Surga Yang Berbeda

Surga Yang Berbeda
Terselip Sedih


__ADS_3

"Tadi katanya kurang sehat, kok malah main laptop," seru Angga. Ia mengagetkan Celin yang asik mengoperasikan laptop di atas kasur.


"Mas, udah pulang," Celin langsung meraih punggung tangan suaminya. Diikuti Angga mencium keningnya.


Hari ini jadwal suaminya bermalam di rumahnya. Sungguh semakin hari ia merasa semakin tak bisa jauh dari suaminya. Sikap dan perhatian Angga padanya semakin menambah subur benih - benih cinta yang tumbuh. Seiring berjalannya waktu pernikahan, bukan lagi kekaguman yang dirasakan Celin pada Angga, tapi cinta seorang istri untuk suaminya.


Meski ia sadar bukan hanya dia yang mendapat curahan kasih sayang dari suaminya.


"Bukannya istirahat malah sibuk sama laptop." Angga mencubit hidung bangir istrinya itu.


"Lagi kangen tugas akhir Mas, kapan kira-kira Aku bisa lanjutkan lagi penelitian Mas," ucap Celin.


"Kalau memang ada kesempatan, nanti Mas akan temani kamu ke perkebunan. Nanti Mas juga akan bantu kamu biar cepat selesai," seru Angga.


"Makasih ya Mas," ucap Celin. Angga mengacak rambut istrinya itu.


Tentu saja Angga tidak mau rasa trauma istrinya kembali muncul. Sekarang sudah menjadi tugasnya menjaga dan memperhatikan Celin istrinya. Ia harus mencari alasan yang tepat untuk mencegah hal-hal yang bisa membuat istrinya terpancing lagi traumanya salah satunya kembali ke perkebunan.


"Iya sudah. Sekarang Mas mandi dulu, gerah." Angga mulai melepaskan kancing kemejanya.


Entah kenapa Celin ingin sekali memeluk suaminya. Direngkuhnya tubuh belakang Angga hingga menempel padanya. Kenapa begitu tenang ketika memeluk tubuh kekar ini. Merasakan aroma parfum yang sudah bercampur keringat dari tubuh suaminya justru membuatnya tenang. Baru kali ini selama menikah ia memberanikan diri memeluk suaminya terlebih dulu. Selama ini ia masih merasa canggung jika harus memulai bermesraan terlebih dulu meskipun hanya sekedar memeluk.


"Kenapa," tanya Angga meraba jari-jari halus yang melingkar di perutnya.


"Biarkan begini dulu Mas, kangen," ucap Celin.


"Tumben! Mas nggak jadi mandi dong," seru Angga. Kenapa ini, tumben istri keduanya ini bersikap manja padanya.


"Iya iya." Celin pun melepaskan tangannya. Membiarkan suaminya melakukan keperluannya.


.

__ADS_1


.


.


.


Mata Angga terbangun tepat mendengar kumandang adzan subuh. Ia meraba sisi ranjangnya bermaksud membangunkan istrinya. Berkali-kali ia meraba sisi ranjangnya tak juga menemukan raga istrinya.


Mungkin istrinya sedang ke kamar mandi! Baru akan menengok istrinya di kamar mandi, ia sudah mendengar suara orang yang muntah-muntah dari dalam.


Angga panik membuka pintu kamar mandi. "Yang, kamu kenapa?"


"Enggak apa-apa Mas dari kemarin tiap bangun pagi terus muntah." Celin membasuh wajahnyaanya di wastafel.


"Ya udah kamu duduk dulu," Angga memapah istrinya yang pucat itu menuju tepi ranjangnya.


"Mas ambilkan air hangat dulu." Buru-buru Angga menuju dispenser diujung ruangan untuk mengambil air hangat.


"Enggak apa-apa kok Mas," seru Celin.


"Kamu pucat gini kok di bilang nggak apa-apa sih Yang," ucap Angga mengusap pipi Celin yang halus itu.


Celin meraba alat saku piyamanya. Ia memberanikan diri mengeluarkan benda kecil dari saku piyamanya.


"Mas," Celin menyerahkan alat yang seperti termometer itu.


"Aku coba iseng cek, karena udah telat datang bulan satu minggu," ucap Celin.


Tentu bagi Angga itu bukan benda yang asing, benda itu sudah sangat familiar dan sangat banyak dari berbagai bentuk dan merk di rumah besarnya. Benda itu juga digunakan Renata istrinya ketika telat datang bulan. Sama halnya dengan suami lainnya, ia juga menunggu nasib istrinya bersama benda itu.


Tapi kali ini pemandangan yang lain ada di dalam benda yang digenggamnya. Biasanya hanya terdapat satu garis merah, kali ini ia melihat dua garis merah dalam benda yang baru saja diberikan istri keduanya.

__ADS_1


Rasa senang yang menyelimuti Angga kenapa dibarengi rasa sedih. Kenapa bukan dari Renata ia harus menunggu saat ini, andai hal ini terjadi pada Renata istri pertamanya, pasti ia akan lebih bahagia lagi. Begitu pula dengan Rena.


Astagfirullahaladzim, kenapa ia lagi-lagi seudzon atas kehendak yang maha kuasa. Mungkin ini salah satu yang jalan di gariskan Allah untuk memberinya keturunan. Dan kemudian membuka jalan lain untuk Renata bisa merasakan yang terjadi pada istri keduanya.


"Garis dua? Kamu hamil Yang," tanya Angga mencoba memastikan.


"Iya Mas, Aku juga kaget kenapa secepat ini," seru Celin meraba perutnya.


Angga langsung memeluk erat istrinya, "Alhamdulillah Sayang, Mas bahagia sekali. Kita bertiga akan jadi orang tua," ucap Angga.


Celin membalas pelukan suaminya, ia juga merasa begitu bahagia bisa memberikan anak untuk suaminya. Setidaknya ada yang bisa ia persembahkan untuk membalas budi pada suaminya.


Meskipun terbesit rasa tak enak ketika Angga menyebut bertiga akan jadi orang tua, ia tahu selama empat tahun pernikahan suaminya dan istri pertamanya belum di karuniai anak.


.


.


.


.


.


Bersambung...


Untuk part selanjutnya Ei sarankan Reader tercinta menyiapkan aspirin untuk mengurangi efek pusing, kesal dan jantung berdebar-debar.....😁


Salam cinta selalu author kentang, eh author cantik...


Einaz 😘

__ADS_1


__ADS_2