
Rena menenteng plastik yang berisi dua cangkir kopi. Wanita berhijab biru itu berjalan menuju lorong rumah sakit untuk kembali ke kamar rawat inap Celin. Ketika ia akan membuka pegangan pintu, jantung Rena langsung terasa ngilu. Genggaman tangannya pada pegangan pintu melemah. Ia berusaha menarik nafas dalam-dalam saat merasakan guncangan hebat dari dadanya.
Ia melihat dari kaca pintu kamar rawat inap, suaminya mendekap erat tubuh Celin, jari tangannya digunakan untuk membelai rambut coklat gadis itu. Sedangkan tangan kanan suaminya mengelus lembut perut Celin sambil menuturkan kata-kata yang seperti indah karena Rena tak bisa mendengarnya.
Rena mematung! Sungguh, ia tak sanggup melihat pemandangan yang mampu memancing emosionalnya. Ia berusaha meredam rasa panas dalam dadanya. Rena mengurungkan niatnya kembali ke kamar. Kali ini ia harus bisa membuka mata, Celin lebih membutuhkan keberadaan suaminya.
Lagi-lagi butiran bening luruh dipipinya. Sampai kapan? Kata itu yang memenuhi kepala Rena.
Rena memilih duduk disofa yang berada di lobby rumah sakit yang sepi, ia butuh menenangkan diri agar dirinya tak dikuasai cemburu yang bisa menimbulkan amarahnya. Ia tak mau menjadi orang yang gampang marah karena rasa cemburunya. Ia akan menenangkan diri sambil menunggu kumandang adzan subuh yang tak akan lama lagi.
Ponsel Rena bergetar, dilihatnya sang suami yang menghubunginya.
"Ya Mas," tentu saja Rena harus menjawab tak ingin suaminya cemas.
"Kok lama Dek,"
"Rena di lobby sekalian nunggu adzan subuh," seru Rena.
"Mas susul kesana ya."
Baru akan menjawab, Angga sudah menutup sambungan teleponnya. Buru-buru Rena menyeka air matanya sebelum suaminya datang.
Benar saja, hanya beberapa menit setelah menelfon suaminya sudah berada dihadapannya. Rena langsung membuang pandangan ke segala arah agar suaminya tak menyadari dirinya usia menangis.
Angga menyipitkan matanya melihat istrinya mengusap hidungnya yang memerah. "Dek, enggak apa-apa kan," ucap Angga. Tentu saja Angga tak bisa di kelabui kalau mata istrinya itu merah. Dia menolehkah wajah istrinya ke arahnya.
"Adek nangis kan," usut Angga. Rena hanya diam tak memberi jawaban.
"Tadi adek sudah dari kamar?" tanya Angga lagi. Rena mengangguk, tentu saja ia tak bisa bohong dengan suaminya.
Angga menarik tubuh istrinya dalam dekapannya. Untungnya kondisi lobby sedang sepi. Tangis Renata malah kembali pecah, ia tak bisa menahannya.
Angga menghela nafasnya berat, ia mengelus lengan istrinya mencoba menenangkan. Lagi - lagi istrinya itu bersedih karena dirinya. Tentu saja Angga tahu kalau Rena mungkin saja melihat dirinya dan Celin bermesraan. Ia sudah berusaha menjaga perasaan Renata dengan tak memperlihatkan kemesraan dengan Celin, tetap saja ia kecolongan. Bagaimana ia bisa memberitahu keinginan Celin yang meminta waktu Renata, meskipun itu hanya setengah hari.
__ADS_1
"Maaf kan Mas," seru Angga.
"Mungkin Rena harus lebih bisa mengontrol emosi ketika Mas bersama Celin," ucap Rena terisak.
"Percayalah sama Mas De, nggak akan ada yang mengeser posisi Adek hati Mas, Mas sudah menjatuhkan hati ini sejatuh jatuhnya sama Adek. Adek jangan pernah merasa tersaingi oleh siapapun."
Rena hanya mengangguk, menenggelamkan kepalanya di dada suaminya mencoba untuk memahami keadaan yang ada.
.
.
.
.
Rena menunggu pesanan makanan di kantin rumah sakit. Ia sendiri yang sengaja mengajukan diri untuk membeli sarapan untuk suaminya. Tentu bukan hanya itu maksudnya, tangan Celin yang masih lemah membuatnya susah untuk makan sendiri. Rena cukup paham untuk menjaga kesehatan jantungnya, ia memilih untuk keluar membeli sarapan daripada harus melihat suaminya dengan romantis menyuapi istri keduanya.
Sudah membawa sekantong plastik bubur ayam, ia pun keluar kantin menuju kembali kamar rawat inap Celin. Tapi dari kejauhan, Rena melihat wanita yang tak asing baginya terlihat tergopoh-gopoh.
"Ibu," Rena langsung meraih punggung tangan ibu mertuanya untuk dicium. Ia masih terkejut dengan kedatangan ibu mertuanya.
"Kamu gimana sih Ren, ada kejadian begini ini ibu nggak dikasih tahu! Apa susahnya telpon sebentar," ucap ibu mertua nampak kesal.
Rena memang sepakat dengan Angga tak memberi tahu keluarganya dan keluarga Celin. Keduanya tak ingin mereka jadi cemas dan merepotkan keluarga selama masalah ini bisa diselesaikan sendiri dan diurus sendiri dengan baik.
"Rena sama Mas Angga belum sempat hubungi siapa-siapa Bu," ucap Rena mencoba berkilah.
"Jadi tadi malam yang kabari ibu itu Marni, jantung ibu rasanya mau copot tahu Celin jatuh dari tangga. Makanya ibu sama bapakmu minta cepat-cepat Riri booking pesawat paling pagi untuk kesini." Wanita paruh baya itu mengelus dadanya.
"Ya udah Bu, sekarang ayo kita ke kamar Celin." Rena mengandeng lengan ibu mertuanya.
Tangan yang mulai keriput untuk menghalangi lengan Rena. "Tunggu Nak, ibu mau ngomong sebentar sama kamu."
__ADS_1
Rena pun menurut, menuntun ibu mertuanya untuk duduk di kursi tunggu di dekat tempatnya berpijak.
"Ada apa Bu?" tanya Rena.
"Nak, kalau Celin sudah keluar dari rumah sakit. Kamu mau ya, untuk sementara tinggal sama ibu dua minggu saja. Lagipula, kamu juga mau buka toko lagi kan di Balikpapan daripada kamu nanti repot harus bolak-balik."
Rena masih berusaha memahami perkataan ini mertuanya. Kenapa ini? Apa maksud ibunya mertua ini? Apa hanya itu tujuannya.
"Ren, jadi orang hamil enggak mudah Nak, apalagi kondisinya seperti Celin yang nggak bisa setiap waktu bersama suaminya. Ibu hanya minta dua minggu saja biarkan Masmu fokus mengurus Celin. Biar hati ibu hamil itu senang untuk kesehatan bayinya Nak, apalagi setelah kejadian ini. Jangan sampai kejadian ini terulang lagi."
Hati Rena rasanya seperti hancur berkeping-keping mendengar penuturan ini mertuanya. Ibu mertuanya memang selalu menegurnya jika ia melakukan kesalahan. Tapi kali ini terasa berbeda, ibunya terlihat seperti marah tapi mencoba menyampaikannya dengan halus.
"Ya Ren, ikut sama ibu ya nanti. Ibu ngerti kamu memang nggak terbiasa jauh dari Masmu. Tapi
cuma sebentar aja Nak, demi anak Masmu juga," ulang Bu Sinta.
Mulut Rena rasanya keluh tak sanggup untuk mengucapkan apa-apa. Air mata yang sempat ia tahan akhirnya luruh.
Apakah kini ibu mertua yang dulu sangat menyayanginya membelot ke wanita yang baru dikenal yang sedang mengandung cucunya. Apakah ia hanya peduli pada perasaan wanita yang sedang hamil? Bagaimana dengan perasaannya yang mengikhlaskan diri untuk dimadu? Apakah pengorbanannya itu tak berarti.
.
.
.
.
.
.
Bersambung .......
__ADS_1
Udah Ei panjangin ya dear๐
Jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote ๐