamar hotel.
Dilihatnya sang istri yang masih duduk di sofa sambil memijat kakinya. Angga langsung menunduk menyingkap rok yang di kenakan istrinya.
"Sampai biru gini," Angga melihat miris ruam biru di bawah kulit lutut putih istrinya.
"Pelan-pelan sakit," oceh Rena manja, mencegah tangan Angga yang mencoba menyentuh lukanya.
"Sudah tahu pakai sepatu tinggi begini kenapa jalannya lari-lari, jatuhkan jadinya," seru Angga.
Tiba-tiba ucapan dua manusia itu mengiang di kepalanya. Airmata yang sempat mengering pun akhirnya tumpah lagi.
Angga mendongak ketika menyadari suara isakan istrinya. Ia segera menarik istrinya dalam pelukannya.
"Dek, kenapa?" tanya Angga yang malah membuat tangis Rena semakin pecah.
"Aku kesel banget sama mulut orang itu mas! di depan aku mereka baik ternyata di belakang aku mulut mereka nggak lebih kayak sampah!"'
"Tenang ... siapa yang udah bicara kasar sama Adek." Angga masih mengelus menenangkan sang istri.
"Mereka nggak pernah apa di ajarkan bagaimana bicara yang baik! Sumpah pengen aku tampar aja mulutnya!"
"Ssttt .. istighfar dek,"
"Astagfirullahaladzim," Rena mengambil nafas. " Ini semua gara-gara Mas Angga!"
Angga mengeryit binggung.
Rena bangun dari dekapan Angga. Ia memukul dada Angga. "Ini salah Mas! Ini salah Mas karena Mas nikah lagi!" Rena memukul berkali-kali dada bidang itu.
__ADS_1
Angga sudah menduga, pasti ada seletingan tak sedap yang istrinya dengar. "Pukul Sayang, pukul saja jika itu membuat Ade lega!"
"Tangan aku sakit! Dada Mas keras banget sih kayak batu!" umpat Rena mengelus tangannya.
"Yang lembut ya dada adek!" canda Angga mencoba menghibur.
"Ih...," Rena memalingkan wajah! ini lagi marah malah bercanda.
Angga mengambil kotak p3k yang sudah tersedia di kamar ini. Ia pun tak lupa membawa segelas air untuk istrinya.
Angga menyodorkan segelas air putih untuk istrinya. "Sekarang cerita, gimana bisa jatuh sampai kayak begini." Angga mengambil kembali kaki Rena untuk diletakan dipangkuannya. Ia bermaksud mengompres memarnya dengan alkohol untuk mengurangi kebiruan.
Rena meneguk habis segelas air itu. "Waktu Rena mau ke toilet, Rena enggak sengaja denger obrolan Rosa sama Desi!
"Mereka bermuka dua Mas! baik di depanku, tapi di belakang mereka tuh berani hina-hina aku Mas! Yang paling aku enggak bisa terima mereka tuh banding-bandingkan aku dengan istri Mas yang cantik itu!" umpat Rena kesal.
"Ck ... ck sabar." Angga meraih lagi tubuh istrinya usai mengopres kakinya.
"Adek sudah melakukan hal benar, ingat sabda Rasulullah. Orang yang kuat itu bukan orang yang jago gulat. Tapi orang yang kuat itu, orang yang bisa menahan dirinya ketika sedang marah." Angga mengelus punggung istrinya yang bergetar.
"Mereka tuh, asal menghujat aja tanpa tahu sebenarnya gimana keadaan keluarga kita. Mereka nggak punya kaca apa Mas, udah merasa paling benar apa hidupnya!"
"Udah de, jangan kotori hati Ade dengan ucapan mereka yang malah membuat setan semakin betah bersemayam disitu." Angga menunjuk hati Rena. "Ta'awudz dulu," seru Angga yang sudah paham kalau sepupunya memang suka bicara sembarangan.
Rena mengelus dadanya sambil mengucapkan kalimat ta'awudz. Rena sadar sudah terlalu terbawa dalam emosinya hingga tak bisa mengontrol ucapan yang keluar dari mulutnya.
"Wudhu dulu baru kita tidur, udah enakan kakinya?" tanya Angga. Rena mengangguk menurut kali ini.
.
__ADS_1
.
.
.
Angga memandangi wajah Rena yang sudah terlelap terbawa mimpi. Ia sengaja tidak ikut merebahkan diri bersama istrinya. Ia masih ingin memandang istrinya yang tenang seperti ini. Sesekali ia merapikan rambut hitam istrinya yang terjatuh menyentuh wajahnya. Akhir-akhir ini istrinya lebih sensitif lagi dari sebelumnya. Selama empat tahun pernikahannya, baru bulan - bulan terakhir ia selalu melihat istrinya diam - diam sering murung.
Ia tak boleh lelah untuk bisa menguatkan istrinya, ia tetap harus menjadi sandaran yang terbaik untuk Renata.
Tiba-tiba menari bayangan di masa lalu dalam pikirannya. Rena yang dinikahinya saat itu masih 20 tahun. Wanita penurut dan patuh pada suami. Wanita muda yang terus mendampinginya tanpa mengeluh dari ia tinggal di perkebunan yang sunyi hingga ia bisa sampai seperti sekarang. Betapa tenang dan penuh cintanya saat itu hingga ujian datang menguncang rumah tangganya.
Hanya satu harapan disetiap doa Angga. Renata selalu di berikan hati yang lapang untuk berjalan bersama menjalani rumah tangganya saat ini dengan sakinah.
Jika suatu saat nanti Dzat yang membolak-balik hati membuat istrinya tak sanggup bertahan dan menyerahkan dari kisah ini. Maka sudah dipastikan dihidupnya akan ada dalam kehancuran.
.
.
.
.
.
Bersambung .....
Makasih semuanya masih setia sampai part ini, loph selalu sekebon cabe😘😘
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘😘😘