
Angga merengkuh tubuh istrinya sebelum keluar dari mobil. Dipeluknya erat seolah tak ingin melepaskan tubuh wanita itu. Rena pun ikut menenggelamkan kepalanya di dada suaminya.
"Udah Mas, manja banget sih," seru Rena mendorong pelan tubuh suaminya.
"Dek, jangan lama-lama ya, pokoknya setelah acara pembukaan cabang sama acara seminar selesai langsung balik lagi," ujar Angga.
"Ih Mas, sekarang Rena kalau mau pergi ke luar kota enggak kepikiran lagi, udah ada yang boboin Mas 'kan," jawab Rena ketus.
"Dek, bisa nggak! Gak usah bahas orang lain kalau kita lagi berdua gini."
"Iya, iya! Rena kira Mas udah keenakan sama yang muda," sindir Rena, tentu saja ia masih sakit hati mendengar bagaimana sang madu menceritakan masalah ranjangnya dengan suaminya.
"Dek mulai kan," keluh Angga.
"Iya, iya! Sekarang kita turun." Rena bersiap membuka pintu mobil.
Tapi belum sempat membuka pintu, Angga sudah mengunci pintu mobilnya.
"Mas," protes Rena.
Tanpa memperdulikan ocehan istrinya, Angga langsung mendaratkan bibirnya ke bibir Renata. Dengan serakah ia merasakan semua rasa bibir manis istrinya. Diraihnya tengkuk leher istrinya agar panggutan nya semakin dalam. Renatalah yang selalu bisa membuatnya bisa terbuai seperti ini.
Angga melepaskan panggutannya, ia memberi kesempatan pada istrinya untuk meraup oksigen banyak-banyak.
Angga memajukan lagi wajahnya mendekati wajah istrinya. Tapi, tangan Rena langsung sigap menutup mulut suaminya itu.
"Mas kalau terus begini, Rena bisa ketinggalan pesawat dan make up Rena jadi sia-sia," protes Rena.
"Segera balik ya De."
"Iya Mas, pergi aja belum. Sudah kayak mau Rena tinggal minggat aja Mas," seru Rena mengecup kembali bibir suaminya singkat.
"Huss! Bisa gila Mas kalau Adek tinggal minggat beneran." Angga mencubit hidung Rena memberi hukuman.
"Idih gombal! Udah Mas, buka pintunya Sebentar lagi pesawatnya boarding."
Angga pun membuka kunci pintu mobil. Keduanya pun turun dari mobil menuju pintu keberangkatan bandara.
__ADS_1
Digandengnya tangan istrinya sedangkan tangan yang lain menyeret koper milik istrinya.
"Dua hari langsung balik, kalau nggak balik! Mas susul kesana," titah Angga lagi sebelum Rena masuk ke ruang tunggu.
"Ya Mas, jangan mengkerut gitu mukanya nanti cepat tua," ejek Rena pada suaminya yang masih posesif padanya seperti dulu.
"Langsung hubungi Mas kalau sudah sampai."
"Iya! Mas juga, hape selalu on kalau Rena hubungi," ancam Rena.
"Pasti istriku Sayang," Angga mencubit pipi Rena.
Rena meraih punggung tangan suaminya. Disusul Angga mengecup kening istrinya. Untuk pertama kalinya Renata merasa begitu berat berjauhan dari suaminya. Segala pikirkan kecemasan sudah merasuki dirinya bahkan sebelum ia pergi. Meskipun berjauhan sekalipun, bayangan keromantisan suaminya dan sang madu malah semakin memenuhi isi kepalanya.
Semoga saja ia bisa teralih sejenak dari rasa perihnya dengan kegiatannya yang padat nanti.
.
.
.
.
"Yang, udah ketemu dokter?" tanya Angga.
"Udah Mas, Mas udah ngantar Kak Rena?" tanya Celin dengan nada menyindir.
"Maaf Mas telat, tadi Mas udah buru-buru," seru Angga jadi merasa bersalah.
"Enggak apa-apa Mas, ayo kita pulang" jawab Celin berdiri sambil membenarkan letak tas selempannya. Angga pun menurut menuntun istri keduanya ke tempat parkir mobil.
"Mas, malam ini aku pengen nginap di rumah papi?" seru Celin ketika di dalam mobil.
"Ya udah malam ini kita menginap disana," seru Angga. Meksipun ia tak terlalu suka menginap di rumah mertuanya. Demi memperbaiki mood istrinya yang terlihat kesal, tentu saja ia harus menuruti keinginannya.
"Makasih Mas," jawab Celin melihat Angga sekilas kemudian mengalihkan lagi pandangan ke arah jendela.
__ADS_1
"Ibu hamil kalau cemberut terus nanti gampang jerawatan loh!" seru Angga ngawur hanya ingin menghibur istrinya yang kembali diam tanpa kata.
Celin langsung memegang pipinya. "Mas ngarang kan," respon Celin.
"Makanya senyum dong. Habisnya dari tadi diam terus, hampir saja Mas mau alih profesi jadi driver taxi online."
"Apa sih Mas," Celin akhirnya menyunggingkan senyum menghargai usaha suaminya. Meskipun hatinya masih sedikit kesal karena tadi tak ditemani suaminya saat konsultasi ke dokter.
"Maaf tadi Mas telat. Gimana kata dokter tadi? Bunda sama anak ayah baik - baik saja." Angga mengelus perut istrinya yang mulai sedikit buncit itu sambil menyetir.
"Alhamdulillah bayinya sehat, tapi dokter menyarankan libur dulu untuk aktifitas suami istri satu Minggu kedepan. Takutnya ngeflek lagi dan enggak baik untuk kesehatan bayinya."
Angga hanya mengangguk pelan. "Masa dia bilang gitu, Dokter Tessa teman Mas loh Yang, dia sendiri yang bilang enggak ada masalah kalau mau begitu asal pelan."
"Itu masalahnya, Mas susah kalau disuruh pelan."
"Ya. Mas khilaf," jawab Angga.
"Awas nanti Mas khilaf lagi," ancam Celin.
"Kalau sudah di ujung mana bisa pelan Yang."
"Tuh kan, Mas yang susah di kasih tahu," protes Celin. Wajahnya jadi memerah karena menahan malu.
Angga hanya membalas dengan cengiran, diliriknya sang istri sekilas. Setidaknya istrinya sudah bisa tersenyum sekarang.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung ......