Surga Yang Berbeda

Surga Yang Berbeda
Kata Ikhlas


__ADS_3

Rena dan Angga memutuskan untuk menjemput Celin. Dua hari sudah Celin berada di rumah ibu mertuanya. Keduanya sepakat tidak akan membahas pelaku pelecehan Celin yang sudah diketahui. Angga hanya mengkhawatirkan gangguan emosional Celin yang bisa berpengaruh pada bayinya.


Seolah tak sabar menyambut siapa yang datang, wanita dengan perut buncit sudah berdiri di depan pintu menunggu seseorang yang akan keluar dari mobil.


"Sehat Cel," Rena mencium pipi kiri dan kanan adik madunya. Pelukan hangat juga di berikan Renata pada wanita hamil itu.


"Kak Ren, Kakak baik-baik saja kan? Kemarin kita semua khawatir," seru Celin seraya melepaskan pelukan sapa keduanya.


"Ya Alhamdulillah nggak apa-apa. Maaf aku nggak bisa pergi kemarin, kejebak hujan."


"Nggak apa-apa Kak, kita ngerti kok."


"Ya Allah, sudah sebesar ini perutnya, perasaan baru kemarin." Rena mengelus perut buncit Celin. Ia juga memperhatikan wajah Celin yang begitu berisi, berbeda sekali saat pertama mereka bertemu. Tapi aura bahagia kehamilan wanita itu terpancar di wajahnya.


"Alhamdulillah Kak, lagi aktif-aktifnya bundanya di tendang terus kak," seru Celin dengan antusias menuturkan cerita sambil ikut mengelus perutnya.


Rena membalas senyum tulus. Betapa bahagianya jika bisa diberi kesempatan bisa berasa di posisi sang madu saat ini.


Sedangkan pria yang hanya mematung dibelakang Rena, merasa sangat teduh ketika melihat keakraban keduanya istrinya.


"Ren," sapa wanita paruh bayah yang menghampiri ketiga orang yang berada di ambang pintu.


Rena langsung meraih tangan ibu mertuanya, mencium pipi kanan dan pipi kiri.


"Maafkan Rena Bu, nggak bisa hadir kemarin," seru Rena pada ibu mertuanya merasa sangat tak enak hati.


"Nggak apa-apa. Daripada kamu kenapa-kenapa. Ya udah ayo masuk." Bu Sinta langsung mengiring anak-anak untuk masuk ke dalam rumah.


"Kita makan dulu kamu pasti lapar," Bu Sinta mengandeng Rena menuju meja makan.


"Cel, kamu temani dulu Angga ke kamar angkat barang-barang." Bu Sinta menunjuk anaknya yang bergerak menuju kamar.


Wanita hamil itu mengangguk dan bergegas menyusul suaminya.


Rena sudah duduk bersama dimeja makan bersama kedua mertuanya. Ia melihat banyak menu makanan terhidang yang menggugah selera, sepertinya ibu mertuanya sudah mempersiapkan semuanya.


"Ibu sengaja masak banyak sama Riri, sekalian ngajarin Celin Masak. Tenyata dia nggak terlalu bisa masak seperti kamu dan Riri Ren," ucap Bu Sinta.

__ADS_1


"Rena kira ibu mau bikin acara syukuran lagi," canda Rena.


"Ya udah makan. Biar nanti Angga sama Celin nyusul." Bu Sinta memberikan piring untuk menantunya.


Rena pun menurut mulai mengisi piringannya dengan sayuran dan ikan bakar yang menggoda indera penciumanya.


"Hai Ren," sapa kakak ipar Rena yang kebetulan juga ada di rumah ibunya.


Wanita anggun itu duduk di sebelah Rena.


"Halo Mbak, masih disini?" Rena mencium punggung tangan kakak iparnya.


"Paling sore pulang. Oh ya Ren, kamu udah coba madu yang aku kirim kemarin."


"Udah Mbak," balas rena sambil menyuap makanan.


"Coba ikhtiar itu sama kurma muda Ren. Teman Mbak ada yang berhasil pada dia malah udah hampir 10 tahun," seru Riri.


"Iya Mbak, insyaallah nanti di minum rutin," jawab Rena.


"Alhamdulillah selalu di amalkan Mbak," jawab Rena.


"Sempatkan juga baca surat Maryam minimal sekali dalam lima waktu sholat wajib,.meskipun cuma dua puluh ayat," sambung wanita itu.


"Ya Mbak. Insyaallah nanti Rena amalkan semuanya."


"Tawakal ya Ren, nggak ada doa yang nggak dikabulkan jika seorang hamba sudah meminta dengan penuh kesungguhan. Apalagi doa istri yang berhati besar seperti kamu," seru Riri mengusap lengan adik iparnya sedikit merasa terbalut sedih.


"Amin," jawab Rena tersenyum manis menerima masukan kakak iparnya.


"Mudahan cepat isi Ren, biar rame cucu ibu nanti," sahut wanita paruh baya itu mengelus perut Rena.


"Amin," sahut dua wanita di samping Ibunya bersamaan.


.


.

__ADS_1


.


.


Rena memutuskan untuk beristirahat di kamar terlebih dulu. Ya, ia begitu lama menunggu suaminya yang entah kemana bersama adik madunya.


Kamar suaminya yang dulu terletak di lantai dua. Rumah ibunya kini sudah banyak berubah dari pertama kali Rena masuk ke rumah ini. Rumah di renovasi total dua tahun lalu. Tapi isi kamar suaminya tetaplah tak berubah dari dulu hingga sekarang. Foto pernikahannya pun masih terpajang rapi di tembok. Ia jadi kembali teringat saat awal pertama mereka menikah dan menempati kamar ini.


Rena menjatuhkan tubuhnya ranjang yang rapi, tak ada barang Celin disini. Jadi istri kedua suaminya tidak tidur di kamar ini? Rena tersenyum sekilas, setidaknya mertuanya tak membiarkan Celin merubah kenangannya bersama suaminya di rumah ini.


Ia pun bangun dari ranjang. Wanita itu beranjak menuju jendela mencari udara alami. Tangannya menepikan tirai yang mungkin tak sempat di buka ibu mertuanya pagi. Semilir angin langsung menerpa memenuhi ruangan.


Mata Rena langsung di sungguhkan pemandangan yang menganggau kesegaran matanya. Tepat di atas tempatnya berpijak. Ia melihat dua pasangan manusia di kursi panjang dibawah pohon. Keduanya terlihat begitu bahagia saling melempar tawa sesekali tangan sang pria mengelus sayang kepala wanita hamil itu. Rena membalikan badan tak sanggup menyaksikan semua itu.


Di hinggapi rasa penasaran yang besar, wanita cantik itu kembali melihat sesuatu dari luar jendela. Pemandangan kali ini sungguh lebih menyesakkan dadanya. Ia melihat suaminya mengusap dengan sayang perut adik madunya. Kemudian pria itu menciumi perut besarnya. Wajah berbinar begitu terlihat di wajah Celin.


Rena mencengkeram kuat kusen jendela. Tangannya mengaruk kusen kayu untuk melampiaskan rasa yang menyesakkan ini.


Ia akan terus melihat hal seperti ini? Selamanya? Apalagi setelah anak mereka lahir?


Air mata rena langsung saja luruh. Ya Allah, kenapa begitu sulit meredam cemburu ini! Kenapa begitu sulit hati menerima kata ikhlas yang selalu ia ucapkan didepan semua orang. Wahai Dzat membolak-balik hati, apakah kesabarannya tak akan pernah ada batasan.


.


.


.


.


.


.


Bersambung ....


jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2