Surga Yang Berbeda

Surga Yang Berbeda
Kekanakan


__ADS_3

Angga hanya berdiam di meja kerja menyelesaikan pekerjaan yang seharusnya bisa ia kerjakan di kantor esok. Sungguh hal yang sangat membosankan. Ia memilih ke ruang kerja terlebih dulu sebelum masuk ke dalam kamar.


Layar laptopnya menunjukkan panggilan masuk. Ia melihat wajah istrinya yang ada di dalam layar. Angga selalu meminta Celin agar tidak menghubunginya ketika dirinya bersama Renata, kecuali memang ada hal yang mendesak.


Angga langsung mengangkat telepon. Mungkin saja istrinya dalam keadaan terdesak. Seketika wajah cantik memenuhi layar.


"Mas, ganggu nggak."


"Nggak kok," jawab Angga memaksa tersenyum padahal keadaannya sedang kacau balau. "Ada yang penting?"


"Katanya besok ibu mau datang."


"Oh ya."


Biasanya ibunya selalu memberitahu ketika akan datang. Mungkin hari-hari terakhir pikiran sedang ruyam hingga lupa ibunya akan datang.


"Nanti Mas jemput."


"Oke. Mas bisa minta tolong?"


"Apa?"


"Kebetulan lusa juga ada pengajian ibu-ibu dari ustadz Zaki. Apa Mas bisa bujuk Kak Rena untuk pergi sama aku."


Angga mengaruk kepalanya tak gatal sembari berpikir.


"Biasanya pergi sendiri-sendiri?"


"Pulangnya ada rencana mau ajak Kak Rena ikut lihat debay kita sekalian bisa konsultasi. Itu juga kalau Kak Rena nggak keberatan."


"Kak Rena juga ibu dari anak ini Mas, dia juga harus tahu keadaan anaknya, lagipula ibu akan senang melihat aku dan kak Rena semakin kompak."

__ADS_1


Tentu saja keadaannya tidak memungkinkan untuk dirinya meminta Renata pergi bersama Celin.


"Kamu bilang sendiri saja Yang."


"Kenapa?"


"Mas ..." Angga tak melanjutkan kalimatnya.


Celin menunggu tanggapan suaminya. "Semuanya baik-baik saja kan?" tanya wanita itu dengan mimik muka curiga di layar.


"Lebih baik kalau kamu yang ngomong sendiri." Angga hanya tak mau istri keduanya curiga kalau saat ini hubungannya dengan Renata sedang tak baik-baik saja.


"Ya udah kalau gitu nanti aku coba,"


"Sekarang sudah jam berapa? Kenapa belum tidur? Udah buat minum susu? Minum obat?"


"Mas... Satu-satu tanyanya, udah minum susu sama vitamin kok bunda. Debaynya yang lagi kangen sama ayah,"


Angga hanya melontarkan senyuman manis. "Ayah juga, cepat tidur kasihan anak kita di ajak begadang sama bundanya."


"Iya, assalamu'alaikum, Debay sama bunda Sayang ayah." Wanita dalam layar tersenyum ceria melambaikan tangan.


"Wa'alaikumusalam."


Setelah mengucapkan salam, wanita dari balik layar menghilang. Cukup menghilangkan kepenatan Angga sejenak.


Keadaan masih sama, bahkan saat makan malam Angga masih enggan menyapa Rena yang duduk di depannya.


Rena mengambil nafas panjang, ia tak bisa hanya berdiam diri dan membiarkan suaminya terus menaruh rasa curiga padanya. Semua harus selesai hari ini juga.


Rena memperhatikan suaminya yang masih sibuk di ruang kerja. Ia tahu suaminya sengaja menghindarinya.

__ADS_1


Fine! Ia tunggu sampai satu jam. Jika suaminya belum kembali juga ia akan menyusul dan menjelaskan semuanya.


Belum genap beberapa menit menunggu suaminya di dalam kamar, suara handle pintu terdengar indera pendengarnya. Kali ini Rena langsung berdiri di depan Angga. Tak peduli suaminya akan marah lagi padanya atau tidak! yang jelas ia tak mau memikul anggapan salah suaminya tentang dirinya.


"Rena nggak pernah diam-diam membuat janji dengan Farhan!" seru Rena ketika Angga masuk ke dalam kamar.


Angga hanya melewatinya saja.


"Rena selalu izin dengan Mas untuk pergi atau bertemu seseorang. Jika mas curiga untuk hal itu apa bukan sama saja Mas meragukan istri Mas sendiri," oceh Rena tak menyerah mengekor di belakang suaminya.


Angga menoleh kali ini, di tatapnya sang istri yang kembali diam. "Apa harus sampai berbagi sapu tangan dan jaket dengan seseorang yang bukan mahram. Merasa nyaman!"


Angga tak ragu sedikitpun pada istrinya. Rasa cemburu dan cemas kehilangan yang lebih mengerogoti pikirannya.


"Rena nggak pernah berbagi apapun dengan Farhan. Waktu itu Farhan hanya melakukan tugasnya untuk menolong sesama manusia."


"Menolong apa!" pria itu justru kembali tersulut emosi.


"Kalau tidak ada Farhan waktu itu, entah berapa lama Rena terjebak hujan di jalan tol Mas! Rena juga nggak bisa hubungi siapapun karena Mas tahu sendiri kalau hape Rena mati total!" ucap Rena keras.


Terselip rasa bersalah dihati Angga membayangkan betapa paniknya Rena saat itu. Tapi kenyataan yang ada kembali membuat aliran darahnya kembali mendidih. Kenapa harus Farhan yang menolong istrinya.


"Apakah Rena harus berdiam diri menunggu orang tak di kenal menolong Rena yang bisa saja malah berbuat jahat!"


"Kenapa nggak pernah cerita kalau yang menolong kamu adalah Farhan! Kenapa harus menyembunyikan sesuatu yang bisa saja membuat suamimu berburuk sangka!"


"Bagaimana Rena bisa berbagi cerita sedangkan Mas sibuk juga mengurusi masalah Dion! Apa Rena harus membahas hal yang tidak perlu sementara ada hal lebih penting yang perlu di selesaikan!"


Angga kehabisan kata, ia seharusnya tak meluapkan emosi yang bisa mengotori hatinya sendiri. Ia selalu saja tak tahan melihat wajah seduh Rena.


Rasanya Angga ingin segera menyudahi sikap kekanakannya yang bukan dirinya ini. Tapi tidak! ia masih punya waktu sehari. Ia masih kesal, cemburu, marah! Biarlah ini jadi bahan renungan untuk saling memperbaiki diri. Ia yakin hubungan dengan Rena akan semakin harmonis setelah datangnya prahara.

__ADS_1


"Lebih baik sekarang kita tidur! Biar tak terlewat waktu sepertiga malam," seru Angga. Ia mencari jalan aman tak mau terpancing emosi berdebat dengan istrinya.


Bersambung....


__ADS_2