Surga Yang Berbeda

Surga Yang Berbeda
Penolong?


__ADS_3

Langit sepertinya tak bersahabat dengannya. Rena sudah panik sejak subuh tadi karena hujan sepertinya tak mau berhenti. Berkali-kali ia mondar-mandir ke jendela balkon tokonya, hasilnya tetap sama! Hujan deras tak berhenti sejak 30 menit lalu.


Rena bermalam di salah satu cabang tokonya yang memang terdapat kamar pribadi di lantai dua. Harapannya sirna pergi setelah sholat subuh bersamaan dengan menyongsong terbitnya sang Fajar. Semalam kota ini juga sempat di guyur hujan.


Rencana Rena untuk berkendara pagi-pagi buta sepertinya akan mundur dari prediksi. Ketika waktu subuh, hujan deras beserta angin kencang terjadi diluar jendela rukonya.


Sudah hampir satu jam lebih Rena menunggu berkah dari langit itu berhenti. Tapi curah hujan malah semakin deras bahkan tokonya yang penuh ketika waktu sarapan seperti ini, ikut terkena imbas sepi karena tak banyak pengunjung yang datang.


Rena kembali ke kamarnya di lantai dua. Ia membaca pesan dari beberapa temannya yang mengabarkan beberapa ruas jalan di kota Samarinda mulai tergenang air. Beginilah wilayah yang tak kenal musim, ketika kemarin langit begitu cerah, siapa yang sangka esoknya akan terjadi hujan lebat seperti ini. Itu artinya ia harus menunggu beberapa jam hingga air surut. Waktunya sungguh sangat terlambat.


Angga sudah menghubungi Rena agar tak perlu datang jika memang cuaca kurang kondusif. Suaminya juga mengabarkan di tempatnya sekarang hujan juga tak kunjung reda dari semalaman.


Berbanding terbalik dengan suaminya yang mengkhawatirkan dirinya karena hujan lebat di kota ini. Ibu mertua Rena justru berpesan agar menyempatkan hadir sesibuk apapun dirinya.


Rena jadi dilema, kondisi cuaca yang masih terbalut awan kelam. Tapi disisi lain ibu mertuanya mengharapakan ia datang dengan dalih agar ikut di doakan juga supaya cepat ketularan hamil seperti sang madu.


Rena mengambil kunci mobil dengan yakin, jam besar di dinding sudah menunjukan hampir pukul sepuluh. Itu artinya waktunya sangat terbatas sekali jika ia tak ada halangan lagi di jalan.


Ia membetulkan tatanan kerudungnya sebentar. Melihat bayangan dirinya dicermin lengkap mengenakan seragam keluarga yang sudah disiapkan. Rena hanya mengantisipasi ketika datang terlambat, ia tak perlu lagi repot menganti baju.


Ia memberi kabar pada suaminya sudah berada di dalam mobil untuk segera menuju ke rumah mertuanya. Tak lama ponselnya bergetar.


^^^Kalau memang masih hujan nggak usah pergi. Ibu pasti ngerti, atau tunggu saja Leo yang jemput.^^^


Kelamaan Mas, insyaallah nggak akan apa-apa. Ini hujannya sudah lumayan reda.


Rena bersikukuh, ia tak ibu mertuanya kecewa kalau dirinya tidak hadir.


^^^De, kalau memang hujan deras lagi jangan lanjutkan.^^^


ya Mas, Rena berangkat dulu keburu siang.


Rena mulai memacu kendaraan roda empat milik tokonya itu. Tentu ia tak bisa menggunakan kecepatan tinggi di jalan raya karena pandangannya sangat terbatas serta ia harus menerobos jalanan yang mulai tergenang air.

__ADS_1


Hujan lebat kembali mengguyur kota ini, curah hujan yang di sapu wipper mobilnya terlihat mengalir deras.


Rena hanya bisa berdoa agar diberi keselamatan sampai tujuan ketika ia mulai memasuki pintu tol. Ia menempelkan kartu dan palang pintu membuka jalannya ke kota tujuan.


Belum sampai dua kilo meter Rena memasuki area tol. Terdengar suara aneh dari belakang yang ia yakini itu berasal dari mobilnya.


"Innalilahi," seru Rena berusaha mengendalikan laju mobilnya yang mulai goyang. Beruntung ia masih membawa mobil dengan kecepatan di bawah rata-rata karena di luar mobil kondisi jalanan basah masih diguyur hujan.


"Ada apa lagi ini? Ya Allah." Rena segera menepikan mobilnya di bahu jalan. Lampu sen darurat segera ia nyalakan.


Rena mulai panik, jantungnya berdebar kencang. Kalau ia tidak turun dari mobil sudah pasti ia akan basah. Tapi jika ia tetap didalam mobil tidak akan tahu apa yang terjadi dengan mobilnya.


Dengan memakai kain penutup kepala seadanya, Rena keluar dari mobil dan melihat ban belakang mobilnya.


"Ya Allah!" desisnya semakin panik melihat ban mobilnya yang kempes. Ini bukan mobil pribadi Rena yang biasanya ia pakai. Wanita itu tak tahu ada dongkrak atau ban serep di mobil ini. Kalaupun ada ia juga tak bisa menggantikan ban sendiri, itu biasanya menjadi tugas Leo atau Tono.


Rena memutuskan kembali masuk ke dalam mobil karena curah hujan yang tak berhenti dan bajunya yang mulia basah.


Ia meraih ponselnya dan bermaksud menghubungi suaminya.


Rena membersihkan kaca pintu samping yang berembun. Bagaimana ini? Bahkan tidak ada satu kendaraan pun yang mencoba berhenti untuk bertanya apalagi mau membantu. Ya, kondisi jalanan hujan bergini mungkin pengendara lain sibuk dengan keselamatan masing-masing.


Ya Allah, kenapa hari ini dapat cobaan berturut-turut.


Rena menggosok tangan panik tanpa putus mulutnya melafalkan doa. Bahkan untuk menghubungi mobil derek pun ia tak bisa.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Andai jalanan tidak hujan pasti ia sudah nekat berdiri di samping mobilnya. memberhentikan kendaraan yang melintas untuk meminta bantuan. Sudah hampir setengah jam ia berdiam diri di dalam mobil. Rena rasannya ingin menangis, ia hanya terus berdoa agar segera mendapat bantuan.


Rena membulatkan mata ketika mobil Lexus hitam memasang lampu sen kiri beberapa meter di depannya. Tak lama mobil itu masuk ke bahu jalan berjalan mundur mendekat ke arah mobilnya.


Sang Maha Kuasa sepertinya mengabulkan langsung doanya. Apa mungkin orang itu akan menolongnya? Mobil mewah itu mau sudi berhenti saat kondisi hujan begini?


Rena melihat dari kaca mobilnya, dua orang berbadan tegap berpakaian hitam tanpa pelindung hujan turun dari mobil. Keduanya berjalan mendekat ke arah mobil Rena tanpa peduli hujan yang mengguyur. Rena menghembuskan nafas panik! Mereka akan menolong atau malah berbuat jahat dengan memanfaatkan keadaan yang ada.


"Kenapa Mbak?" tanya salah satu pria itu sambil mengetuk kaca pintu mobilnya.


Rena mencoba berpikir positif, tangan kanannya memegang kunci pas yang ia ambil di laci untuk berjaga-jaga. ia pun menurunkan kaca mobilnya. "Bannya kempes," seru Rena.


Salah satu pria itu melihat ke arah belakang mobil.


"Kedua ban belakangnya pecah!" teriak pria satunya.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung ......

__ADS_1


Sori-sori Ei baru bisa up 🙏🙏🙏🙏


__ADS_2