
Langit malam memang tak selamanya mendung, tapi bintang yang akan selalu berkelip memancarkan cahayanya. Rena memilih memandangi langit dari jendela kamar hotelnya. Menyaksikan gemerlap malam kota Samarinda dari ketinggian.
Sungguh suasana yang penuh hiruk pikuk penuh dengan keramaian. Hal yang begitu terbalik dengan suasana hatinya. Semewah apapun tempatnya sekarang berpijak, jika suasana hatinya sedang berantakan, tetaplah ia tak akan bisa menikmati.
Nasib seseorang memang bisa berubah. Tapi takdir seseorang siapa yang akan tahu. Menjalaninya dengan label 'ikhlas' adalah cara yang terbaik.
Matanya masih enggan untuk terpejam, meskipun raganya mulia terasa lelah. Ia belum bisa mengistirahatkan tubuhnya yang letih sebelum mendengar kabar dari dari suaminya.
Rena memang mulai menyadari, sedikit banyak ada yang berubah dari suaminya. Memang seperti itulah kenyataannya, tidak akan pernah ada yang sama lagi sekarang
Kehamilan Celin semakin besar saat ini. Mungkin saat mereka bersama, perhatian Angga hanya akan berpusat padanya.
Hati Rena kembali nyeri, tak kalah mengingat kebersamaan suaminya bersama sang madu. Apakah ia harus jadi orang yang tak peduli untuk mengikhlaskan tanpa rasa sakit?
Dering ponsel membuyarkan lamunannya. Berapa kali ia sudah menelpon. Sekarang Angga baru meneleponnya kembali. Jika biasanya, baru mendapat pesan darinya saja, suaminya langsung membalas meskipun dalam kondisi apapun.
"Kenapa Rena nelpon berkali-kali nggak diangkat," keluh Rena kesal. Harusnya ia tak perlu menanyakan itu, tentu saja ia tahu sendiri jawabannya.
"Maaf Dek, sekali lagi Mas minta maaf. Tadi Mas taruh hape di atas nakas. Mungkin waktu Mas keluar Adek lagi telepon."
"Rena sebel sama Mas!" sentak Rena.
__ADS_1
"Maaf Dek Maaf, lain kali Mas akan selalu bawa hape Mas. Tolong Adek jangan ngambek, sekarang Adek lagi jauh, Mas nggak bisa terima hukuman dari Adek."
Rena tahu suaminya hanya mencoba menghibur mengembalikan moodnya. "Ya! Lain kali angkat telepon dari Rena."
Apalagi yang bisa dilakukan Rena selain menyadari keadaan yang berbeda saat ini. Tentu saja ia tak boleh egois menuntut Angga selalu ada untuknya karena keadaan rumah tangganya yang berbeda. Ia pun sadar, kondisi emosional akhir-akhir ini sering tak terkontrol.
"Adek udah lama sampai?" tanya Angga.
"Udah dari dua jam yang lalu," balas Rena ketus.
"Nggak istirahat? Besok pagi-pagi harus tampil fit di depan banyak orang."'
"Maaf Sayang. Maaf Dek. Mas juga manusia yang tak luput dari lupa. Nggak ada yang berubah Mas tetap milik Renata Aisyahrani bidadari surgaku."
"Ya sudah Mas, Rena mau tidur! Sekarang Rena baru bisa tidur."
"Ya Dek, mimpi indah ya, jangan terlalu banyak pikiran."
"Ya Mas, assalamu'alaikum."
Rena menjatuhkan tubuhnya di ranjang.
__ADS_1
Dulu ia memanglah satu-satunya ratu dalam hati suaminya. Ia pun juga bermimpi hingga usia rentah akan selalu bersama Angga. Bersama-sama mengarungi bahtera rumah tangga sakinah untuk menuju surgaNya. Tapi sadarkah sekarang, semua itu telah pupus?
Sekarang, Rena diberi jalan yang lain menuju surganya yang berbeda. Surga yang Rena yakini tak pernah diinginkan wanita manapun, termasuk dirinya.
Bantal yang ia gunakan untuk bersandar kini basah. Rena tak pernah menyangka dirinya akan seperti ini. Karena cintanya yang begitu besar untuk suaminya, tentu ia akan mengorbankan segalanya. Jika memang itu yang terbaik untuk semuanya, mana bisa ia menolak jika seperti itulah jalan surganya.
Yang bisa ia pinta dalam doanya sekarang, hanyalah memohon untuk selalu diberikan kekuatan dan hati yang lapang.
Buru-buru ia menyeka air matanya. Renata bukanlah wanita yang rapuh. Kata penyemangat yang selalu ia ukir di kepalanya. Hidup harus tetap berjalan kan, meskipun keadaan sulit seperti saat ini.
Rena perlahan-lahan mencoba mengembalikan mood baiknya yang sempat buyar. Bagaimana ia bisa menginspirasi orang lain kalau dirinya saja terlihat seperti orang yang butuh diinspirasi. Mengistirahatkan kepala sejenak, membiarkan semuanya larut dalam mimpi adalah hal terbaik untuk meredakan semuanya.
.
.
.
.
Bersambung ......
__ADS_1