
Rena hanya diam sepanjang perjalanan. Ia sebenarnya tak ingin memikirkan suaminya. Tapi semakin ingin tak mengingat Angga, semakin pula rasa sakit membayangkan mungkin saat suaminya sudah bermesraan dengan Celin. Rena sangat tahu suaminya tipe pria yang lembut pada wanita dengan perbuatan tutur katanya.
Ya Allah! Kenapa berbagi yang seharusnya milik kita itu seberat ini. Kenapa di mulutku selalu bilang ikhlas tapi tidak dengan hatiku yang meronta ingin menjerit. Batin Rena
"Ren," ibu Sinta membangunkan lamunannya.
"Ya Bu," jawab Rena gelagapan.
"Tumben kamu jadi diam, mungkin awal-awalnya memang susah tapi ibu yakin kamu bakal terbiasa," ucap Bu Sinta merangkul menantunya.
"Ya Bu, Rena baik aja kok," balas Rena berpura bersikap biasa.
"Syukur kalau begitu, kamu memang istri yang bijak," puji Bu Sinta menyentuh dagu Rena. Rena hanya membalas tersenyum pada orang yang sudah seperti ibu kandungnya itu.
"Mudahan Celin bisa cepat hamil meskipun pernikahan mereka enggak pernah terpikirkan," ucap ibu Sinta yang langsung menusuk dada Rena, ucapan santai tapi bagai belati yang di goreskan dihatinya.
"Ibu kasihan sama Angga, udah lebih kepala tiga tapi belum juga punya anak," lanjut Bu Sinta.
Rena hanya tersenyum paksa. Berdosakah ia tidak mengaminkan doa seorang ibu. Sungguh lidah Rena seolah kaku mengamini harapan ibu mertuanya meskipun itu hal yang baik.
"Ibu juga selalu doakan kamu Ren, semoga segera hamil." Bu Sinta mengelus perut menantunya itu.
"Amin Bu," jawab Rena kali ini refleks.
Selama ini ibu mertuanya tak pernah menuntut perihal anak pada dirinya ataupun Angga. Ibu mertuanya selalu mendukung apapun yang di lakukan dirinya dan suaminya. Tapi kali ini sungguh, ibu mertuanya seperti menaruh harapan besar pada Celin. Bolehkah ia merasa iri tak lagi jadi menantu yang di banggakan mertuanya.
Tanpa terasa, mobil sudah memasuki halaman rumah Rena. Dilihatnya dari balik kaca mobil depan, ada mobil mewah berwarna putih berhenti di depan rumahnya.
Bersamaan dengan itu ada wanita seumuran dirinya mengendong anak laki-laki tampan yang berumur sekitar tiga tahunan.
Rena langsung turun menghampiri wanita itu, dipeluknya sahabatnya kegirangan seolah menemukan tempat yang paling tepat untuknya bersandar.
"Gimana, gimana ceritanya kepala aku sampai puyeng mikirinnya," kata wanita muda itu.
"Sebentar, aku kangen banget sama anak ganteng. Kita masuk ke dalam aja." Rena langsung meraih anak sahabat itu dalam gendongannya.
Seolah sudah kenal dengan wanita lain selain ibunya, anak kecil itu begitu menurut ketika tantenya lansung mengendongnya. Mengendong anak laki-laki mengemas itu membuat Rena terhibur, membuat pikiran teralih dari masalah suaminya yang membuatnya sesak.
Rumah Rena mendadak rame karena keluarga saudara iparnya yang merupakan orang tua sahabatnya kini memenuhi rumahnya.
"Maaf Bu kita telat, pesawat kita delay karena di sana hujan," seru Riri kakak ipar Renata
"Lah, jet pribadi milik istri Bos kita kemana?" tanya Rena yang datang membawa minuman untuk tamunya.
"Iya Maaf ya, pesawat pribadi lagi di pakai mertua jadi kita naik pesawat komersil," balas Abel sahabat Rena.
__ADS_1
Rena pun kembali ke dapur untuk mengambil cemilan lagi.
"Gak apa kita telat yang penting acara Angga berjalan lancar, nggak nyangka Angga umur 32 udah punya istri dua, Papa umur segitu malah baru nikah," seru Ervan suami kakak iparnya yang sekaligus ayah dari Abel sahabatnya.
"Coba aja Pa kalo berani nikah lagi, kalo nggak mama sunat lagi masa depan Papa," seru Riri refleks.
"Sama Ma, kalau nih Bang Davin coba nikah lagi, aku samurai sekalian masa depannya," balas Abel.
"Galak banget dua wanita Papa, coba contoh Rena santai saja dia,"
"Papa nantangin," Riri langsung berubah galak.
"Ampun Ma," jawab Ervan menirukan ketakutan seperti anak anaknya.
Reflek kedua wanita itu tertawa. Rena yang datang membuat tawa Abel dan ibunya redup. Rena mendengar apa yang diucapkan kedua wanita di depannya. ia mengerti kakak dan iparnya hanya bermaksud bercanda. Tapi justru itu malah membuat hatinya semakin sempit, apakah hanya dirinya wanita yang dengan ikhlas membiarkan suaminya menikah lagi?
"Gimana tadi, kayaknya ada lucu," Rena mencoba bergabung menutupi kegundahannya agar keluarga tidak canggung membahas poligami.
"Enggak apa-apa, sekarang kita lapar, kita maka boleh?" jawab Abel mengalihkan topik sambil menyomot kue di atas piring yang di bawah Rena.
Suasana tenang dengan obrolan ringan pun tercipta tanpa membahas pernikahan Angga dan Celin.
"Udah malam, kalian tidur besok ngobrol lagi," Ucap Bu Sinta.
Semua yang ada kursi bangkit mengikuti arahan Bu Sinta untuk ke kamar tamu. Tersisa Riri yang membantu membersihkan piring-piring di meja.
"Ya Mbak,"
Riri langsung memeluk Rena. Ia tak bisa membayangkan bagaimana Rasanya jadi Rena yang harus berbagi suami dengan wanita lain. I
"Yang sabar, kita nggak akan pernah tahu, apa yang akan terjadi pada rumah tangga kita untuk kedepannya. Untuk saat ini kamu dan Angga sedang di uji," ucap Riri.
Rena melepaskan pelukannya, "Iya Mbak, Rena iklhas," jawabnya mencoba tetap terlihat kuat di depan
keluarga suaminya.
.
.
.
.
Dek, jangan tidur malam-malam ya.
__ADS_1
Pesan yang membuat lamunan beralih meraih ponsel. Kenapa membaca pesan dari Angga malah membuat hati yang terluka seperti di taburi garam. Malam indah yang selalu ia lewati bersama, senyum dan tubuh kekar Angga yang menjadi tempat paling nyaman untuk bersandar dikamar ini tidak hanya untuknya lagi. Ia harus rela berbagi dengan madunya, ia harus ikhlas melihat tangan suami yang hanya mengandengnya kini di genggam juga istri suaminya.
Air mata yang sudah ia tahan sejak tadi akhirnya luluh juga, mulut selalu bilang Ikhlas dengan senyum kepalsuan. Tapi setelah sah menyaksikan suaminya menikah lagi hatinya sungguh terkoyak, sungguh Rena yakin, pada dasarnya tidak ada satupun istri yang rela di madu, berbagi suami dengan wanita lain untuk alasan apapun.
Salahkah keputusannya ini?
Ia sungguh tak punya pilihan lain.
Sungguh malam ini dadanya begitu sesak, bagaimana dirinya bisa tidur, ia terus memegangi dadanya membayangkan suaminya yang malam ini memadu kasih dengan wanita selain dirinya.
^^^Ya Mas, ini udah mau tidur^^^
Balas Rena agar suaminya tidak mencemaskannya.
Ceklek, suara pintu terbuka membuat Rena terpelonjak. Buru-buru ia seka air matanya yang merembes.
"Ren kamu sudah tidur," suara pelan. Abel sudah terbiasa masuk ke dalam kamar Rena tanpa mengetuk jika tidak ada suaminya.
"Belum," jawabnya serak.
"Aku udah duga," Abel menghampiri Rena. Ia melihat sahabatnya yang begitu berbeda. Abel sangat yakin Rena tak sekuat itu.
"Sebenernya mulut aku ikhlas tapi disini," Rena menunjuk dadanya. Rena bisa menahan jika didepan keluarga yang lain. Tapi tidak pada Abel sahabatnya dari kecil. Ia menjatuhkan tubuhnya di pundak sahabatnya. Ia biarkan air matanya tumpah untuk kali ini.
"Aku tuh udah duga. Sabar, mau gimana lagi, kamu juga sih sok-sok kasih ijin Paman Angga nikah lagi," Abel mencoba menenangkan Rena mengelus punggungnya.
"Aku enggak punya pilihan lain, ceritanya panjang, aku pikir semudah itu tapi ..." Rena tak sanggup lagi meneruskan kalimatnya.
"Aku mau ijin dulu sama Bang Davi Malam ini, aku sama Arzen temani kamu tidur disini."
Rena mengangguk, mungkin dengan ini ia bisa mengurangi pikiran tentang suaminya.
.
.
.
.
.
.
Bersambung.....
__ADS_1
Kali ini partnya Ei buat panjang 🤗, oksigen mana oksigen