Surga Yang Berbeda

Surga Yang Berbeda
Akrab


__ADS_3

Rena berjalan terlebih dulu di tengah kerumunan orang yang juga berusaha keluar setelah mendengar kajian dari ustadz.


Celin berhasil membujuk sendiri Rena untuk pergi mengikuti kajian bersama. Rena yang kebetulan masih dingin dengan suaminya memilih mengikuti saran ibu mertuanya untuk mengchage diri mencari ketenangan.


Rena menoleh ke belakang tak melihat Celin mengekor di belakangnya. Ia mencari kemana sang madu yang tadi berada di belakangnya.


Wanita yang di tunggu Rena melambaikan tangan. Ya ampun! Rena lupa kalau orang yang bersamanya sedang hamil. Rena bisa melihat Celin berusaha menghindari kerumunan sambil memegangi perutnya yang besar. Rena menyandar di salah satu pilar masjid menunggu Celin datang.


"Maaf Kak, aku jalannya lambat," seru wanita hamil itu dengan tergopoh.


"Aku yang harus minta maaf Cel jalan kecepatan. Pasti susah ya bawa perut besar itu menerobos banyak orang," ucap Rena merasa iba melihat Celin nampak ngos-ngosan.


Wanita hamil dengan hijab voal coklat itu tersenyum. "Ya lumayan Kak Ren, pinggang aku sering sakit selama hamil tua ini, makanya jalannya nggak bisa cepat," seru Celin meringis memegangi pinggangnya.


"Ya udah sekarang pelan-pelan turun tangganya." Rena mengandeng tangan Celin untuk menuruni anak tangga masjid.


Hati Celin menghangat, ia merasa beruntung mempunyai kakak madu sebaik Renata. Keduanya bahkan tak menghiraukan sindiran jamaah yang mengomentari kekompakan istri muda dan istri tua sepanjang jalan menuruni tangga.


Keduanya berjalan menuju mobil yang sudah di sambut oleh Tono. Rena duduk di kursi belakang bersama sang madu, sedangkan ibu mertuanya memilih duduk di kursi depan dekat kemudi.


"Ibu udah enakan?" tanya Rena ketika sudah di dalam mobil. Ibu mertuanya keluar terlebih dulu karena mengeluh sakit pinggang terlalu lama duduk di lantai.

__ADS_1


"Alhamdulillah udah nggak sakit," jawab ibu Sinta.


"Ren, kamu sendiri saja ya yang temani Celin ke rumah sakit, ibu mau pulang duluan. Biar nanti Tono yang jemput kalian lagi," seru Bu Sinta memegangi punggungnya.


"Ya Bu, ibu istirahat di rumah saja kalau begitu, biar Rena yang temani Celin," seru Rena.


"Makasih Kak Ren," balas Celin.


.


.


.


.


"Tema kajian bagus ya Kak Ren," Celin mencoba membuka pembicaraan setelah duduk kembali usai melakukan periksa tensi darah.


Keduanya kini menunggu antrian untuk masuk ke dokter kandungan.


"Ya, tentang sifat tamak dan boros. Kalau menurut aku sih pada dasarnya pada setiap diri manusia pasti ada sifat seperti itu," tanggapan Rena yang kini memasukan ponselnya ke dalam tas.

__ADS_1


"Tapi kita harus ingat hidup boros malah merupakan perbuatan yang dibenci Allah dan Rasulullah. Mengenai larangan hidup boros atau berlebih - lebihan, Rasulullah pernah bersabda dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah seperti kata ustadz tadi," sambung Rena.


"Ya betul Kak Ren. Hidup boros sikap yang biasa dimiliki oleh mereka orang - orang yang memiliki nikmat rezeki kekayaan yang berlebih kan kak," ujar Celin mencoba bertanya.


"Menurut aku sih, hidup boros tidak hanya pada konteks rezeki kekayaan saja. Dalam perbuatan apapun ketika kita melakukan sesuatu yang berlebih - lebihan juga dinamakan boros. Dan perbuatan ini erat kaitannya dengan sikap tamak dan rakus yang merupakan salah satu sifat dari setan. Oleh karena itu, Allah melarang keras pada hamba-Nya agar menjauhi perbuatan ini," sambung Rena.


"Benar kata Mas Angga, Celin harus banyak belajar dari Kak Ren," seru Celin.


"Kalau kamu rajin datang ke kajian seperti tadi insyaallah akan paham ilmu kamu akan bertambah dengan sendirinya," ucap Rena. Terlepas dengan masalahnya dengan suaminya, ia mendadak kagum dengan Celin yang terlihat bersungguh-sungguh ingin memperdalam ilmu.


"Ya Kak," wanita bermata hazel itu mengangguk. Untuk pertama kali ia bisa seakrab ini dengan kakak madunya. Apakah ini akan terjadi sampai nanti? Tanpa harus merasa sifat cemburu satu dengan yang lain.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung ......


__ADS_2