
Angga pun kini berdampingan dengan Celin akan meninggalkan masjid usia melakukan beberapa posesi pernikahan. Mata Angga menyapu sekeliling masjid mencari istrinya yang sudah tidak ada di dalam masjid. Hatinya mendadak gelisah memikir Renata? Apa istrinya cemburu? Apa istrinya merasa sakit hati sekarang setelah ia benar-benar sah berpoligami?
Tapi kecemasan mereda ketika melihat istrinya dengan keadaan baik-baik saja berbicara dengan ibunya di teras masjid. Hingga semua orang sudah mulai pergi meninggalkan dan tersisa beberapa keluarga saja.
"Celin, saya mau bertemu Renata." Angga meminta izin pada Celin karena wanita bermata indah itu juga istrinya. Celin mengangguk sambil tersenyum mengiyakan.
Angga langsung bergegas menuju teras masjid, diraih oleh Angga bahu Rena hingga istrinya itu terpelonjak kaget.
"Mas bikin Rena kaget," seru Rena mengelus dadanya.
"Dek, Mas antar kamu pulang ya," seru Angga.
"Loh, kamu gimana sih Nga, masa antar Rena pulang. Si Celin gimana? Kamu baru aja nikah apa kata keluarganya nanti," oceh Bu Sinta.
"Mobil Angga kan besar Bu, masih longgar kalau cuma duduk berempat," balas Angga.
"Bukan begitu maksud ibu, apa nggak lebih baik kamu pergi saja Celin. Nanti Rena biar sama Ibu saja, ya kan Ren?" Ibu Sinta melihat ke arah menantunya.
"Ibu benar Mas, Rena pulang sama ibu saja. Lagipula kita satu tujuan," balas Rena terpaksa menuruti keinginan mertuanya. Lagipula hatinya masih mendidih jika harus satu mobil dengan Suami dan adik madunya.
"Tapi...."
"Sudah kamu pergi saja sama Celin ini sudah mau malam, Ibu mau buru-buru pulang nyambut keluarga Abel sama kakak kamu yang juga datang karena pesawatnya delay."
"Ya udah kalau memang begitu," Angga pasrah.
"Rena, bapak, ibu pamit sekarang aja Mas mumpung belum terlalu malam," Rena meraih punggung tangan suaminya. Ia harus pergi dulu sebelum Angga dan Celin, karena sepertinya hatinya masih perih melihat kemesraan mereka.
Angga meraih tangan Rena, membawa wanita itu dalam dekapannya. Di elusnya lembut kepala istrinya yang tertutup kerudung.
"Entah ribuan maaf apa cukup Dek untuk membalas ketabahan hatimu."
Rena mengeratkan pelukannya, ia tak pernah menyangka akan merasa seberat ini melepaskan suaminya di pelukan istrinya yang lain.
__ADS_1
"Semua akan tetap sama Dek, Mas akan selalu mencintai kamu, enggak akan pernah berubah dan enggak akan bisa ada yang merubah," bisik Angga di telinga Rena.
Rena mencoba menyunggingkan senyum, meskipun ucapan cinta Angga kini terdengar hambar ditelinganya ketika melihat Celin yang berjalan mendekatinya.
Rena melepaskan pelukan suaminya, "Rena tahu Mas, cinta Mas Angga selalu untuk Rena."
Angga mencium kening Rena, disusul Rena yang meraih punggung tangan suaminya.
"Rena pulang dulu Mas, Leo sudah siapakan mobil," Rena menunjuk sopir Angga yang membunyikan klakson.
"Bu Rena hati-hati," ucap Celin lembut.
"Jangan panggil ibu, sekarang kita kakak adik loh," Rena berusaha bercanda menutupi rasa nyeri dan cemburunya yang sudah di ubun-ubun.
Celin tersenyum malu, menganggumi ketegaran kakak madunya yang membuatnya cemburu beberapa detik lalu.
"Iya Kak," balasnya tersenyum ramah.
"Ya gitu dong, udah balik dulu, ibu sudah nunggu di mobil." Rena mmenunjuk ibu mertuanya yang melambaikan tangan memanggil-manggil dirinya.
Rena melambaikan ke arah Celin dan Angga.
"Dek," Angga mendekati Rena kembali sebelum istrinya masuk mobil. Diciumnya kening Rena lagi.
"Tunggu Mas pulang," ucap Angga. Rena tersenyum dan mengangguk pada suaminya kemudian masuk ke dalam mobil.
"Kamu nggak usah kuatir, ibu akan jaga Rena," seru Bu Sinta dari kaca mobil.
Angga mengangguk melepaskan kepergian keluarganya.
Mendadak hati Celin merasa getir, walaupun pernikahan mereka hanya karena kesalahpahaman, ia juga istri dari Angga sekarang. Bolehkah Ia merasa iri melihat perhatian dan cinta yang ditunjukkan suaminya untuk kakak madunya? Apakah Angga akan memberi cinta yang sama padanya nanti?
"Celin ayo kita pulang," suara Angga membangunkan lamunan Celin.
__ADS_1
"Ya Pak."
Angga menatap Celin lekat, "Kok panggilnya Pak, sekarang Saya suami kamu." Angga mencubit hidung bangir gadis itu.
Rona merah nampak di kulit wajahnya yang putih dengan sikap manis Angga.
"Terus panggil apa?"
"Sayang mungkin," goda Angga lagi.
"Pak Angga," Celin menyunggingkan senyum mendorong lengan suaminya semakin malu.
Angga hanya tidak ingin Celine merasa terabaikan meskipun ia istri kedua. Sekarang Celin juga istrinya sama dengan Renata, sudah kewajibannya bersikap baik dan membuat wanita yang baru dinikahinya itu bahagia, meskipun pernikahan ini karena dipaksa keadaan.
"Panggil saja Mas, atau kamu punya panggilan sayang lain juga boleh?"
"Ya Mas Angga," jawab Celin menentukan panggilan barunya.
Ia pun lega Angga bersikap baik padanya. Pikiran buruk tentang kehadirannya yang menjadi penengah antara Angga dan Renata perlahan mulai sirna membayanginya. Benih-benih cinta mulai bersemi dihatinya ia yakin Angga pun akan merasakan hal yang sama seiring berjalannya waktu.
Angga menyatukan jari-jari tangannya dengan Celin, ia mengandeng tangan istrinya menuju mobil untuk bermalam dirumah mertuanya selama dua hari kedepan.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung ....
Tinggal like komen vote ya dear😘