Surga Yang Berbeda

Surga Yang Berbeda
Bersamamu


__ADS_3

Rumah Celin masih ramai disibukan dengan berbagai acara keagamaan para keluarga, kolega, tetangga hingga malam beberapa hari ini. Rena pun turut berbagai kegiatan dalam rumah yang terletak di sebelahnya itu.


Tubuhnya yang letih tak bisa ia paksa lagi untuk bergabung dengan kerabatnya yang lain. Rena sudah undur diri sejak tadi bada isya untuk beristirahat.


Rena akhirnya bisa memejamkan matanya meskipun hanya beberapa jam. Tapi ada yang aneh ketika ia melihat ke samping tempat tidurnya. Ranjang sebelahnya kosong. Kemana suaminya?


Rena menyalakan lampu, Wanita itu tak mendapati suaminya ada di dalam kamar. Rena membetulkan ikat rambutnya, memakai kerudung siap pakai dan segera berjalan keluar mencari suaminya. Ia melihat dari celah pintu, ruang kerja suaminya masih diterangi cahaya lampu. Ia menduga suaminya masih ada di dalam ruangan kerja. Rena membuka pelan.


Benar dugaannya, suaminya terlihat merenung di kursi melihat layar iPad.


Kepergian Celin menyisakan duka mendalam untuk seluruh keluarga. Tentu yang paling terluka saat ini adalah suaminya. Itulah sebabnya Rena memilih untuk selalu bersama Angga untuk memberinya dorongan kekuatan.


Tatapan kosong yang bisa Rena lihat dari raut wajah suaminya. Suaminya selalu tampak tegar di depan semua orang. Tapi sebenarnya, hatinya pasti begitu terpukul karena kehilangan istrinya.


Untunglah Rena belum mendengar selentingan tak sedap dari keluarga tentang kepergian Celin.


Rena tak ingin orang yang di sayanginya terus dibayangi rasa bersalah dan penyesalan.

__ADS_1


"Mas," tegur Rena.


Angga menoleh ke arah Rena nampak terkejut. Pria itu melemparkan senyum keterpaksaan, Rena tahu itu hanya kamuflase kesedihannya.


"Adek kenapa bangun?" tanya Angga.


"Rena yang harusnya tanya. Kenapa Mas belum tidur," seru Rena. Matanya melirik layar datar pada benda pipih itu.


"Mas belum ngantuk," jawab Angga sambil menunjuk kursi kosong di sebelahnya.


Rena mengerti dan kini ia duduk di samping suaminya. Ia melihat dengan jelas gambar bayi dalam inkubator yang diberi sinar biru ada di layar iPad suaminya.


Angga tiba-tiba menunduk. "Mas sudah gagal Dek, Mas bukan suami yang baik. Suami yang baik akan selalu menjaga istri dan anaknya. Tapi Mas, justru membiarkan keduanya celaka." Angga merebahkan kepala di lutut. Rena bisa melihat pundak suaminya bergetar hebat.


Rena merengkuh tubuh kokoh itu. "Mas udah Mas. Semuanya sudah ada garis takdirnya masing-masing. Mas nggak boleh salahkan diri sendri." Rena menarik tubuh suaminya dalam pelukannya.


Pundak Rena basah, ia membiarkan pria itu menangis melepaskan luka dalam hatinya.

__ADS_1


"Mas yang kuat, kalau Mas seperti ini bagaimana dengan anak kita Mas. Dia masih butuh dukungan kita berdua untuk berjuang juga." Rena pun juga ikut menangis bersama suaminya. Ada nyawa lain yang harus dipikirkan yang masih berjuang untuk bertahan hidup.


Rena tak ingin berlarut dalam kesedihan meskipun masih ada luka yang masih basah. Sekarang Rena harus menjadi sosok yang kuat, ia bertekad mengantikan peran seorang ibu bagi bayi mungil tak berdosa yang tak akan pernah mendapatkan kasih sayang dari ibu kandungnya.


"Sekarang kita istirahat ya Mas, besok kita harus pagi-pagi ke rumah sakit lihat keadaan bayinya."


"Makasih Dek bersama Mas sampai saat ini," Angga mengeratkan pelukannya. Bersyukur ia memiliki Rena yang selalu ada bersamanya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung .....


__ADS_2