Surga Yang Berbeda

Surga Yang Berbeda
Perkebunan


__ADS_3

Meskipun di sekeliling terdapat hamparan pepohonan hijau, tetap saja rasanya keluar dari gedung perkantoran terasa panas. Pohon sawit memang tak banyak menyumbang oksigen seperti halnya pohon lain. Celin mengeryitkan wajah ketika panas mulai menerpa kulit putihnya. Ia menggunakan map yang berisi rancangan penelitiannya untuk melindungi wajahnya dari tabir Surya.


Ia mulai berjalan menyusuri luar perkantoran, sebenarnya ia malas keluar berpanas-panas, karena ia bosan di dalam ruangan dan hanya mengoperasikan ponsel, ia memutuskan berjalan-jalan keluar melihat komplek-komplek perumahan dan beberapa bangunan bertingkat yang terlihat seperti mes pekerja.


Tapi fokusnya tertuju pada masjid yang terdapat di lingkungan kompleks ini, sejenak kenangan masa lalunya mulai bermunculan kembali. Delapan tahun silam ketika ia berlari bermain di area perkebunan di luar kantor. Tak lupa juga ia dan teman-temannya suka memungut brondolan yang berjatuhan untuk mengisi waktu luang usai pulang sekolah.


Meskipun ia adalah anak tokoh masyarakat, ia tak pernah menjaga jarak dengan teman sebaya warga di kampungnya.


Yang paling membekas dalam ingatan Celin ketika adzan ashar berkumandang, bergegas ia mandi pulang menganti pakaian khas bolang menjadi memakai baju muslim untuk ke masjid. Ustadz tampan yang baik hati selalu membuatnya dan teman-temanya semangat untuk menimba ilmu agama.


Senyum terukir di bibir Celin, tapi sangat ia sayangkan masa pubernya tak lama tinggal di area perkebunan. Ia mengikuti sang ibu yang berpisah dari ayahnya. Meskipun setelah ibunya meninggal empat tahun lalu, ia kembali lagi pada ayahnya dan menetap di kaltara. Ia tetap ingin bisa mengulang, dimana tidak ada namanya perpisahan.


"Ternyata kamu disini?" suara yang dikenal Celin membangunkan lamunannya.


"Pak Angga, saya lagi bosan di dalam, Celin berkeliling sekaligus bernostalgia."


"Ya sudah kita di sini saja, sebentar lagi juga masuk waktu ashar," sahut Angga.


Celin mengangguk.


"Pak Angga," tegurnya.

__ADS_1


"Ya,"


"Pak Angga tahu nggak dulu Celin malas mengaji, hanya karena ustadznya Pak Angga Celin jadi semangat mengaji. Jadi motivasi Celin mengaji hanya demi Pak Angga," balas Celin sambil cekikikan.


"Pantas kamu dulu murid perempuan yang paling bandel," ledek Angga.


"Tapi ngangenin kan Pak," candanya.


"Ehm ... Bisa ia bisa enggak," balas Angga dengan melipat tangan ke dada mengoda Celin.


"Pak Angga," rengek Celin manja, seperti yang ia lakukan pada ayahnya. Rasa nyaman kembali menyelimuti diri Celin.


Terdengar kumandangkan suara adzan dari saku Angga. Angga meraih ponsel dari sakunya. Ia pun menghentikan acara berbincang mengenang masa lalu dengan Celin.


Celin pun mengikuti langkah Angga, meksipun ia belum di beri hidayah untuk berhijab, ia tak pernah meninggalkan waktu sholat.


...***************...


Sesuai dengan arahan Angga, Doni menemani Celin berkeliling. Pria itu membantu gadis bermata hazel ini mencari beberapa pengawai yang akan membantunya mendapat informasi untuk penelitiannya. Usai melakukan tugasnya, Doni berhenti di depan bangunan berpetak yang mirip seperti rumah kos di perkotaan.


"Celin, nanti ini akan jadi kamar kamu untuk beberapa hari ke depan," tugas pria dewasa itu.

__ADS_1


"Terimakasih Pak Doni," balas Celin. Ia mulai masuk kedalam kamar sementaranya, ia mengedarkan pandangannya pada ruangan 4 x 5 yang lebih mirip seperti penginapan di bandingkan mes.


"Lebih baik kamu sekarang berisitirahat hari sudah mulai gelap," ucap pria itu.


"Saya mau menemui Pak Angga dulu," ucap Celin.


"Saya sudah disini Celin." Angga sudah berdiri di ambang pintu, ia mendekat ke arah Celin.


"Kamu malam ini istirahat disini, saya akan menginap di hotel yang tak jauh dari sini sebelum ke kota esok," ujar Angga.


"Ya Pak Angga, sampai ketemu lagi di kota," balas Celin.


Angga pun pergi meninggalkan Celin di kamar barunya.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2