
Angga sama sekali tak pernah bercita-cita mempunyai istri lebih dari satu. Bahkan untuk bermimpi menikahi dua perempuan saja tak pernah terpikir olehnya.
Selama ini ia hanya mencintai dua wanita dalam hidupnya. Pertama wanita yang melahirkannya dan yang kedua wanita yang membuatnya berarti lahir ke dunia yaitu istrinya Renata. Dua wanita inilah yang menjadi prioritas hidup Angga selama ini.
Bahkan sampai detik ini pun, dua wanita itulah yang masih ia cintai meskipun sudah ada Celin wanita yang sekarang menjadi istrinya.
Jika ia ditanya apa ia menyayangi Celin. Tentu saja ia menyayangi Celin, wanita yang teramat cantik itu adalah istrinya. Sudah kewajiban dan tanggung jawabnya memberi perlindungan dan kasih sayang pada istrinya.
Apakah ia mencintainya! Tentu tidak semudah itu, cintanya masih untuk Renata.
Menikahi Celin bukanlah keinginannya. Keinginannya adalah menolong gadis yang hampir menjadi korban pelecehan. Siapa yang akan menyangka perbuat baiknya justru membawanya pada fitnah yang mengantarkan Celin dalam kisah hidupnya dengan Renata.
Namun beginilah kenyataan yang ada, semuanya menjadi begitu rumit. Kisah hidupnya bersama Renata menjadi berantakan. Tapi siapa yang bisa menolak jika takdir membawa Celin dalam kisah hidupnya. Perjalanan hidup seseorang hanya tuhan yang menentukan. Sebagai manusia, tentu hanya bisa menjalankan dengan tegar skenario hidup yang diberikan RabbNya.
Angga pun juga dilanda pergulatan batin yang hebat ketika tahu Celin hamil. Disisi lain ia juga mendambakan buah hati, tapi disisi lain ia pasti ikut sedih jika Renata merasa bersedih karena bukan dia yang mengandung buah cintanya. Tentu saja ia tak bisa menjadikan itu alasan untuk tak peduli pada Celin.
Jika RabbNya memilih rahim Celin yang titipkan buah hatinya, tidak ada alasan untuknya tak bahagia atas itu.
Hidupnya menjadi semakin rumit tak kalah harus bisa menjaga perasaan dua wanita yang begitu penting dalam hidupnya saat ini.
Ia seperti aktor yang harus memerankan kisahnya dengan epik tanpa celah. Disisi lain ia harus selalu bersikap manis untuk menjaga hati istrinya tetap bahagia dan merasa tak terabaikan meskipun perannya adalah istri kedua. Sedangkan di satu sisi ia harus mempersiapkan segala penjelasan untuk meyakinkan istrinya yang lain agar merasa tak ada yang berubah.
Demi Tuhan! Ia Lelah! Ia sangat lelah dan hampir menyerah! Angga tidak tahu lagi siapa dirinya! Bulan - bulan terakhir ia merasa kehilangan dirinya.
Ia sudah berusaha menjadi penengah untuk kedua istrinya. Sekeras apapun ia berbuat adil, ia sadar hanyalah manusia biasa yang tak akan mampu untuk itu. Menjaga perasaan kedua istrinya adalah hal begitu berat selama ia hidup.
Kedua istrinya berubah jadi wanita yang sangat sensitif. Tentu saja kepalanya mau meledak setiap kali memikirkannya.
__ADS_1
"Ayo kita turun," ajak Angga ketika mobilnya sudah berhenti di tempat parkir rumah sakit.
Renata turun dengan tergesa. Digenggamnya jemari tangan sang istri untuk melangkah bersama menyusuri lobby rumah sakit yang masih gelap itu.
"Pak, Bu, disini." Tono sang penjaga rumah yang sudah menunggu di lobby menuntun kedua majikannya masuk ke dalam lift.
"Pak, tadinya saya mau masuk rumah untuk nyalakan genset waktu mati lampu, tapi ketika saya masuk sudah lihat mbak Celin berteriak dan tergelatak di lantai." Cerita Tono.
Angga hanya mengangguk tak ingin menanggapi. Penjelasan Tono hanya membuat jantungnya semakin pias.
Rena hanya bisa mengelus lengan suaminya. Ia mencoba menenangkan suaminya yang dirudung cemas dan rasa bersalah itu.
Keduanya kini sudah berada di ruang VVIP rumah sakit tempat Celin dirawat. Jantung Angga seperti diremas melihat wanita yang berbaring dengan banyak tempelan perban dikulitnya tangannya itu.
"Ya Allah Celin," suara Renata dari balik pintu yang mengalihkan pandangan Celin dan Mbak Marni.
"Kak Ren," balas wanita itu lirih.
Angga memberi ruang untuk Rena menemui istrinya. Rena langsung berhambur memeluk wanita yang terbaring lemah itu. Celin pun membalas memeluk kakak madunya.
"Bagaimana keadaan kamu, kita berdua sangat panik." Rena melepaskan pelukannya mengenggam tangan lebam wanita itu.
"Nggak apa-apa Kak, hanya luka-luka nggak ada yang perlu di kuatirkan," jawab Celin mencoba mengukir senyum.
"Nggak apa-apa bagaimana Cel, badan kamu memar dan luka banyak begini." Rena juga begidik ngeri melihat banyak tempelan perban di tubuh adik madunya. "Gimana bayinya Cel," sambung Rena.
"Alhamdulillah, anak kita baik-baik saja Kak." Celin mengelus perutnya. Disusul Rena melakukan hal yang sama.
__ADS_1
Angga yang berdiri di belakang Rena merasa sedikit lega mendengar penuturan istrinya.
Angga meraih kursi dan menyodorkan untuk Rena agar duduk disebelah Celin. Ia memberi ruang agar kedua istrinya bisa mengobrol dengan leluasa.
"Alhamdulillah pendarahan sudah berhenti, tapi untuk sementara dokter suruh bedrest dulu di rumah sakit," tutur Celine.
"Alhamdulillah," seru Angga dan Rena bersamaan.
Angga memilih duduk di sofa terlebih dulu, membiarkan sejenak kedua istrinya itu saling berbicara sebagai sesama wanita.
Diperhatikan kedua istrinya, keduanya nampak akur tanpa beban seperti halnya kakak beradik yang saling memberikan support satu dengan yang lain. Betapa teduhnya hati Angga menyaksikan itu, seandainya saja ia bisa melihat pemandangan seperti ini setiap hari.
Bolehkah ia berharap suatu hari nanti, jika ia pulang dari kerja disambut bahagia oleh keduanya istrinya, lalu kemudian berkumpul dan bercengkrama dengan anak-anak mereka. Ya Allah, betapa bahagia ia jika bisa mewujudkan keluarga yang harmonis seperti harapannya meskipun keadaan berbeda.
Beginilah takdir tak terduga yang sekarang harus ia jalani. Hidup di antara dua wanita yang sama-sama berarti untuknya. Wanita yang begitu dicintainya dan satu lagi wanita yang akan menjadi ibu dari anaknya.
Ia hanya bisa terus berdoa dan berusaha dengan keras agar rumah tangga yang di gariskan padanya ini bisa berhasil.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung ......
jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘😘😘