
Angga semakin mempercepat laju mesin treadmillnya. Entah sudah berapa banyak keringatnya yang menetes.
Sungguh situasi beberapa hari terakhir membuat raganya memanas dan kepalanya terasa mau pecah.
Belum bisa mengambil nafas lega karena masalah Dion, ia dihadapkan dengan masalah baru yang menjukir balikan dunianya.
Rena adalah segalanya untuk Angga. Wanita ayu itu adalah dunianya, cintanya, separuh jiwanya.
Bagaimana bisa ada seorang bocah yang berani mendekati istrinya itu.
Angga hampir terbakar setiap mengingat perkataan yang keluar dari mulut pria itu.
Bug ... Bug ... bug dipukulnya keras samsak yang menggantung di samping mesin treadmill. Rasanya tak cukup untuk meredakan api cemburu yang membakar tubuhnya.
Bagaimana bisa ia menjadi sepanik ini mengingat ancaman bocah kemarin sore itu! Bagaimana jika apa yang di ucapkan pria itu jadi kenyataan.
Bug ... Bug ... Bug. Pukulan keras kembali ia layangkan. Hingga tubuhnya lelah dan menjatuhkan diri ke lantai.
Untuk pertama kali ia melakukan aktivitas sehat tapi hatinya sama sekali tak sehat! berantakan! Ia meraih handuk untuk membersihkan keringatnya.
Ia tak akan terima! Ia tak bisa membiarkan sesuatu yang menjadi miliknya dilirik orang lain! Tak akan rela! Wajah angkuh pria itu terus membayanginya, ucapan songongnya seperti terus mendengung di telinganya. Ia yakin Rena sangat mencintainya. Apakah jaminan bocah itu tak berhasil merebut istrinya? Dasar pria sombong! Angga rasanya ingin meninju mulut itu ketika mengeluarkan ucapan tak pantas untuk sang istri. Benar-benar orang kaya yang kurang ajar! Kenapa ia harus mengincar istri orang! Sementara di luar sana begitu banyak wanita singel yang tertarik padanya.
Angga sangat takut kehilangan Renata! Sangat teramat! Ia tak akan rela separuh hatinya itu pergi darinya. Ia bisa gila! itu tak boleh terjadi!
Sial! Lawannya hanyalah bocah baru menetas tapi entah kenapa ia jadi sepanik ini.
Ia meneguk air lalu membasahi kepalanya yang terasa panas seperti mendidih. Ia berdiri menuju dapur.
__ADS_1
"Sri!"
"Ya Pak!" Art itu terperajak kaget melihat majikan yang biasa kalem memanggil sekeras itu.
"Jaket yang kemarin kamu kasih Celin dan sapu tangan itu sudah kamu keluarkan dari rumah ini!"
"Sudah Pak, ibu yang ambil katanya mau dikirim lagi ke pemiliknya," balas Art itu.
Lagi-lagi Rena berhubungan dengan pria itu! Kekesalan Angga memuncak lagi.
"Sri sekarang buatkan saya kopi less sugar seperti racikan Rena!" ucap Angga butuh mengistirahatkan pikirannya yang semerawut.
"Kalau rasanya nggak mirip buatan ibu bagaimana Pak," ucap Sri yang takut salah resep, karena biasanya Renata lah yang selalu membutakan kopi untuk majikannya.
"Ya kamu tanya Ibu sana!" ucap Angga lugas.
Tanpa basa-basi Sri yang takut melihat majikannya tak seperti biasa itu, meninggalkan pekerjaannya bergegas menjalankan perintah.
Waktu weekend yang biasa ia tunggu-tunggu menjadi sangat tak menyenangkan. Ia biasanya menghabiskan waktu akhir pekan seperti ini bersama Renata untuk saling bermanja-manja. Tapi justru menjadi ruyam seperti sekarang! Pikirkannya berantakan. Ia masih panas, kesal, marah, ia sangat cemburu dan tak bisa lagi berpikir waras.
Langkah kaki mulai mendekat, ia menoleh dan mendapati bukan Sri tapi istrinya yang membawakan kopi. Ia memalingkan wajah kembali berpura acuh.
Sungguh Angga benci dengan situasi seperti ini. Ia rasanya ingin meraih tubuh Rena ke pangkuannya memeluknya erat-erat. Tapi egonya menolak untuk itu. Ia masih ingin berdiam diri dengan istrinya agar bisa sama-sama saling introspeksi diri.
Orang yang masih marah akan mengeluarkan ucapan yang tak terkontrol. Diam sementara waktu meredakan emosi adalah pilihan tetap. Siapa tahu dengan seperti itu hubungannya dengan Renata bisa jauh lebih mesra.
Renata selalu memberitahu kemanapun ia pergi. Ia selalu meminta izin untuk bertemu siapapun tanpa terkecuali. Tapi kenapa ia tak memberitahu dirinya kalau akan bertemu bocah itu. Sungguh Angga merasa seperti di curangi istrinya menemui seorang pria dibelakangnya. Harga dirinya sebagai suami terasa dijatuhkan.
__ADS_1
Apa Renata sang istri sepolos itu sampai tak menyadari kalau seseorang yang mendekatinya itu tertarik padanya. Bukannya menjauh seperti yang pernah ia perintahkan. Sang istri malah bertemu tanpa sepengetahuan. Suami mana yang bisa tenang?
Terlebih ucapan penuh percaya diri pria tak tahu adab itu, hanya membuat sepanjang aliran darahnya seperti mendidih.
Padahal dirinya selalu berusaha mengutamakan istri tercintanya itu semenjak menikah lagi. Rena mengendalikan dunianya, ia bisa melakukan apapun untuk istrinya.
"Mas Rena mau ..."
"Mas mau menikmati kopi jangan ada bahasan lain!" sahut Angga sebelum Rena meneruskan kalimatnya. Angga bisa melihat mata Rena yang agak sipit. Ia tak tega! tapi ia masih kesal dengan sang istri. Ia tak mau menunjukkan sikap cemburu berlebihnya ini. Ia hanya ingin memberi pelajaran pada istrinya.
Hampir beberapa menit, yang Rena lakukan hanya memandangi dedaunan taman. Merasa di tak dihiraukan kehadirannya, Rena memilih masuk kedalam rumah tanpa pamit.
Angga juga ikut masuk ke dalam rumah. Ia butuh mandi untuk menyegarkan pikirannya. Ia bergegas masuk ke dalam kamarnya. Baru akan masuk kamar mandi, ia mendengar gemericik air dari dalam.
Sial! Jika bukan keadaan seperti ini ia sudah ikut bergabung mandi bersama istrinya. Angga menuju ke ranjang duduk sejenak disana. Dilihatnya ponsel sang istri ada di atas nakas. Ia meraih ponsel itu, Angga tentu hapal kode pin ponsel. Ia membuka pesan yang masuk di ponsel itu. Dibacanya pesan dari kontak bocah itu, tidak ada balasan apapun dari sang istri jika pesannya tidak penting, tapi pria itu terus mengirim beberapa pesan yang tak ada hubungannya dengan bisnis. Angga langsung memblokir nomor itu tanpa pikir panjang. Dengan begitu pria itu tak akan lagi bisa menghubungi istrinya.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung ......
Sori Ei baru bisa up, malam ei usahakan up lagi......