Surga Yang Berbeda

Surga Yang Berbeda
Siapa?


__ADS_3

"Mas, nanti langsung jemput Kak Rena?" tanya Celin ditengah waktu sarapannya.


"Ya, tadinya Rena mau mampir ke rumah ibu! Tapi Mas larang. Mas langsung suruh dia pulang."


Celine mengangguk, tangannya kini memutar-mutar sendok seolah enggan untuk meneruskan sarapannya.


"Ayo Makan," ucap Angga. Ia menyodorkan sendok didepan istrinya yang terlihat tak berselera makan. Celin menyambar sendok pemberian suaminya dengan malas.


"Makan yang banyak ya Bunda, Ayah nggak mau bayi ayah kelaparan di dalam," ucap Angga mengelus perut istrinya. Tentu saja Celin mengembangkan senyum merasa seperti istri sesungguhnya kali ini.


Celin pun mengambil sendok juga menyuapi suaminya. "Ayah juga makan Ya."


Pagi yang begitu membahagia untuk Celin. Keduanya saling menyuapi hingga isi didalam piring tandas.


"Mas berangkat dulu." Angga berdiri meraih tasnya.


"Mas, nanti malam?" Celin mencoba memastikan Angga masih bermalam bersamanya.


"Tunggu Mas dirumah?"


Celin tersenyum mereka mengiyakan.


.


.


.


.


Angga melambaikan tangan ke arah wanita yang baru keluar dari pintu kedatangan bandara. Senyum manis langsung mengembang di bibir wanita itu melihat suaminya. Segera digandeng tangan istri yang sangat dirindukannya itu. Kedua berjalan menuju mobil yang terparkir tak jauh dari pintu kedatangan.


Rena menyamankan posisinya, karena tubuhnya terasa mulai sedikit lelah. Acaranya begitu padat dari pagi hingga sore hari, sedangkan di hari yang sama, ia harus langsung kembali ke kaltara.


"Gimana toko barunya semuanya beres?" tanya Angga ketika keduanya menikmati perjalanan pulang.


"Alhamdulillah Mas, semua beres, toko langsung di serbu, warga antusias. Mereka bisa beli langsung roti dari rumah produksi yang baru disana," jawab Rena.


"Alhamdulillah, seminar Adek gimana?" tanya Angga lagi.


"Alhamdulillah semuanya berjalan lancar juga." Rena mengingat lagi saat berada di acara seminar. Secara kebetulan ia bertemu lagi dengan teman lamanya yang tak dijumpai lima tahu lalu.


"Dek, kok ngelamun?"

__ADS_1


"Enggak kok," balas Rena menanggapi suaminya. "Rena enggak sengaja ketemu teman lama zaman kuliah waktu seminar, perusahaan tempatnya bekerja sponsor untuk acara Rena," balas Rena, tentu saja ia tak bisa berbohong di depan suaminya.


"Oh Ya, siapa? Cewek atau cowok?" tanya Angga dengan nada tinggi.


"Cowok, tapi bukan hal penting kok Mas, kita cuma bertegur sapa aja," balas Rena.


Angga percaya dengan istrinya, ia tak menanggapi lagi masalah teman istrinya itu. Ia lebih memilih kembali fokus mengemudi.


Panjang umur, kata orang tua dulu. Orang yang baru saja dibicarakan dengan suaminya mengirimnya pesan.


Assalamu'alaikum. Renata ini no aku. Kamu bisa save, siapa tahu suatu saat kita saling membutuhkan bantuan. Farhan


^^^Ya, aku save balik.^^^


Tak lama, Rena langsung mendapat balasan.


Makasih ya. Enggak nyangka aku ketemu lagi sama kamu. Kamu beda sekarang, kaget aja, aku kira tadi ketemu bidadari. Canda!


Rena langsung melotot, ia refleks melihat ke arah Angga. Tentu ia tak akan dengan sembrono membalas pesan yang tidak ada kaitannya dengan bisnis. Ia tak mau nantinya hanya akan menjadikan fitnah untuk dirinya sendiri. Berbalas pesan dengan seseorang yang bukan mahramnya.


"Dari siapa? Kayak kaget gitu? Ada masalah?" tanya Angga menyadari raut yang berbeda dari istrinya dari kaca spion depan.


"Bukan siapa-siapa Mas, biasa customer kakap, yang biasa pesan jumlah banyak, pasti langsung berurusan sama Rena." Rena memilih menyimpan ponselnya dalam tas.


Tangan Angga meraih tangan istrinya. Diciumnya dengan lembut punggung tangan istrinya. "Baru dua hari berjauhan Mas udah kengen sama Adek."


Tentu saja Rena merasakan hal yang sama. Tapi kerinduannya kali ini terasa begitu menyiksa. Rasa cemburu yang seolah tak pernah henti menyambangi pikirkan kala memikirkan kebersamaan suaminya dengan istrinya yang lain.


"Makasih De, udah temani Mas sampai detik ini." Angga kembali mencium tangan istrinya. Ia mengerti tak mudah jadi seorang Renata. Istrinya itu mungkin bisa tampil tegar di hadapannya, tapi ia tak tutup mata jika sering memperhatikan istrinya yang berubah lebih sensitif akhir-akhir ini.


Tanpa terasa laju mobil yang menembus malam sudah membawa keduanya di depan rumah.


Rena menjatuhkan tubuhnya sejenak di sofa kamar untuk mengistirahatkan tubuhnya. Rena membuka matanya saat kepala suaminya sudah ada di pangkuannya. Tangannya mengelus lembut rambut suaminya. Lama rasanya tak merasakan kehangatan dengan tenang bersama suaminya akhir-akhir ini.


"Mas, badan Mas kok anget," seru Rena kaget ketika tangannya menyentuh dahi suaminya.


"Masa, gak apa-apa Dek. Paling masuk angin biasa."


"Pasti Mas kurang tidur. Habis bermalam sebelah makanya sampai masuk angin!" Lagi-lagi Rena menerawang kebersamaan suaminya dengan madunya.


"Dek, mulai kan," protes Angga.


"Rena buatkan Mas teh jahe dulu," Rena mengerakkan kakinya agar Angga bangun dari pangkuannya.

__ADS_1


Angga memilih berdasar di headboard kasur sambil menunggu istrinya yang pergi ke dapur. Dering ponsel Rena di atas nakas membuat perhatian Angga teralih. Dilihatnya nama dari balik layar. Baru Angga akan mengangkat telepon. Ponsel istrinya itu mati kehabisan daya.


"Teh jahe hangat," suara Rena yang mengagetkan Angga. Rena naik ke atas tempat tidur untuk duduk berhadapan dengan suaminya. Ia menyerahkan cangkir yang masih menyembulkan asap itu.


"Minum Mas mumpung masih hangat."


Angga menurut, tapi Rena memperhatikan ada raut wajah yang berbeda dari suaminya.


"Tadi ada yang telpon, namanya Farhan. Belum sempat Mas angkat, hape Ade keburu mati."


"Oh, nggak masalah Mas."


"Siapa Farhan?" Angga menatap tajam ke arah istrinya.


"Teman yang Rena ceritakan itu, mungkin dia lagi butuh roti untuk besok," jawab Rena mulai menyadari perubahan nada suara suaminya.


Tentu saja Angga semakin kesal, kenapa teman istrinya menghubunginya malam hari. Teman yang baru di temuinya tadi siang.


"Apa nggak bisa telpon besok pagi! Ini sudah lewat jam tujuh bukan jam Kantor lagi."


"Mungkin mendesak Mas, kita nggak boleh seudzon," seru Rena.


Angga tak mau lagi berkomentar. Dengan alasan apapun menghubungi malam hari untuk memesan roti rasanya tak masuk akal.


Tangan Rena melingkar diperut suaminya. Ia meletakkan dagunya di pundak suaminya. "Kenapa sih Mas, meributkan hal seperti ini."


"Mas nggak suka ada laki-laki yang menghubungi Adek. Apapun itu tujuannya."


"Ya Mas Rena ngerti, tapi ini murni bisnis! Udah Mas jangan dibahas lagi, sekarang habiskan Tehnya biar seger lagi."


Angga menurut, ia kembali meneguk isi cangkirnya hingga kosong.


"Mas, bukannya malam ini Mas masih bermalam di tempat Celin?" seru Rena baru menyadari hal itu. Tentu saja ia tak ingin berlaku curang dengan keadaan yang ada. Meskipun ia masih sangat ingin Angga bersamanya.


"Mas mau istirahat disini sebentar, nanti bangunkan Mas jam sepuluh." Kini giliran Angga yang menarik Rena untuk ikut merebahkan diri bersamanya.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung .....


__ADS_2