Surga Yang Berbeda

Surga Yang Berbeda
Kencan?


__ADS_3

Celin keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambut coklatnya dengan handuk kecil. Keadaan sudah semakin membaik setelah bedrest seminggu lebih.


Ia segera turun ke dapur untuk membuat sendiri susu hamil dan cemilan siang yang ia inginkan. Tapi ada pemandangan yang berbeda di minggu sorenya kali ini di ruang tengah.


Ia melihat suaminya yang sudah duduk santai di sofa sambil mengoperasikan ponselnya. Senyum bahagia terukir di bibirnya. Suaminya menepati janji dengan membagi setengah hari waktu dihari Minggu. Biasanya di hari Minggu suaminya menghabiskan akhir pekan bersama dengan istri pertamanya. Ia sebenarnya tak ingin berharap lebih akan hal yang diinginkannya waktu itu. Tapi siapa yang menyangka, ia akhirnya bisa bersama suaminya di hari Minggu.


Ia tak ingin dulu menganggu suaminya yang terlihat serius, meskipun rasa rindunya sudah berat ditinggal beberapa hari ke luar kota oleh suaminya dan kakak madunya.


Wanita bermata hazel itu menuju dapur, bermaksud membuat jus untuk suaminya.


"Mas Angga udah lama Bi," tanya Celin pada Mbak Mirna yang kebetulan memasak jadi dapur.


"Ya lumayan Mbak, ada satu jam yang lalu. Saya tanya kenapa nggak ke atas. Kata Bapak nggak mau ganggu Mbak Celin tidur," jawab Mbak Mirna.


"Padahal udah bangun dari tadi." Celin tersenyum ramah sambil memasukkan jeruk ke dalam Juicer.


"Ini bapak juga tumben minggu-minggu ada di rumah sini biasanya pergi jalan - jalan sama Ibu," seru Mbak Marni.


Celin hanya mengangkat pundak membalas dengan senyuman.


"Pasti kangen sama istrinya yang lagi hamil kenapa juga Marni tanya," sambung Marni mengoda majikannya.


"Bibi ih," balas Celin malu. "Bi tolong potongkan apel sama melon terus antar ke ruang tengah. Aku mau antar jusnya untuk mas Angga." Celin menepuk pundak mbak Marni dan berjalan ke arah ruang tamu menemui suaminya.


"Mas," sapa Celin.


"Dek, kopi buat Mas!" seru Angga refleks.


Senyumannya seolah cekat mendengar panggilan suaminya yang tentu ia hafal untuk siapa. "Oh ... Tadi aku buatkan jus jeruk, Mas tunggu Sebentar aku buatkan dulu kopi." Celin hendak berbalik.


Buru-buru Angga berdiri menyadari ucapannya yang salah. Ia mencegah Celin kembali ke dapur. "Yang, jus jeruk saja, kebetulan Mas haus," ucapnya tak enak hati. Angga meraih gelas ditangan istrinya dan mengajaknya duduk kembali di sofa.


Ia hanya membalas senyum mencoba maklum, ia membuang jauh pikiran yang bukan-bukan ketika ada kesempatan bersama suaminya.

__ADS_1


"Mas udah lama?" tanya Celin basa-basi.


"Ya lumayan," seru Angga sambil meneguk jus jeruknya.


"Kak Rena juga ikut pulang bareng."


"Enggak, Rena masih mau menghabiskan waktu dengan Abel dan Arzen. Kemungkinan lusa baru balik."


Celin mengangguk, entah kenapa ia begitu senang. Suaminya rela meluangkan waktu lebih untuknya.


Celin tersentak kaget, suaminya menunduk sejajar dengan perutnya. Pria itu mengelus perutnya yang mulai bucit dengan lembut lanjut menciumi perutnya dengan gemas.


"Mas geli," elak Celin, meskipun ia begitu senang suaminya sekarang begitu perhatian padanya dan bayinya.


"Kata Bunda, anaknya ayah suka kan kalau di ciumi begini."


"Iya, ayah tapi bunda sekarang geli kalau ciumnya nggak berhenti-henti." Celin mengusap kepala suaminya yang masih tak berhenti menciumi perutnya. Sungguh ini Minggu paling bahagia selama Celin menikah.


"Enggak kok ayah, paling kangen kalau ayah nggak sama Bunda." Celine menutup mulutnya keceplosan.


Angga bangun dari pangkuan Celin, menatap wajah istrinya itu. "Sekarang Mas sudah disini. Kamu nggak mau pergi weekend kemana gitu, Mas temani."


Celin berpikir, bisa bersama suaminya dan mendapat banyak perhatian saja baginya sudah lebih dari cukup. Celin mengangkat pundaknya terus mengelengkan kepala.


"Kita nonton gimana?"


"Kita kencan Mas ceritanya?" Celin masih tak percaya.


"Kalau kamu mau sih,"


"Mau Mas, Aku mau ...," ucap Celin begitu berbinar.


Selama menikah ia belum pernah sama sekali pergi berkencan dengan suaminya. Ia benar-benar sudah terasing dari pergaulannya yang dulu.

__ADS_1


Ia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah menjaga kehamilan dan menjaga hati dari omongan kurang enak diluar rumah. Ia juga sebenarnya ingin mengajak suaminya melakukan hal-hal menyenangkan seperti berkencan, ikut pergi ke kajian bersama seperti halnya pasangan suami-istri yang lain. Tapi ia hanya bisa memendam keinginannya tanpa berani mengungkapkan, karena suaminya pasti menolak dengan alasan menjaga perasaan kakak madunya. Tapi sekarang suami sendiri yang malah ingin mengajaknya, tentu saja ia tak menolak.


"Tapi sebelum nonton, temani Mas sebentar saja temui rekan-rekan bisnis dari luar kota, mereka undang Mas untuk Dinner."


"Lama?" tanya Celin sedikit kesal kenapa harus ada urusan bisnis di waktu kencannya.


"Nggak sebentar aja,"


"Ya udah aku mau siap-siap dulu," Celin bangkit dari kursi.


Angga menarik lengan istrinya. "Jangan dandan terlalu cantik, Mas nggak mau ada laki-laki yang nggak berkedip lihat kamu."


"Ih Mas, emang ada laki-laki yang curi pandang sama perempuan perut buncit."


"Kalau perempuan bucitnya seperti kamu mungkin bisa jadi," ucap Angga dengan ekspresi ketus.


Celin hanya mengiyakan, bertambah lagi kebahagian Celin hari ini, suaminya sekarang mulai posesif padanya.


.


.


.


.


.


Bersambung ......


Sori baru bisa up, Terima kasih masih ikuti Cerita Ei😘😘😘


Jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘😘

__ADS_1


__ADS_2