
BMW milik Rena sudah terparkir cantik di garasi, ia bergegas masuk rumah karena merasa terlambat pulang karena mengurus pembukaan toko baru di kota Samarinda. Ia harus memasak makanan kesukaan suaminya karena hari ini giliran Angga bermalam bersamanya.
"Loh, Ibu! Kok enggak bilang mau datang." Rena dikejutkan dengan ibu mertuanya yang duduk manis menyaksikan layar televisi di ruang santai rumahnya.
Rena meriah tangan wanita paruh baya itu, mencium punggung tangannya dengan takdzim. Rena pun ikut duduk bergabung dengan ibu mertuanya.
"Ibu mampir sebentar ke rumah kamu Ren," seru Bu Sinta yang terlihat ceria.
"Kenapa nggak telpon Rena dulu Bu, 'kan bisa Rena jemput di bandara," seru wanita manis itu.
"Ibu juga mendadak kesininya, ngantar pesanan Celin," balas sang ibu mertua.
Memang apa yang dipesan madunya sampai-sampai ibu mertuanya rela datang jauh-jauh dan mengantarkan pesanan itu sendiri. Rena tahu, ibu mertuanya memang baik. Tapi apa sampai seperti ini? Seistimewa itulah Celin sekarang di mata ibu mertuanya.
"Kenapa enggak pakai jasa kirim Bu, kenapa harus jauh-jauh datang kesini? Memang Celin pesan apa sih?"
"Tadi dia telepon katanya kangen pingin makan kepiting saus telur asin di dekat rumah ibu. Ya udah ibu bawakan aja sekalian lihat keadaan dia. Ibu juga bawakan untuk kamu sama Angga. Sudah ibu siapkan di meja makan." Cerita singkat Bu Sinta.
Rena mangut-mangut, apa sampai seantusias itu, ibu mertuanya untuk membawakan makanan yang di inginkan adik madunya.
__ADS_1
Tiba-tiba Ibu mertuanya mengelus pipi Rena penuh kasih, kemudian tangan yang mulai keriput itu turun mengelus perutnya, "Semoga cepat nyusul ya!"
Deg! Rena mempersiapkan jantungnya untuk ucapan selanjutnya dari ibu mertuanya
"Orang hamil ya begitu Ren, suka minta aneh-aneh. Nanti kamu juga pasti begitu kalau hamil Nak," ucap Bu Sinta yang nyes rasanya seperti meremukkan sendi Rena.
"Celin hamil Bu!" sentak Rena kaget.
"Loh, kamu enggak tahu Ren?"
Rena mengelengkan kepalanya karena mulutnya terasa keluh, tak sanggup lagi walau hanya sekedar berkata.
"Masmu nggak cerita apa?" tanya ibu mertuanya lagi. Rena mengelengkan kepala lagi.
Ya Allah, Ya Tuhanku, bolehkah aku iri untuk hal ini pada Celin. Sungguh aku sangat iri!
"Ren, ibu juga minta tolong ya. Kamu sering - sering tengok Celin, dia kan sudah enggak punya ibu. Kalian berdua yang rukun."
Rena hanya mengangguk, tak mungkin ia membantah permintaan ibu mertuanya.
__ADS_1
"Nanti sesekali temani juga dia ke dokter kalau kamu nggak lagi sibuk."
Rena juga hanya bisa mengangguk!
"Bu, Ibu istirahat saja dulu! Rena mau mandi dulu Ya, gerah," ucap Rena bermaksud pamit, tak kuat lagi dirinya meneruskan obrolan dengan ibu mertuanya.
"Ya udah sana," balas ibu mertuanya.
Rena berlari cepat menaiki anak tangga, rasanya ia tak sanggup lagi membendung air matanya yang mulai menganak sungai. Perasaannya rasanya campur aduk! Ia hanya ingin segera bertemu suaminya!
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung. ....