Surga Yang Berbeda

Surga Yang Berbeda
Berusaha Ikhlas


__ADS_3

Sementara di tempat yang berbeda, wanita muda dengan balutan kebaya putih terlihat begitu Anggun. Wajahnya yang sudah cantik semakin terlihat ayu dengan tatanan makeup yang natural. Mata hazel gadis itu sudah memancarkan aura kecantikannya menjadi pengantin, jadi perias tak perlu lagi menambahkan softlens untuk melengkapi kesempurnaan riasnya.


Sesuai dengan permintaan pihak laki-laki, Celin akan mengenakan hijab saat prosesi akad nikah.


"Kamu memang cantik seperti ibumu," seru pria paru baya yang membangunkan lamunannya.


"Papi," Celin berbalik berusaha tersenyum meksipun hatinya tak bisa bahagia seperti pengantin pada umumnya.


"Ayo kita berangkat," pria itu menggandeng putrinya.


"Tunggu Pi," gadis muda itu menahan langkah ayahnya.


"Pi, sebenarnya ada kesepakatan apa antara Papi dan Bu Renata sehingga ia dengan rela hati mengizinkan suaminya menikahi Celin," ucap Celin. Ia sebenarnya ingin menanyakan hal itu sejak kemarin tiba di kota.


"Nak, Papi hanya melakukan jalan yang terbaik untuk kita semua. Kamu jangan memikirkan hal itu lagi, tetaplah nanti bersikap baik pada Bu Renata dan Pak Angga kita banyak berhutang budi pada mereka."


"Ya Pi, Celin mengerti apa yang harus dilakukan setelah menikah dengan Pak Angga."


.


.


.

__ADS_1


.


.


Mobil yang di tumpangi Angga dan Renata sudah tiba di masjid yang tak jauh dari rumahnya.


Rena meraih perhiasan yang menjadi salah satu mahar yang di berikan kepada calon istri suaminya.


"Ayo Dek," Angga meraih tangan Rena membantu turun dari mobil.


Angga mulai melangkah dengan terus mengengam erat tangan istrinya yang juga terlihat cantik memakai baju gamis putih.


Medadak Angga menjadi gugup, ia seperti akan menghadapi masalah rumah tangga yang lebih sulit lagi kedepannya.


Meskipun ia ragu, apakah nanti ia akan bisa berbuat adil pada kedua istrinya. Tapi yang sudah terjadi memang menjadi jalan hidupnya.


Angga hanya mencoba pasrah, mungkin jalan hidup seseorang tak lepas dari ujian. Jika kita pasrah dan mencoba menerima takdir yang di gariskan yang Maha Kuasa tentu akan bisa dilewati dengan mudah.


Sudah ada beberapa orang yang berkumpul di masjid. Semua mata kerabat yang diminta hadir tertuju pada pasangan Angga dan Renata yang masuk area masjid bergandengan tangan. Sekilas ada kerabat yang berbisik-bisik mengangumi Renata yang terlihat begitu tegar suaminya akan mengucapkan ikrar dengan wanita lain.


Kini Renata harus melepaskan tangan suaminya untuk duduk bersanding di depan bersama penghulu.


Renata mencium punggung tangan suaminya, disusul Angga yang mencium kening istrinya dengan ribuan kata maaf yang bergemuruh dihatinya jika seandainya bisa ia ucapakan.

__ADS_1


Tamu yang di dominasi orang terdekat justru malah miris melihat pemandangan Angga dan Renata. Kenapa pernikahan yang harusnya membuat tamu jadi bahagia justru malah menbuat hati para keluarga resah pada Rena. Padahal Rena tak sekalipun menampakkan wajah sedihnya, sepanjang jalan bergandengan tangan dengan Angga menuju ke dalam Masjid.


Bu Sinta, mertua Rena yang hadir di antara barisan perempuan langsung menarik tangan Rena untuk mengikuti langkahnya. Walau bagaimanapun, wanita paruh baya itu juga cemas dengan keadaan Rena meskipun menantunya terlihat baik-baik saja.


"Kamu yang sabar ya Nak." Bu Sinta mengelus punggung Rena.


"Iya Bu, enggak usah kuatir gitu," balas Rena berpura baik, meskipun sekarang entah kenapa tiba-tiba badannya menjadi lemas padahal akad nikah belum di mulai.


Ya Allah, Dzat pemilik dan berhak membolak-balik hati ini, kenapa hatiku mendadak sesak? Sudah benarkah keputusan yang aku buat ini? Kuat kan aku Ya Allah.


.


.


.


.


.


.


Bersambung .....

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘😘😘


__ADS_2