
Rena meraba sisi sebelah ranjang yang kosong. Hampir sebulan sudah Rena terbiasa merasakan ranjangnya beberapa hari kosong. Meskipun kadang rasanya ia tak rela jika membagi ranjangnya dengan wanita lain.
Tapi tunggu! Bukankah malam ini bukan jadwal gilir untuk madunya? Dimana suaminya? Rena langsung menyibak selimut untuk bangun. Ia melihat ranjangnya memang kosong. Rasa curiga bercampur kesal menghampiri Rena. Tentu saja Angga pasti melimpir ke rumah sebelah! Memang! sekuat-kuatnya iman orang pasti akan goyang juga dengan hawa nafsu. Ia bergegas bangkit dari ranjang ingin marah dengan suaminya?
Tapi langkahnya terhenti ketika melihat suaminya yang sibuk dengan Ipad-nya disofa kamar.
"Astagfirullahaladzim, bikin kaget Mas aja Dek," pekik Angga ketika Rena merangkul pundaknya keras.
Rena langsung duduk bersama suaminya. "Malam-malam masih kerja aja sih Mas," seru Rena.
"Nggak De, Mas cuma periksa laporan hasil pengintai selama satu bulan di perkebunan setelah malam itu."
Rena manggut-manggut, ia tahu malam yang di maksud Angga adalah malam saat ia bersama wanita yang sekarang jadi istri suaminya.
"Ada masalah?" tanya Rena.
"Ada yang ganjil," jawab Angga.
"Oh ya?"
"Mas masih punya tanggung jawab penuh atas kantor yang ada di perkebunan. Jika management dibawah saja ada masalah, pasti lambat laun akan mempengaruhi di atas meskipun tidak terlalu ketara jika kecurangannya rapi. Mas harus segera tindak jika memang ada yang terasa ganjil."
"Memang masalahnya serius Mas," seru Rena penasaran.
"Beberapa karyawan wanita ada yang resign tanpa sebab. Laporan keuangan yang berselisih. Sudahlah! Kita urus nanti ini nanti." Angga menaruh Ipad-nya di atas nakas. "Kenapa Adek terbangun?" Angga mengelus pipi istrinya dengan lembut.
"Bagaimana bisa tidur, kalau gulingnya lari, hampir aja Adek kira Mas salah pulang ke rumah sebelah," seru Rena.
Angga tersenyum renyah. "Adek, itu namanya seudzon sama Mas, orang yang suka seudzon itu dihasut oleh setan." Angga mencubit hidung istrinya.
__ADS_1
"Ya iya. Sekarang Rena mau tidur," Rena berdiri menarik tangan suaminya.
.
.
.
.
.
Celin melangkah pelan ke rumah suami dan kakak madunya. Memang bukan pertama kali ia masuk ke rumah ini, tapi kunjungan ke rumah kakak madunya hanya bisa dihitung jari di tangan kanannya.
Ia duduk saja di sofa tamu menunggu Rena yang akan dipanggilkan asisten rumah tangga. Ia mengamati sejenak sekeliling rumah kakak madunya untuk mengusir kejenuhan. Rumah yang jauh lebih bagus jika di bandingkan dengan rumah yang di tempatinya sekarang. Perabotnya juga tertata rapi dan terlihat mahal. Diamatinya bingkai besar foto pernikahan pernikahan suaminya dan kakak madunya. Terlihat bahagia, andai saja ia bisa menikah dengan suaminya dengan keadaan yang wajar dan seharusnya, pasti ia tidak akan segan ikut juga memasang foto pernikahan sebesar mungkin di ruang tamu bukan di kamar seperti saat ini.
"Celin," sapa Rena membangunkan lamunan wanita bermata hazel itu. Ia pun ikut bergabung dengan Celin di sofa ruang tamu.
"Nggak kok, Mau cek lapak aja sih," seru Rena.
Ia yang memperhatikan tampilan madunya yang kini banyak berubah. Istri suaminya itu terlihat lebih anggun ketika mengenakan hijab instan. Eh tunggu, tanpa sengaja Rena malah fokus melihat gelang emas putih yang dikenakan adik madunya, dibandingkan isi yang ada di atas piring yang dibawanya. Kenapa adik madunya memakai model gelang yang sama dengannya? Pasti itu juga pemberian suaminya ketika beberapa waktu lalu pulang rapat di ibukota.
Suamimu harus berlaku adil Rena! bahkan untuk masalah perhiasan sekalipun.
Ya! Rena memang sudah kenyang dengan hadiah-hadiah spesial dari suaminya, tapi tetap saja nyelekit di hati melihat kenyataan sekarang hadiah istimewa yang diberikan suaminya tak hanya untuknya saja.
"Kak Ren, tadi aku buat kroket kentang yang kak Rena suka." Celin menyodorkan piring yang menguarkan aroma sedap itu.
Rena terbangun dari angannya, "Eh, makasih lo, pasti enak." Rena semeringah menerima piring yang diberikan Celin.
__ADS_1
"Kalau gitu, aku balik pulang dulu Kak." Celin bangun dari sofa.
"Cel, sarapan bareng aja dulu," ajak Rena.
"Enggak usah Kak, dari pagi perut aku kayak enggak enak makan."
"Dek, sarapan udah siap belum?" Angga turun dari tangga menegur istrinya.
Suara Angga memecah obrolan kedua wanita cantik itu. Rena dan Celin menoleh bersamaan ke sumber suara.
"Udah Mas," seru Rena mendekati Angga. Ia membetulkan kra kemeja Angga yang sedikit miring.
Celin hanya bisa membuang pandangan ke sembarang arah. Tentu saja ia tak sanggup melihat keromantisan suaminya bersama kakak madunya.
"Yuk Cel, ini ada Mas Angga juga," seru Rena sekarang mengandeng lengan suaminya.
"Ayo kita sarapan bareng," ucap Angga sedikit canggung ketika kedua istrinya bersamaan ada didepannya seperti ini.
Celin pun tak bisa menolak keinginan Rena dan suaminya kali ini.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung ......