Surga Yang Berbeda

Surga Yang Berbeda
Acara Keluarga


__ADS_3

Rena merapikan bedaknya sebelum turun dari mobil menyusul suaminya keluar. Malam ini Rena sedang menghadiri acara anniversary pernikahan kakak iparnya yang di adakan di salah satu hotel bintang empat di kota ini.


Acara memang hanya di hadiri keluarga besar kedua kakak iparnya. Sehingga ballroom yang digunakan untuk acara tak terlalu besar, tapi tetap saja tidak meninggalkan kesan anggun nan mewah dari dekorasi yang terlihat dari pintu masuk. Ia tak heran! Putri mereka, sahabat sekaligus Bos suaminya adalah milyader dan juga menantu keluarga kaya raya di kota ini. Tentu untuk membuat acara hari jadi pernikahan yang mengesankan untuk kedua orangtuanya bukanlah hal sulit sebagai tanda syukur.


Rena kembali mengambil nafas dalam, sudah beberapa bulan terakhir selama suaminya menikah lagi, ia memang menghindari acara berkumpul dengan keluarga suaminya. Bahkan ini yang pertama kalinya ia menghadiri acara kumpul keluarga setelah suaminya mempunyai dua istri. Dan lagi, ini acara orang penting dalam hidupnya.


Dengan menguatkan mentalnya yang sudah setebal baja, ia memutuskan untuk hadir.


Sebenarnya, ia tak mau merusak ikhtiarnya selama ini dengan mendengarkan selentingan tak sedap dari mulut keluarganya. Saat ini, tentu bahan yang paling hangat dan asyik untuk dijadikan bahan gunjingan adalah rumah tangganya. Mudahan ini hanya pikiran buruknya saja. Semoga keluarganya tidak ada yang menjadikan rumah tangganya objek untuk ghibah. Tetap khusnudzon adalah sikap paling tepat.


"Bu Ren! Sini!" sahabatnya sudah melambaikan tangan dari barisan meja depan. Rena tentu membalas dengan bahagia karena sudah beberapa bulan tak bertemu sahabatnya.


Rena melihat ke arah suaminya, tentu saja suaminya langsung memberi ijin pada Rena untuk melepas gandengan menghampiri sahabatnya. Angga memilih membaur dengan keluarganya yang lain sepeninggalan istrinya.


"Kangen!" seru Rena memeluk wanita berparas oriental itu.


"Lebay kan! udah duduk," canda Abelia. Ia melepaskan pelukannya membuka kursi untuk sahabatnya


"Anak ganteng mana?" tanya Rena mencari-cari balita mungil sahabatnya. Abel menunjuk anak 3 tahun yang di gendong Papanya di beberapa meja dari tempatnya.


"Tambah gemesin saja anak Pak Adiguna. Pengen culik bawa pulang ke rumah," oceh Rena saat melihat balita sahabatnya yang lucu.


"Bentar lagi juga punya dari si bule," seru Abel langsung menutup mulutnya merasa keceplosan.


"Nggak apa-apa Abelong. Nggak usah lebay sama aku. Kamu tuh yang paling tahu manis pahitnya hidupku," balas Rena. Ia mengerti sahabatnya berusaha menjaga perasaan dengan tak membahas Celin.


"Sorry," balasnya dengan wajah memelas. "Ngomong-ngomong si bule nggak ikut kan?"


"Nggak! Dia masih harus bedrest."


"Syukurlah! kalau dia ikut yang ada bukan Mama sama Papa yang jadi pusat perhatian. Tapi kalian bertiga," balas Abel.

__ADS_1


Rena hanya tersenyum renyah. "Nah itu masalah. Berati ada hikmah musibah Celin jatuh dari tangga."


"Ya Allah, berdosa kita Bu Ren menyukuri orang yang kena musibah," oceh Abel.


"Canda Abelong," balas Rena.


"Udah nanti aja bahas masalah si bule. Daripada makan hati, mending makan daging." Abel berdiri menyeret sahabatnya ke meja arah meja prasmanan.


Belum sempat memilih menu makan malam yang akan di santap. Ada tangan yang menyambar lengannya.


"Ternyata kamu disini Ren." Ibu mertua langsung mengandeng lengan Rena.


"Rena juga baru sampai Bu," balas Rena.


"Ayo ikut ibu nemui keluarga ibu, mereka nanyakan kamu," seru wanita paruh baya itu.


"Ih Omah! Kita mau makan dulu," seru Abel menghalangi lengan Bu Sinta.


"Kamu temani mereka dulu. Ibu mau ketemu Riri sebentar," bisik Bu Sinta menepuk pundak Rena berjalan melangkah pergi.


"Rena, lama ya nggak ketemu. Jarang datang sih ke arisan sekarang," seru wanita yang sebaya dengan Rena.


Rena tahu itu sepupu suaminya.


"Ya, lagi banyak kegiatan," jawab Rena duduk bergabung dengan kerumunan para wanita itu.


"Sekarang udah banyak toko ya Ren," seru sepupunya yang lain.


"Alhamdulillah Kak, rejeki istri Solehah," canda Rena.


"Keluarga Bu Sinta rejekinya Bagus ya. Anak-anaknya pada sukses semua. Riri sudah hidup tenang jadi menantu keluarga kaya. Si Angga juga kecipratan sekarang jabatannya bagus." Seru ibu-ibu disitu.

__ADS_1


"Ya betul, bahagia ya lihat Mbak Riri. keluarganya harmonis. Punya suami ganteng, Alim, kaya, nggak neko-neko lagi," seru salah satu sepupu suaminya.


"Setuju Bu, biasanya suami kalau sudah sukses suka lupa diri, pengennya nikah lagi. Cari yang lebih bening," oceh sepupu Angga yang langsung membuat mata Rena menyorot tajam. Untungnya ia tidak mau terbawa emosi merasa tersindir karena tahu sepupu suaminya yang bernama Rosa itu memang cablak.


"Ya begitu, makanya kita yang nikah baru hitungan tahun harus pintar-pintar rawat suami. Nanti kita minta tips sama mbak Riri, gimana rumah tangganya harmonis terus sampai pernikahan belasan tahun tanpa kita pernah dengar ada huru-hara," balas sepupu suaminya yang lain bernama Desi lebih santai.


"Kalau menurut aku sih, keharmonisan rumah tangga di dapat karena memahami pasangan masing-masing Mbak, saling pengertian, nggak mudah berprasangka buruk. Komukasi baik, insyaallah rumah tangga bisa harmonis." Rena ikut mengemukakan pendapatnya.


"Ya Ren, tapi aku masih waras kalau harus nyuruh Suamiku nikah lagi," jawab spontan Desi.


Serentak semuanya menjadi diam.


"Mungkin maksud Desi, pelakor sekarang pintar cari cela. Jangan sampai suami kita tergoda," sela Rosa membela ucapan Desi.


"Maaf, maaf. Kita ngumpul kesana gimana? Sepertinya mau bagi-bagi souvernir! Lumayan dompet Herman loh," sela Abel tak ingin omongan para wanita dimeja ini semakin kesana-kemari yang berujung menyindir sahabatnya.


Seketika semua orang melihat ke arah nyonya Wijaya yang membagikan paperbag pada keluarga yang datang.


"Ayo!" seketika meja kosong hanya tersisa Rena dan Abel disitu.


Abel mengelus lengan Rena, "Sabar!"


"Udah kebal," balas Rena.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung ......


__ADS_2