
Niat awal Rena tadinya ingin ke kolam renang hotel sebelum kembali ke ballroom. Ia melakukan hal itu untuk sambil menunggu mata sembabnya mereda. Tapi siapa yang duga, jalan terburu - buru menggunakan high heels menahan emosi yang membuncah dalam dada membuat dirinya jadi terpelanting merasakan dingin dan licinnya lantai marmer hotel. Padahal, hanya beberapa meter lagi ia akan sampai area pool. Apakah ini balasan jika pergi ke tempat lain tanpa sepengetahuan suaminya
Dan lebih memalukan lagi, kenapa saat kejadian naas itu, ia berpas-pas dengan pria yang dikenalnya yang kebetulan sedang melintas. Pria itu adalah Farhan yang juga berada di hotel ini. Sungguh ia sangat menyesalkan kejadian memalukan ini.
"Pakai ini dulu Ren," pria beraroma maskulin itu menyodorkan tisu yang baru dibawakan petugas hotel.
Rena langsung menyambar saja barang yang paling ia butuhkan itu untuk menyeka air di hidung dan matanya.
"Kamu beneran nggak apa-apa?" tanyanya lagi duduk di sofa sebelah Rena memastikan keadaannya.
Rena hanya menggeleng tak ingin sembarangan membagi rasa sakit kepada pria lain, tentu saja kakinya terasa sangat nyeri itu marmer bukan pasir. Meskipun rasa nyeri di kakinya tidak sebanding dengan rasa nyeri dihatinya setelah mendengar ucapan dua manusia tak punya akhlaq itu
"Kamu yakin? Sampai nangis terseduh begitu. Pasti sakit," ulang Farhan menundukkan wajah semakin menatap lekat Rena curiga bercampur cemas.
Sungguh Rena benar-benar mulai tak nyaman dengan tatapan orang yang ada disebelah. Ia hanya takut ada yang melihat, salah paham dan ujung-ujungnya malah jadi fitnah. Ia hanya menunduk sambil memijat kakinya berharap rasa ngilu segera mereda hingga dirinya bisa langsung melengos pergi dari pria yang membantunya untuk bangun tadi.
"Aku nggak apa-apa," ucap Rena lagi memaksa tersenyum. "Kamu tinggal aja." Tangannya mempersilahkan untuk berdiri, ia lebih tenang jika pria itu pergi meninggalkannya. Tapi sepertinya pria tampan itu tak bergeming.
"Bu Ren ternyata disini, aku tadi susul kamu ke toilet kira numpang mandi sekalian!" seru Abel yang tiba-tiba muncul di hadapan keduanya.
"Sorry lama! Aku habis kepeleset!" Rasa lega langsung Menghinggapi Rena ketika sahabatnya muncul.
"Pak Farhan," seru Abel menyapa pria yang ada di sebelah Rena. Tentu saja Abelia mengenal anak pemilik hotel tempatnya membuat acara.
"Nyonya Adiguna," pria itu menunduk menyapa dengan ramah istri pengusaha terkemuka di kotanya itu.
"Kalian?" seru Abel melihat kedua orang di depannya nampak sudah saling mengenal.
"Saya dan Rena teman satu organisasi waktu kuliah," jelas pria itu.
__ADS_1
Abel hanya mangut mengiyakan. "Rena kakak saya," balas Abel mengulas senyum.
"Farhan makasih, aku balik dulu sama Abel." Rena mencoba berdiri karena merasa kondisi kaki sedikit membaik.
"Iya, lain kali hati-hati," ucap Farhan ikut berdiri.
"Ayo sini pelan-pelan," Abel membantu Rena berjalan. "Sekali lagi terimakasih Pak Farhan." Farhan menunduk mempersilahkan dua wanita itu pergi.
Pria bersetelan kemeja itu masih tak beranjak dari tempatnya, ia memperhatikan dua wanita yang baru saja meninggalkannya. Entah kenapa akhir-akhir ini selalu bertemu teman masa lalu yang dulu sempat mengusik hatinya kala itu.
Buru-buru ia mengalihkan pandangannya pada wanita yang sudah bersuami itu.
.
.
.
.
.
"Sakit banget ya, sampai nangis kejer," seru Abel melihat mata Rena yang sembab.
"Ya sakit, itu marmer Abelong," elak Rena.
Tentu saja ia tidak ingin menodai hati sahabatnya untuk ikut terbawa amarah jika menceritakan ucapan kedua orang itu. Cukuplah ia dan suaminya yang membahas masalah yang berhubungan dengan rumah tangganya.
Abel memperhatikan lagi ke arah sahabatnya. Tentu saja ada masalah lain, ia tak bodoh percaya begitu saja ucapan Rena. Ia sudah bersahabat dari bayi, Abel sangat paham tahu gerak gerik Renata. Ia mengurungkan niatnya ingin mendesak sahabatnya untuk memperjelas rasa penasaran. Jika Rena tidak ingin bercerita, berarti itu masalah yang memang tak bisa ia bagi dengan dirinya.
__ADS_1
Abel mengelus lengan Rena, ia kembali mengingat bagaimana Rena yang sekarang. Hal itu benar-benar di luar dugaan Abel terjadi pernikahan kedua dalam rumah tangga sahabatnya. Ia ikut merasakan bagaimana jika ada di posisi Renata. Sungguh! Membayangkan saja bulu romanya begidik ngeri! Abel tak sanggup. Melihat suaminya mempunyai sekertaris cantik ia sudah naik darah! Apalagi sampai menikah lagi.
Baginya merelakan suami berbagi dengan wanita lain adalah hal yang tak semua wanita bisa melakukannya. Abel tak mengerti kenapa sahabatnya bisa memilih jalan seperti dengan dalih demi menjaga nama baik suaminya.
Abel mengagumi keteguhan hati sahabatnya untuk semua itu.
Abel memang menyadari banyak yang berubah dari sahabatnya, meskipun di luar wajahnya terlihat bahagia dan baik-baik saja. Abel yakin didalam hati sahabatnya menyimpan rasa sakit yang tak bisa di ungkapkan dengan apapun. Ia pun pernah menyaksikan langsung.
Abel buru- buru menepis air bening yang tiba-tiba menetes dari ujung matanya. Sungguh pengorbanan yang luar biasa yang dilakukan sahabatnya. Ia bahkan ingin menangis jika membayangkan posisi Renata sekarang. Yang bisa ia lakukan sekarang hanya berdoa yang terbaik untuk rumah tangga sahabatnya.
"Ya udah balik sana ke ballroom, nanti kamu dicariin," seru Rena ketika tiba di depan pintu kamar hotelnya.
Abel memang menyewa beberapa kamar untuk tamu undangan yang hadir.
"Istirahat ya kalau masih sakit! Nanti aku bilang sama paman Angga," balas Abel.
"Kalau Mas Angga masih diperlukan disana nggak perlu buru-buru."
"Kayaknya kamu deh yang lebih butuh Paman Angga," goda Abel mengedipkan sebelah matanya.
Rena mengelengkan kepala dan segera masuk ke dalam kamar hotel.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung ....