Surga Yang Berbeda

Surga Yang Berbeda
Perasaan Salah


__ADS_3

"Perlengkapan kamu nggak ada yang ketinggalan?" tegur Angga sebelum mobil bergerak semakin jauh.


"Semua beres Pak," sahut Celin.


"Bagus, kamu istirahat dulu perjalanan kita masih panjang, simpan tenaga supaya kamu gak terlalu lelah," ucap Angga menoleh ke arah Celin yang duduk di kursi penumpang belakang.


"Siap Pak!" balas Celin. Merasa Angga perhatian sekali dan benar-benar menjaga amanah papinya.


Mobil Strada mulai melaju menembus jalanan kota, mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi tak butuh waktu lama untuk menampaki jalan aspal yang mulus. Mobil harus berbelok menunjukkan fungsi roda besarnya menuju jalanan yang kasar dan sepi beberapa jam kedepan untuk menuju ke arah perkebunan kelapa sawit milik Wilson Palm.


"Welcome to the jungle Celin," goda Angga melihat dari spion depan.


"Jadi kangen suasana tinggal di dekat perkebunan," jawab Celin.


"Kadang-kadang saya pun juga merasa sama," sahut Angga.


"Memangnya bapak sudah berapa lama meninggalkan perkebunan dan pindah di kantor yang ada di kota," Celin mencoba mencari topik obrolan karena mulai bosan dengan perjalanan panjang kali ini.


"Baru dua tahun, tapi banyak kenangan ketika berada di kantor perkebunan selama lebih delapan tahun. Dari saya magang, jadi asisten perkebunan, jadi IC dan Alhamdulillah sampai menikah."


"Jadi istri bapak pernah ikut tinggal perkebunan?" tanya Celin antusias mulai menemukan lawan bicara yang menyenangkan.


"Ya, istri saya dari awal menikah langsung ikut dan menemani saya tinggal di perkebunan yang jauh dari keramaian kota, sampai akhirnya sekarang saya bekerja di luar perkebunan."


"Istri bapak setia ya, pasti bapak suami yang menyenangkan buktinya istri bapak bisa betah bertahun-tahun tinggal di perkebunan. Wanita sekarang mana tahan gak lihat mall seminggu saja," ucap Celin mencoba bercanda.


"Alhamdulillah, saya juga sempat ajak istri saya kerja jadi asisten saya biar dia enggak bosan dan ada kegiatan. Tapi lama-lama saya malah yang tidak tega, istri saya harus berkerja seharian menemani saya, jadi saya suruh saja istirahat, menunggu saya pulang sambil bantu mengajar anak - anak warga sekitar seperti yang saya lakukan dulu sama kamu dan teman-teman kamu."


Celin tersenyum, ia begitu terkesima mendengar kisah teduh rumah tangga Angga dan istrinya. Ia berharap kelak juga bisa mendapatkan suami yang pengertian dan penyayang seperti Angga.


"Sekarang anak Pak Angga sudah berapa?" tanya Celin refleks.


"Kebetulan, empat tahun berumah tangga dengan istri saya Renata, kita belum diamanahi buah hati. Meskipun sudah sama-sama menginginkannya, kita menunggu rencana Allah untuk memberi buah hati pada kita pada waktu yang tepat."

__ADS_1


"Maaf Pak Angga, semoga Pak Angga dan Bu Renata segera di berikan momongan."


"Amin, terima kasih Celin," balas Angga.


"Jadi sekarang kegiatan istri bapak apa? Maaf Pak saya jadi kepo."


Angga terkekeh, "Nggak apa-apa, istri saya gak bisa diam, Rena punya toko roti. Dia pintar membuat strategi. Alhamdulillah sekarang udah punya beberapa cabang yang di kelola orang-orang terpercaya hingga istri saya hanya cukup memantau dari rumah."


"Wah hebat Pak, nama toko rotinya apa, Celin kapan-kapan mampir biar dapat diskon, Celin biasanya suka sarapan rotinya Rengga breads."


"Itu roti milik istri saya," sahut Angga.


"Wah, serius rotinya Bu Renata memang enak. Mulai besok saya bisa dapat diskon dengan sebut Murid Pak Angga," canda Celin.


Merasa begitu serunya obralan mereka, tanpa terasa setelah menempuh dua jam perjalanan mobil sudah memasuki area perkebunan kelapa sawit milik Wilson Palm, jalan yang sedikit berlumpur membuat mobil sedikit bergoyang hingga penghuninya harus tersadar dari lelap tidurnya.


Menerobos hamparan pokok sawit yang menjulang tinggi di kanan kiri jalan, mobil sudah memasuki ke komplek bangunan besar di antara pohon-pohon kelapa sawit yang dilewati. Kini mobil yang di tumpangi Angga sudah berada di area perkantoran dan beberapa perumahan dengan label besar di depan pagar tinggi besar bertuliskan Wilson Palm.


Turun dari mobil, Angga sudah di sambut beberapa karyawan berpakaian rapi yang rata-rata laki-laki dan hanya ada dua perempuan.


"Selamat datang Pak Angga," pria berkacamata langsung menyalami Angga ketika turun dari mobil. Celin hanya mengangguk menyapa.


"Ehmm ...," Angga membangunkan lamunan beberapa karyawan laki-laki yang tak berkedip melihat Celin yang ada di belakangnya.


Pria berkacamata langsung menyenggol anak buahnya yang tergangga melihat Celin.


"Maaf," serunya kaget langsung menyalami Angga dan Celin.


"Maklumin mereka yang tinggal di perkebunan ini Pak Angga," seru pria berkacamata.


"Sebelum kita rapat seperti biasa, saya ingin bicara dulu dengan Pak Dion," seru Angga.


"Tentu Pak Angga, mari Pak," Pria bernama Dion itu mengajak Angga menuju ruangannya.

__ADS_1


Ketiga orang kini sudah duduk di ruangan seseorang paling tinggi jabatannya di kantor ini.


"Jadi Pak Dion selain kunjungan rutin, saya juga ingin menitipkan Celin beberapa hari atau minggu disini sampai data atau yang di perlukan Celin selesai."


Lelaki bernama Dion itu memperhatikan Celin dengan lekat. Muncul senyum penuh arti dari ujung bibir pria itu.


"Baik Pak Angga," jawab pria yang sedikit lebih tua darinya itu.


"Tolong bantu Celin jika dia membutuhkan sesuatu, sampaikan juga pada seluruh karyawan yang lain. Hormati dia sebagai tamu kita."


"Tentu Pak Angga," jawab Dion.


"Celin, saya akan rapat, kamu bisa tunggu disini atau berjalan-jalan keluar nanti saya menyusul."


"Celin tunggu Pak Angga di luar saja," jawab Celin.


"Baiklah, setelah selesai saya akan menyusul." Angga bangkit disusul dengan Dion yang mengekorinya Bosnya.


Celin masih duduk di ruangan IC. Hanya bertemu beberapa jam setelah bertahun-tahun tidak bertemu. Entah kenapa dirinya mendadak menjadi semakin nyaman ketika dengan Angga. Andai saja ia belum beristri, Ada apa ini? Celin buru-buru mengelengkan kepalanya karena salah jika ia memang memilikinya perasaan pada pria yang sudah beristri.


.


.


.


.


.


.


Bersambung ......

__ADS_1


__ADS_2