Surga Yang Berbeda

Surga Yang Berbeda
Pasrah


__ADS_3

Rena memang menggantuk, tapi matanya masih sulit terpejam. Ia hanya berguling-guling di atas tempat tidur karena rasanya memang sangat berbeda jika Angga tak ada di sampingnya.


Ia meraih ponsel lagi untuk mengirim pesan, biarkan saja suaminya itu merasa bosan karena terusn ia teror dengan chat.


Rasa gusar yang menyelimuti Rena bukannya lenyap malah semakin menjadi - jadi melihat pesan chat aplikasi WhatsApp yang bertanda centang satu. Bukannya di hotel sinyal akan selalu baik seperti halnya di kantor yang ada di perkebunan. Apa suaminya pergi keluar hotel? Kemana ia pergi malam-malam? Apa ada urusan mendesak?


Rena berperang dengan persepsinya sendiri.


Astaghfirullahaladzim. Rena mengelus dada dan tak ingin berprasangka buruk. Lebih baik sekarang ia tenang dan berdoa untuk kebaikan suaminya yang berada di luar rumah. Sejenak wanita muda merasa tenang, ia kembali mencoba memejamkan mata berharap bisa bertemu suaminya di alam mimpi.


.


.


.


.


Celine tak kuasa lagi menahan air matanya. Rasa sedih, takut, jijik, marah bercampur menjadi satu di kepalnya. Ia berusaha sekuat tenaga meronta ketika pria kasar itu terus - menerus menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang.

__ADS_1


"Tolong! Lepas!" Celin berusaha menarik tangannya dari pria yang terus mencoba menjatuhkan tubuhnya.


Pria yang sudah terselimuti gairah itu tak menyerah mendapatkan apa yang diinginkannya. Ia terus menahan tangan gadis bermata hazel itu dengan kasar karena terus meronta.


Handuk yang sudah koyak menjadi satu - satunya kain pelindung untuk Celin sudah teronggok di lantai. Dalam tangis dan rasa takut, Celin hanya bisa berdoa ada seseorang yang menghentikan kelakuan tak bermoral orang yang ingin merenggut kehormatannya ini.


Ia masih terus mencoba memukul, menendang orang yang ada di hadapannya dengan sisa tenaga yang ia punya. Sampai tangannya mulai lemah dan tak tahu berapa lama lagi ia bisa mempertahankan diri dari serangan menjijikan pria tak bermoral ini di tubuhnya.


Dalam gelap pria itu sudah tak sabar lagi ingin menurunkan resleting celananya.


Celin yang merasa dirinya sudah tak dalam kungkungan, mencari cela untuk pergi.


"Gak perlu takut sayang! Kamu akan mendapat kenikmatan dan uang yang banyak setelah ini."


"Apa salahku padamu! Tolong lepaskan aku, tolong!" teriak Celin dengan sisa tenaganya.


Pria itu hanya tertawa, melihat Celin yang terus-menerus melakukan perlawanan, justru membuat hasratnya semakin ingin menerkam gadis ini. Tangan pria itu menyentuh rahang Celin. Dengan sisa tenaga yang ada, ia menggigit keras lengan pria itu hingga terdengar retakan dari jam tangan pria itu. Tindakan itu yang bisa ia lakukan sebagai bentuk perlawanan terakhir.


"Si*l!" pekik pria itu kesal dan kesakitan.

__ADS_1


"Cantik, kamu sudah merusak jam tangan mahalku. Baiklah kalau kamu ingin bermain kasar, akan aku lakukan!" Di dorong tubuh Celin dengan kasar karena masih berusaha untuk berdiri.


Air mata tak berhenti keluar dari mata indah Celin. Ia ingin menjerit, apa salahnya hingga ia diperlakukan tidak pantas seperti ini?


Ditengah keadaan lingkungan yang begitu sepi. Bahkan teriakannya sejak tadi yang hampir membuat tenggorakan kering tak mampu mendatang seseorang untuk menolongnya.


Kali ini Celin tak bisa lagi berbuat apa-apa karena tangannya tidak bisa ia gerakkan. Hanya mulut dan hatinya berdoa agar malam ini kehormatannya tidak di rampas pria tak bermoral yang bahkan tak terlihat wajahnya.


.


.


.


.


.


Bersambung .....

__ADS_1


__ADS_2