
Celin membenarkan posisi berdirinya yang hampir gontai, wanita itu mengerutkan dahinya sembari bertanya dalam lubuk hatinya, kenapa kakak madunya mendadak menjadi berubah 180 derajat.
"Kak Ren ada apa sebenarnya!" Wanita itu memutar matanya kesana memastikan kondisi halaman itu sepi. Ia sepertinya akan terlibat pembicaraan nada tinggi dengan madunya.
"Diam!" Rena menunjuk dengan tatapan marah. "Kali ini aku yang akan bicara! Cukup sudah! Aku tak mau hidup dengan pembohong seperti kalian!"
"Kak Ren, sungguh sebenarnya apa yang terjadi!" tanya wanita polos yang masih tak tahu apa kesalahannya itu.
"Puas kamu sekarang! Puas kamu udah mendapatkan apa yang kamu mau! Puas kamu sekarang sudah buat aku berlinang air mata setiap waktu!"
"Kak Ren, aku masih nggak ngerti maksud Kak Ren," seru Celin lagi mencoba mendekat. Ia tak paham dengan kemarahan orang di depannya.
"Berhenti berpura-pura! Kalian sudah saling mengenal kan! Kalian juga sama-sama saling mengagumi!"
"Maksud Kak Rema, aku dan Mas Angga?" tanya Celin.
"Siapa lagi! Aku sudah curiga sejak awal dengan kedekatan kalian berdua!"
"Kak Ren, aku pikir Kak Rena sudah tahu tentang itu!" balasnya mendekati Rena lagi mencoba mendinginkan.
Rena menunjuk lagi tepat di depan wajah Celin. "Kamu dan ayahmu juga yang membuat semuanya menjadi seperti ini! Dengan dalih ingin menjaga kehormatan Mas Angga dan kamu! Ini semua licik!"
"Kak Ren, Kenapa dengan papi! Bukannya Kak Rena tahu Mas Angga menikahiku bukan hanya karena desakan warga, tapi juga karena permintaan Kak Rena." Celin membela diri karena tuduhan yang bertubi yang dilayangkan padanya.
"Ya itu semua benar! Sebelum aku tahu orang seperti apa kamu dan bapakmu itu! Senang kamu sudah membuat aku seperti orang bodoh yang memberi ijin menikahkan suaminya dengan seseorang yang pernah saling mengangumi! Jika tahu! aku nggak akan pernah mau membawamu masuk dalam kehidupanku!"
__ADS_1
"Kak Rena, Apa salah Papi hingga buat Kak Rena menuduh seperti itu!"
"Berhenti bersikap sok polos dan nggak tahu apa-apa! Papi kamu yang memprovokasi warga untuk menikahkan Kamu dengan Mas Angga!"
Celin mengelus dadanya mengelengkan kepalanya. "Kak Ren, sumpah demi apapun, aku nggak pernah tahu alasan papi berhasil membuat Kak Rena menerima aku untuk dinikahi Mas Angga! Dan Kak Rena tak bisa menuduh Papi seperti itu!" bantah Celin.
"Itu bukan rahasia lagi! kalau Papi kamu itu juga ingin menikahkan kalian!"
Celin terdiam! Sungguh ia tak pernah tahu ucapan yang di lontarkan madunya.
"Kak Ren, terlepas dari semuanya, apa ada yang salah dengan kejadian ini! Bagiku semuanya sudah menjadi skenario takdir. Tidak ada satupun wanita yang ingin dinodai kehormatannya. Tidak ada juga wanita yang ingin merusak rumah tangga seseorang. Aku memang menganggumi mas Angga tapi tak pernah terbesit sekalipun untuk memecah keutuhan rumah tangga kalian, sampai akhirnya terjadi hal mengerikan itu." Celin berusaha menyangga dengan lelehan air mata yang tidak bisa ia bendung lagi.
"Penyangkalan paling hebat! Bukan kamu sekarang ingin tertawa! Tujuan kalian sudah terwujud sekarang!"
Tak ada yang salah dengan pernikahan mereka. Tapi rasa dikhianati yang membuat Rena begitu ingin memaki orang yang ada didepannya.
"Karena desakan dari mulut tak punya hati papi kamu!" bentak Rena enggan di salahkan karena dirinyalah yang di manipulasi seseorang.
"Kak Ren, semuanya sudah terjadi. Aku juga tak pernah tahu apa maksud papi! Tapi selama kita menjalankan pernikahan ini, Apa pernah aku menuntut lebih pada Mas Angga atas hak Kak Rena, apa selama ini aku tak cukup untuk sadar diri!" bela wanita yang mulai mengerutkan wajahnya itu.
"Jadi kamu pikir menjadi penengah diantara kami adalah hal wajar!"
"Tapi kenyataan aku selalu pasrah dengan keadaan Kak! Aku selalu diam dengan sikap Mas Angga yang selalu mementingkan Kak Rena di atas apapun! Kak Rena tahu bagaimana harusnya sikap kehidupan pernikahan kita. Aku pun juga sama-sama istrinya dan mengandung anaknya!"
Rena terpukul telak, kehamilan Celin tak bisa di pungkiri menjadi senjata yang menguatkan hubungan mereka.
__ADS_1
"Oh bagus! Jadi sekarang semuanya semakin sempurna dengan alasan kehamilan kamu!" bentak Rena dengan tawa sumbang.
"Kak Ren, jangan libatkan anak yang tidak berdosa!"
"Jadi apa yang harus dibahas untuk mengagumi keberhasilanmu membelah ketenangan rumah tanggaku! Heh! Kesuksesanmu merebut hati Mas Angga!" Rena semakin kesal karena sang Madu yang terus menjawabnya.
Celin mengatur nafasnya, ia terpancing emosi serangan bertubi-tubi yang menyesakkan dadanya.
"Aku tak pernah berpikir sama sekali untuk merebut Mas Angga dari Kak Rena. Aku yakin Mas Angga juga akan berbuat adil jika yang di nikahinya bukanlah aku! Tapi kalau Kak Rena terus berpikir bahwa aku berusaha merebut Mas Angga! Maka jangan salahkan aku jika Kak Rena kehilangan Mas Angga karena pikiran Kak Rena sendiri!"
Rena mengepalkan tangan dan hampir menampar Celin karena perkataanya seperti menyiram bensin pada amarahnya. Tapi Rena cukup sadar untuk tak menyakiti wanita yang sedang hamil.
"Seperti itulah dirimu sebenarnya! Kalian semua penipu!" Rena pergi meninggalkan Celin! Ia tak mau lagi semakin mengotori mulutnya dengan ucapan yang bisa keluar karena amarah.
Cukup sudah Rena memperjuangkan pengorbanan yang didapat dengan balasan tak sepadan. Cukup ia menekan rasa cemburunya, memaksakan senyumannya, menahan tangisnya, menguatkan mentalnya karena hadirnya buah hati suaminya. Ia tak bisa terima dicurangi seperti ini!
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung .....