Surga Yang Berbeda

Surga Yang Berbeda
Dimana?


__ADS_3

Angga mengaktifkan ponselnya yang sudah terisi daya. Seperti dugaan sebelumnya, entah sudah berapa pesan yang membanjiri ponselnya ketika benda pipih itu mulai menyala. Tapi ia tak menghiraukan itu semua, ia langsung mencari nama kontak istrinya.


Perasaan gugup bercampur panik menyelimuti Angga ketika Renata tak kunjung menjawab panggilan teleponnya.


Ada apa dengan Rena, kenapa ponselnya susah sekali di hubungi. Ia hanya ingin mendengar suara istrinya untuk memberinya semangat menghadapi cobaan mental yang menimpanya sekarang.


Dimana Renata sekarang?


Angga malah semakin panik, pikirkan mulai tak tenang jika Rena mempercayai kabar yang memfitnah dirinya.


"Pak Angga," suara Dion dari ambang pintu kamar membangun kecemasan Angga.


"Pak Dion, silahkan masuk," jawab Angga.


"Maaf dengan kekacauan yang terjadi karena malam itu. Apa Pak Angga akan membahasnya sekarang."


"Ya Pak Dion, kantor kita sudah tidak aman dengan tindakan pelecehan. Kita harus mencari siapa pelakunya. Bagaimana dengan rekaman CCTV di sekitar kamar yang saya minta. Apa Pak Dion sudah siapkan!"


"Tentu saja pak Angga." Pria bernama Dion itu menyerahkan hardisk pada Angga.


Angga segera menyambungkan dengan laptop yang di bawakan Leo. Betapa terkejutnya Angga, tidak ada siapapun yang lewat dalam jalan menuju kamar Celin kecuali dirinya. Ia sungguh mustahil! Ia memutar kembali rekaman CCTV. Hasil tetap sama, pelakunya sepertinya sangat mengenal tempat itu Hingga tak terpantau CCTV.


Ini tidak mungkin! Angga mengeleng frustasi.

__ADS_1


"Pak Angga, semua bukti mengarah pada Anda. Apakah pengawai yang lain akan percaya. Apakah kita akan tetap bahas masalah ini," seru Dion.


"Pak Dion! Entah siapa yang sudah menyebar luaskan foto dan video fitnah itu! Yang jelas, kita akan tetap bahas masalah ini."


"Ya Pak Angga. Apa kita bisa bahas masalah ini nanti, karena ada perwakilan dari warga yang menyuruh Anda segera ke balai desa." Dion menunjuk ke arah pintu.


Angga langsung melangkah keluar memenuhi panggilan warga sesuai janjinya.


.


.


.


.


Warga mulai berkumpul di balai desa. Beginilah perkampungan disini. Ketika ada masalah semua berbondong- bondong begitu antusias. Bukan hanya warga, sebagian pekerja kasar perkebunan juga ikut berkumpul melihat atasan mereka yang beritanya begitu menggemparkan. Beberapa pengemuka desa sudah ada di kursi balai desa bersama pejabat perangkat desa terkait.


"Pak Angga, lebih ramai dari dugaanku," seru Celin dari dalam mobil, ia sangat mengenal warga kampung masa kecilnya itu.


Keadaan Celin memang belum terlalu pulih, tapi ia memaksa ingin memberi kesaksian kejadian malam justru Angga yang menolongnya dari percobaan pemerko-saan.


"Celin, apa kamu yakin? keadaan kamu belum benar-benar pulih," ucap Angga berbalik melihat Celin di bangku belakang. Angga sedikit kuatir keadaan Celin yang masih terlihat pucat, bahkan tadi pagi saat menemuinya Celin masih dirudupi rasa takut bertemu seseorang.

__ADS_1


"Ada Pak Angga bersama Celin, Celin pasti baik-baik saja," ucap Celin dengan mengembangkan senyum.


Entah kenapa Celin semakin bergantung padanya. Angga hanya takut sikap Celin yang seperti ini akan membuatnya semakin terikat dengannya.


"Ayo kita turun." Angga membuka pintu mobil depan.


Mendengar ucapan Angga, sang sopir Leo bergegas turun membukakan pintu mobil belakang untuk Celin.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung ......


__ADS_2