
Sore ini, Rena membawa bungkusan roti yang ia bawa usai dari toko. Cukup hanya berjalan kaki ia sudah tiba di depan pintu rumah seseorang. Rumah lantai dua bercat putih dengan tipe 90. Hari ini ia berniat akan berkunjung ke rumah Celin untuk beramah tama sebagai tetangga baru karena madunya baru saja pindah rumah di sebelahnya. Mencoba membuang rasa cemburu, Renata melangkah menuju rumah yang masih berupa bangunan asli perumahan itu.
“Bu Rena, mau ketemu Mbak Celin,” tanya wanita berumur yang sedang menyapu halaman rumah. Wanita itu adalah salah satu asisten rumah tangga senior di rumahnya yang sekarang mendapat tugas membantu di rumah Celin.
“Ya Mbak Marni, Celin ada?”
“Ada Bu, Bapak juga ada di dalam,”jawabnya.
Ternyata Mas Angga menemui Celin dulu.
Rena masih sangat ingat kalau hari ini belum giliran Celin untuk bermalam dengan suaminya. Begini keadaan sekarang, suami yang dulu hanya pulang padanya. Kini ia harus bisa terima waktu suaminya harus dibagi seadil-adilnya dengan wanita lain.
Rena mendadak lesu, tapi sekarang ia mencoba buang jauh-jauh perasaan was-was ini. Lama – lama ia akan bisa terbiasa dengan keadaan.
“Langsung masuk aja Bu,” ucap Mbak marni.
Rena langsung masuk ke dalam rumah melewati pintu ruang tamu yang terbuka. Belum sempat ia melangkah dari ruang tamu, ia harus disuguhkan pemandangan romansa dapur yang terlihat dari ruang tamu. Untuk pertama kali Rena melihat suaminya bermesraan dengan wanita lain. Tangan Angga melingkar diperut Celine yang terlihat sedang memasak. Sungguh kenapa rasanya masih belum rela tangan yang biasa memeluknya, kini harus ia bagi juga bersama wanita lain.
Come on Ren, dia juga istri suamimu. Mereka juga pasangan suami istri tentu saja hal seperti itu sudah biasa. Mereka halal melakukan apapun, dimanapun dan kapan pun.
“Mas Angga udah geli,” suara Celin yang membuat hati Rena tegar kembali menciut.
__ADS_1
Sedangkan suaminya masih mengecup bahu terbuka wanita muda itu. Rena hanya bisa berdoa agar jantungnya tetap baik-baik saja jika memang akan bergabung bersama mereka.
Menurut Rena, Suaminya dan Celin tergolong cukup akrab untuk pasangan suami istri yang baru mengenal dan menikah karena terpaksa. Apa karena Celin yang masih muda dan cantik. Sudahlah, bukan kah suaminya sendiri yang bilang kecantikan seseorang itu dari hati, iman dan taqwannya. Rena harus menerima konsekuensi keputusanya jika ingin tetap waras.
Dengan jantungnya yang masih terasa kebas karena rasa cemburu yang tak pernah pergi dari hatinya, mencoba menarik senyum mendekati pasangan suami istri baru itu.
“Assalamualaikum,” sapa Rena yang langsung membuat Angga refleks melepaskan lilitan tangannya dari perut istrinya.
"Wa'alaikumusalam,” sahut keduanya.
“Mas, ternyata Mas kesini dulu,” tegur Rena pada suaminya yang terlihat salah tingkah.
“Ya De, Mas hanya mampir sebentar untuk lihat keadaan rumah ini. Adek kenapa enggak bilang mau kesini,” balas Angga.
“Makasih Kak, jadi ngerepotin,” balas Celin merasa canggung kepada Renata.
“Sama sekali nggak, ini varian roti baru aku, roti durian merah,” jawab Rena mencoba bersikap seadanya.
“Pasti rotinya enak Kak, Roti Renga buatan Kak Rena sudah terkenal di seluruh kaltim dan kaltara,” puji Celin mencoba akrab dengan kakak madunya.
“Alhamdulillah, ngomong-ngomong kamu juga lagi masak? Masak apa?” Rena melihat piring yang ada meja pantry di hadapan Celin.
__ADS_1
“Oh ya ampun, buat kroket kentang yang diajarkan Mama Kak, Kakak silahkan coba. Maaf kak, Celin nggak sopan biarkan Kakak berdiri di dapur.” Celin menyodorkan satu kroket di piring kecil.
“Santai aja,” Rena menusuk dengan garpu lonjoran kudapan yang terlihat enak itu. “Hmmm, enak loh, parah. Bisa nih aku jual di toko. Coba Mas,” Rena menyodorkan sisa gigitan ke mulut suaminya.
Pria yang dari tadi hanya diam saja itu menerima suapan dari istrinnya. Angga memandang Rena dengan perasaan yang entah!
“Enak kan!” Angga hanya mengangguk menanggapi istrinya.
Tidak mudah bagi Renata untuk memuji keunggulan wanita lain di depan suaminya. Mulutnya tetap tersenyum tapi hatinya bagai tersayat.
Ya Allah beginikah rasanya memiliki madu,
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.......